Gagal (1)

“Kak, kakak pernah gak mengalami kegagalan? bisa dishare kak bagaimana kakak mengatasi perasaan tersebut?”

Sebuah pertanyaan yang muncul dari seorang adik kecil, ketika saya mengisi acara sharing motivasi untuk adik-adik Yayasan Bina ABG di daerah Condet. Sebenarnya ini bukan pertanyaan pertama yang saya dapatkan, ketika diundang di acara BEM, LDK, training motivasi untuk anak SMA, di Bedah Kampus, atau dimanapun, selalu ini adalah pertanyaan langganan yang selalu muncul. Dan, dengan ringan, selalu jawaban default saya untuk pertanyaan ini adalah

“Setiap manusia pasti pernah gagal, termasuk saya juga…yang penting bagaimana agar kita tidak menyerah. bla..bla..bla.”

Lalu diakhiri dengan salah satu quotes favorit saya,

“Everything will be okay in the end, if its not okay its not yet the end!” (Patrick Star)

Percayalah semua akan berakhir happy ending kok dibelakang, ketika belum berhasil maka percayalah itu bukan akhir! Maka coba lagi..coba lagi..dan coba lagi!” Dan alhamdulillah selama ini cukup ampuh membuat para penonton terpana dan tersenyum dengan penuh semangat. Alhamdulillah. :)

Akhir-akhir ini saya kembali merenungi pertanyaan ini. Kapannya terakhir kali saya mengalami rasa gagal yang begitu sakit?

Gagal lulus dengan predikat cumlaude, ikut lomba tapi belum juara atau pernah dapet IP dibawah tiga atau mungkin gagal meng-handle dengan baik suatu acara. Sisanya mungkin, gagal masuk SMP 3 Surabaya (salah satu SMP favorit di Surabaya) tapi masuk SMP 4 yang juga ga kalah bagusnya, gagal jadi Mahasiswa Berprestasi Utama Fasilkom, tapi masih jadi Runner-up Mapres, tidak sampai juara PIMNAS tapi menjadi finalis di PIMNAS untuk dua kategori yang berbeda, atau beberapa kegagalan-kegagalan yang menurut saya hingga saat ini tidak terlalu spektakuler atau tidak sampai membuat nangis dan ‘berguling-guling’ sampe tujuh hari tujuh malam. :) Merasakan kesedihan yang begitu mendalam seperti yang dialami orang yang tidak lulus SPMB (sekarang namanya SNMPTN) misalnya, dan lain sebagainya. Hampir tidak ada kegagalan yang rasanya sakit sekali. Semua hampir selalu berakhir dengan happy ending..

Omong-omong tentang SPMB, sebenarnya saya punya sebuah cerita menarik yang mungkin ini jadi salah satu cerita ‘kegagalan singkat’ saya dulu saat SPMB.

Kalau untuk temen-temen Seksi Kerohanian Islam atau SKI SMA 5 Surabaya (kalo di Depok lebih populer dengan istilah Rohis), kami punya kebiasaan unik untuk mengetahui pengumuman SPMB kami. Jadi hari H pengumuman kami berkumpul bareng di sebuah tempat untuk mabit, lalu nanti nomer SPMB kita dan jurusan dimana kita mendaftar disetorkan ke mas-mas alumni dan mereka lah yang akan menyampaikannya ke kita.

Jam 10 malam-an kira-kira, ketika kami semua anak-anak kelas 3 SMA sudah pada berkumpul, sebuah kertas diedarkan untuk menuliskan nomor SPMB masing-masing. Pilihan SPMB saya saat itu ada dua yakni Fasilkom UI dan Teknik Elektro ITS. Sebenarnya juga ada juga sejarahnya dalam pemilihan dua jurusan ini, tapi karena takut kepanjangan, saya persingkat saja, intinya saya itu milih Fasilkom UI super ngasal dan cuma iseng aja. :D Pilihan utama saya adalah Elektro ITS, cuma karena passing grade UI itu lebih tinggi serta saya haqqul yakin kalo saya gak pinter-pinter amat jadi sangat gak mungkin saya bisa masuk UI pasti ujung-ujungnya ‘lari’ ke pilihan yang kedua. Demikian, akhirnya saya pilih dua jurusan tersebut. Akhirnya, saat menulis di kertas itu, akhirnya saya cuma menyertakan nomer SPMB beserta jurusan Teknik Elektro ITS aja, karena kalau Fasilkom ditulis juga malu kalau ketauan gak lulus di pilihan pertama. hehe.

