“Kak, kakak pernah gak mengalami kegagalan? bisa dishare kak bagaimana kakak mengatasi perasaan tersebut?”
Sebuah pertanyaan yang muncul dari seorang adik kecil, ketika saya mengisi acara sharing motivasi untuk adik-adik Yayasan Bina ABG di daerah Condet. Sebenarnya ini bukan pertanyaan pertama yang saya dapatkan, ketika diundang di acara BEM, LDK, training motivasi untuk anak SMA, di Bedah Kampus, atau dimanapun, selalu ini adalah pertanyaan langganan yang selalu muncul. Dan, dengan ringan, selalu jawaban default saya untuk pertanyaan ini adalah
“Setiap manusia pasti pernah gagal, termasuk saya juga…yang penting bagaimana agar kita tidak menyerah. bla..bla..bla.”
Lalu diakhiri dengan salah satu quotes favorit saya,
“Everything will be okay in the end, if its not okay its not yet the end!” (Patrick Star)
“Percayalah semua akan berakhir happy ending kok dibelakang, ketika belum berhasil maka percayalah itu bukan akhir! Maka coba lagi..coba lagi..dan coba lagi!” Dan alhamdulillah selama ini cukup ampuh membuat para penonton terpana dan tersenyum dengan penuh semangat. Alhamdulillah.
Akhir-akhir ini saya kembali merenungi pertanyaan ini. Kapannya terakhir kali saya mengalami rasa gagal yang begitu sakit?
Gagal lulus dengan predikat cumlaude, ikut lomba tapi belum juara atau pernah dapet IP dibawah tiga atau mungkin gagal meng-handle dengan baik suatu acara. Sisanya mungkin, gagal masuk SMP 3 Surabaya (salah satu SMP favorit di Surabaya) tapi masuk SMP 4 yang juga ga kalah bagusnya, gagal jadi Mahasiswa Berprestasi Utama Fasilkom, tapi masih jadi Runner-up Mapres, tidak sampai juara PIMNAS tapi menjadi finalis di PIMNAS untuk dua kategori yang berbeda, atau beberapa kegagalan-kegagalan yang menurut saya hingga saat ini tidak terlalu spektakuler atau tidak sampai membuat nangis dan ‘berguling-guling’ sampe tujuh hari tujuh malam.
Merasakan kesedihan yang begitu mendalam seperti yang dialami orang yang tidak lulus SPMB (sekarang namanya SNMPTN) misalnya, dan lain sebagainya. Hampir tidak ada kegagalan yang rasanya sakit sekali. Semua hampir selalu berakhir dengan happy ending..
Omong-omong tentang SPMB, sebenarnya saya punya sebuah cerita menarik yang mungkin ini jadi salah satu cerita ‘kegagalan singkat’ saya dulu saat SPMB.
Kalau untuk temen-temen Seksi Kerohanian Islam atau SKI SMA 5 Surabaya (kalo di Depok lebih populer dengan istilah Rohis), kami punya kebiasaan unik untuk mengetahui pengumuman SPMB kami. Jadi hari H pengumuman kami berkumpul bareng di sebuah tempat untuk mabit, lalu nanti nomer SPMB kita dan jurusan dimana kita mendaftar disetorkan ke mas-mas alumni dan mereka lah yang akan menyampaikannya ke kita.
Jam 10 malam-an kira-kira, ketika kami semua anak-anak kelas 3 SMA sudah pada berkumpul, sebuah kertas diedarkan untuk menuliskan nomor SPMB masing-masing. Pilihan SPMB saya saat itu ada dua yakni Fasilkom UI dan Teknik Elektro ITS. Sebenarnya juga ada juga sejarahnya dalam pemilihan dua jurusan ini, tapi karena takut kepanjangan, saya persingkat saja, intinya saya itu milih Fasilkom UI super ngasal dan cuma iseng aja.
Pilihan utama saya adalah Elektro ITS, cuma karena passing grade UI itu lebih tinggi serta saya haqqul yakin kalo saya gak pinter-pinter amat jadi sangat gak mungkin saya bisa masuk UI pasti ujung-ujungnya ‘lari’ ke pilihan yang kedua. Demikian, akhirnya saya pilih dua jurusan tersebut. Akhirnya, saat menulis di kertas itu, akhirnya saya cuma menyertakan nomer SPMB beserta jurusan Teknik Elektro ITS aja, karena kalau Fasilkom ditulis juga malu kalau ketauan gak lulus di pilihan pertama. hehe.