Tepat tengah malam, di ruang tamu tempat kami berkumpul, jam 12 malam, doa kami makin banyak. Kami panjatkan dan langitkan doa sebanyak-banyaknya sambil berbagai nazar pun dikeluarkan bila lulus SPMB (maklum, anak muda, kalo pengen aja nazar-nya pada kenceng-kenceng..hehe) Sedangkan diseberang sana, mas-mas alumni sibuk memasukkan setiap nomor SPMB kami untuk mengetahui hasilnya.

Selesai, kami pun dipanggil satu persatu.
“Akh Dalu..selamat antum diterima di Teknik Elektro ITS!” Disambut dengan pelukan dari mas-mas alumni dan takbir sekencang-kencangnya.
“Akh Rio..selamat di Teknik Informatik ITS!”

Semua teman-teman pun dipanggil satu per satu, banyak lulus alhamdulillah, walaupun juga ada beberapa yang Allah takdirkan lain. Hingga memasuki nama-nama terakhir, semoga aku termasuk salah satunya.

“Akh Big…” Jantung saya pun berdegup kencang. Nasib saya akan ditentukan setelah ini..

Dan belum seutas kalimatpun terdengar, beliau langsung memeluk saya dengan erat. Saya pun bingung dan mendadak punya firasat yang tidak baik.
“Tabahkan hati antum ya Big..Allah belum takdirkan antum untuk kuliah tahun ini.”

Bagai disambar petir. Saya langsung lemas. Tak kuasa pula air mata berlinang dan langsung terbayang ibu dan almarhum Bapak,
“Aku gagal pak, bu..” ucapku lirih.

Malam itu saya tak bisa tidur. Memikirkan apa yang harus ku katakan besok ke ibu? Pada para guru? Pada pemberi beasiswa ku? Berfikir kesana saja sama sekali tidak terbayang, apalagi memikirkan apa yang akan ku lakukan tahun ini.

Keesokan hari harinya, saya masih pulang ke rumah dengan lesu. Sama sekali tak berucap apapun kepada ibu. Di tengah kesunyian itu, tiba-tiba ada seorang teman menelfon, “Zeeeet…zeeett…(red: panggilan saya di SMA adalah ‘Z’), selamet yo, selamet, melbu UI pek arek iki!

Saya yang masih setengah sadar, bingung, apa saya gak salah dengar, saya masuk UI?

“Aku lho gak lulus yar, kemaren uda dicek.”
“Katanya siapa, liat koran, liat koran, aku ngeliat ada namamu!”

Kebetulan di rumah ada yang membeli koran saat itu, langsung lah saya ambil, dan mencari nama saya. Dan, ternyata ada! Nama itu bersanding dengan sebuah kode jurusan Fasilkom UI. Saya masih tidak percaya, masak saya dibohongi sama mas-mas kemarin?

Ternyata usut punya usut, kemarin mas alumninya membuka di web yang berbeda. Karena waktu itu website resmi SPMB http://spmb.or.id/ sering lost connection karena traffic yang tinggi, bayangkan semua orang se-Indonesia membuka website yang sama dalam waktu yang sama. Sehingga beliau mengecek nomor kami di website ITS, karena memang semua yang disana pilihannya ITS semua, termasuk saya yang hanya menyertakan ITS saja!

Dan, #jreeeeng , ternyata saya lulus SPMB. :D

Ya, bagi saya ini adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa yang Allah berikan. Cuma ikut satu kali SPMB, namun memiliki dua perasaan, lulus SPMB dan tidak lulus SPMB. :)

Dan saya masih ingat betul kedua perasaan itu, terutama perasaan tidak lulus. Oleh karena itu, saya sangat memahami perasaan teman-teman yang tidak lulus SPMB, walaupun saya hanya merasakannya semalam saja, namun itu sakit. Sangat sakit. Menyesal dan hanya bisa menyesal, itu lah orang-orang yang gagal. Menyesal karena dulu suka bolos-bolos bimbelnya, menyesal karena dulu tidak serius menyimak penjelasan guru di kelas, menyesal karena tidak belajar dengan maksimal, menyesal dan terus menyesal.

Seperti itulah yang namanya gagal, walaupun saya tidak lama mengalaminya.
Namun ternyata, dalam beberapa hari ini, Allah akhirnya mengizinkan saya kembali merasakan kegagalan yang menyakitkan itu..

*bersambung

Setitik Syukur Hari Ini..

Tiba-tiba Pak Yugo, salah seorang dosen yang cukup ‘disegani’ di kampus saya memanggil nama saya saat wisuda di Balairung.

“Big..naik.” ujar beliau.

Apa masih ada tugas atau ujian saya yang nilainya bermasalah?

Semakin tidak mengerti. Saya yang panik nan bingung hanya bisa berujar, “Iya Pak, saya..?!?”

“Iya kamu, naek kursi, miring dikit, toga benerin..yak, sip.” Tak lama kemudian terdengar bunyi klik beberapa kali dari sebuah kamera SLR. Ya, dan baru-baru ini saya baru tau jadinya seperti ini. :) Lanjut membaca

Refleksi TA (1)

“..memang perkara skripsi itu seperti latihan untuk menguji sejauh mana kita percaya diri dan Allah.” (Heninggar, 2011)

Tepat satu pekan dari sidang kelulusan saya Rabu kemarin. Ya, sebenarnya hampir tidak ada bedanya, sesudah sidang dan sebelum sidang, atau bahkan ketika saya masih pertama kali menginjakkan kaki di UI dulu. Masing-masing punya ujiannya sendiri dan kaidah yang disampaikan senior saya diatas memang ada benarnya, dimana kepercayaan kita terutama pada Allah diuji. Satu dari sekian banyak pembuktian akan kaidah itu akan saya ceritakan disini. Lanjut membaca

Belum Saatnya Cinta..

Sepertinya banyak orang yang salah tafsir dengan apa yang saya tuliskan pada tulisan sebelumnya. Tenang saja teman-teman, saya tidak segalau itu. :)

Akhir-akhir ini merasa banyak orang yang muji-muji (ceila), padahal juga ada maunya sebenarnya. hehe. Terutama banyak orang yang mencoba menilai-nilai saya dari blog. Nah lho, tuh kan salah besar, saya juga bisa labil kan dengan postingan-postingan sebelumnya. Makanya..jangan menilai seseorang dari blognya kawan! :) Lanjut membaca

Adkesma, Adkesma, Adkesma

Teman, izinkan saya bercerita tentang pekerjaan sekaligus hobi utama saya : Adkesma.

3 tahun saya di Adkesma. Tahun pertama, beruntung saya bisa berkontribusi di Adkesma sebagai staff di BEM Fasilkom. Beranjak ke tahun kedua, lari sedikit ke UI di Kesma BEM UI 2009. Di tahun ketiga kembali ditarik ke fakultas untuk menjadi Kepala Departemen Adkesma BEM Fasilkom. Kenapa betah banget di Adkesma? Alasannya sederhana saja. Bahwa saya ingin menunjukkan bahwa masuk UI tidak semahal yang orang-orang katakan. Bahwa mengeyam pendidikan tinggi adalah hak setiap putra bangsa. Bahwa UI benar adanya, sebuah universitas dengan seleksi intelektual, bukan seleksi finansial.

Mungkin saya termasuk beruntung. Tiga tahun di UI, saya merasakan pergolakan kondisi Adkesma dengan nuansa yang berbeda, yang mungkin dirasakan oleh teman-teman Adkesma angkatan 2007 juga. Di awal masuk, saya masih merasakan dengan mudahnya dan relatif ‘murah’-nya kondisi UI, dengan SPP hanya 1,575 juta saja per semester, memang ada uang pangkal yang bisa mencapai 25 juta, tapi itu pun sesuai dengan kemampuan penanggung biaya, jadi relatif tidak berat. Saya pun membuktikan itu dengan dipermudahnya saya hingga mendapat uang pangkal nol rupiah serta BOP 100 rupiah saja di semester pertama. Lanjut membaca

Belajar Memaknai Kehidupan..(2)

Lagi-lagi, kisah masa-masa awal di UI, lanjutan dari yang ini. Ya, klo masih gak bosen silahkan diterusin baca. :)

***

Dengan segala usaha berat yang kamu lakukan, apa yang membuat kamu bisa terus bertahan? Mengapa kamu tidak memilih jalan hidup yang lain saja?

Berat, ah..biasa aja. :)

Terkadang hati ini sedikit terhibur, ketika semua orang sedang hiruk pikuk dengan dunianya sendiri, ketika semua orang hampir tidak mempedulikan apapun kecuali tugas dan hingar binger akademisnya, beberapa teman ada yang selalu men-support. Suatu perkataan yang cukup mengena di hati saya adalah ketika di asrama saya hendak membayar hutang pembayaran asrama kepada teman, saat itu ibu telpon sedang butuh uang untuk biaya rumah sakit Pakde, walhasil saya memohon maaf kepada teman saya ini karena lagi-lagi belum bisa membayar. Lanjut membaca

Belajar Memaknai Kehidupan.. (1)

Semenjak dulu sebenarnya saya sudah bertekad gak pengen cerita-cerita tentang masa-masa awal di UI, terlalu suram. hehe. Ya, saya hanya tidak ingin dikenal sebagai anak yang terlunta-lunta, patut dikasihani, atau sejenisnya. Ujung-ujungnya jadi seperti di SD, SMP, SMA, jadi anak yang aman-aman saja, tampang melas, belum ngapa-ngapain pasti ujung-ujungnya dibelakang ada amplop, “Ini ya Big, buat sekolah..sekolah yang pinter ya biar kayak Bapak.” Ya, selalu berakhir dengan ending seperti itu.

Tapi belakangan saya sadar, bukannya ini tergantung niatnya? Beberapa hari terakhir banyak diminta menjadi pembicara, yang ujung-ujungnya meminta saya cerita kehidupan awal di UI. Ya, walhasil karena saya gak punya cerita yang lebih bagus, jadilah keluar..Lucunya kata orang-orang inspiring lah, mengharukan, bahkan ada anak PPSDMS yang minta saya nulis. Nah, lho? Lanjut membaca

Cerita di UNTIRTA

Siang itu, saya agak terkaget-kaget. Tiba-tiba ada sebuah pesan singkat di ponsel saya, intinya kurang lebih meminta saya untuk menjadi pembicara sebuah acara. Mungkin kalau untuk memberi sedikit tausiyah-tausiyah singkat, atau tentang PKM (red:Program Kreativitas Mahasiswa) dan PIMNAS mungkin masih agak wajar, karena sudah tidak asing lagi untuk diminta seperti itu. Tapi kali ini si pengirim sms meminta saya membawakan sebuah materi yang temanya ‘gak banget’ buat saya.

Menjadi mahasiswa berprestasi namun tetap syar’i.

Dan brutalnya lagi, ini acara bukan di Fasilkom, bukan pula di asrama atau di UI, tapi di UNTIRTA, sebuah universitas ternama di Serang, Banten. Gubrak ! Lanjut membaca

Hey Dad Look At Me

Hey dad look at me.

Think back and talk to me.

Did I grow up according to plan..

(Perfect – Simple Plan)

Entah kenapa tiba-tiba teringat dengan lagu ini. Ini salah satu lagu favorit saya ketika saya nge-band dulu, lagu singkat dari Simple Plan. Dan ini salah satu lagu yang sukses membuat saya merenung hingga menitikkan air mata.  Hehe, ni kali ini izin posting yang agak ‘dangdut’ ya. Lanjut membaca

Takjub dengan Mesin Cuci !

Baru-baru ini saya baru ada ada sebuah teknologi yang sangat luarbiasa yang pernah diciptakan di dunia. Ya, itu adalah MESIN CUCI !

Kegiatan mencuci memang salah satu cobaan terberat dalam kehidupan para aktivis termasuk saya orang yang suka sok sibuk. Namun apa mau dikata,apalagi saya termasuk orang yang agak jual mahal gak mau nge-laundry walaupun ada duit. Pertama dan insya Allah terakhir kalinya saya nge-laundry itu pas di asrama, dimana uda putus asa dengan baju gak ada satu bijipun yang bersih. Dan taukah perasaan saya setelah me-laundry ? Ya, punya perasaan bersalah yang luar biasa ! Dan saya tidak mau mengulanginya. Lanjut membaca