Tepat tengah malam, di ruang tamu tempat kami berkumpul, jam 12 malam, doa kami makin banyak. Kami panjatkan dan langitkan doa sebanyak-banyaknya sambil berbagai nazar pun dikeluarkan bila lulus SPMB (maklum, anak muda, kalo pengen aja nazar-nya pada kenceng-kenceng..hehe) Sedangkan diseberang sana, mas-mas alumni sibuk memasukkan setiap nomor SPMB kami untuk mengetahui hasilnya.
Selesai, kami pun dipanggil satu persatu.
“Akh Dalu..selamat antum diterima di Teknik Elektro ITS!” Disambut dengan pelukan dari mas-mas alumni dan takbir sekencang-kencangnya.
“Akh Rio..selamat di Teknik Informatik ITS!”
Semua teman-teman pun dipanggil satu per satu, banyak lulus alhamdulillah, walaupun juga ada beberapa yang Allah takdirkan lain. Hingga memasuki nama-nama terakhir, semoga aku termasuk salah satunya.
“Akh Big…” Jantung saya pun berdegup kencang. Nasib saya akan ditentukan setelah ini..
Dan belum seutas kalimatpun terdengar, beliau langsung memeluk saya dengan erat. Saya pun bingung dan mendadak punya firasat yang tidak baik.
“Tabahkan hati antum ya Big..Allah belum takdirkan antum untuk kuliah tahun ini.”
Bagai disambar petir. Saya langsung lemas. Tak kuasa pula air mata berlinang dan langsung terbayang ibu dan almarhum Bapak,
“Aku gagal pak, bu..” ucapku lirih.
Malam itu saya tak bisa tidur. Memikirkan apa yang harus ku katakan besok ke ibu? Pada para guru? Pada pemberi beasiswa ku? Berfikir kesana saja sama sekali tidak terbayang, apalagi memikirkan apa yang akan ku lakukan tahun ini.
Keesokan hari harinya, saya masih pulang ke rumah dengan lesu. Sama sekali tak berucap apapun kepada ibu. Di tengah kesunyian itu, tiba-tiba ada seorang teman menelfon, “Zeeeet…zeeett…(red: panggilan saya di SMA adalah ‘Z’), selamet yo, selamet, melbu UI pek arek iki!“
Saya yang masih setengah sadar, bingung, apa saya gak salah dengar, saya masuk UI?
“Aku lho gak lulus yar, kemaren uda dicek.”
“Katanya siapa, liat koran, liat koran, aku ngeliat ada namamu!”
Kebetulan di rumah ada yang membeli koran saat itu, langsung lah saya ambil, dan mencari nama saya. Dan, ternyata ada! Nama itu bersanding dengan sebuah kode jurusan Fasilkom UI. Saya masih tidak percaya, masak saya dibohongi sama mas-mas kemarin?
Ternyata usut punya usut, kemarin mas alumninya membuka di web yang berbeda. Karena waktu itu website resmi SPMB http://spmb.or.id/ sering lost connection karena traffic yang tinggi, bayangkan semua orang se-Indonesia membuka website yang sama dalam waktu yang sama. Sehingga beliau mengecek nomor kami di website ITS, karena memang semua yang disana pilihannya ITS semua, termasuk saya yang hanya menyertakan ITS saja!
Dan, #jreeeeng , ternyata saya lulus SPMB.
Ya, bagi saya ini adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa yang Allah berikan. Cuma ikut satu kali SPMB, namun memiliki dua perasaan, lulus SPMB dan tidak lulus SPMB.
Dan saya masih ingat betul kedua perasaan itu, terutama perasaan tidak lulus. Oleh karena itu, saya sangat memahami perasaan teman-teman yang tidak lulus SPMB, walaupun saya hanya merasakannya semalam saja, namun itu sakit. Sangat sakit. Menyesal dan hanya bisa menyesal, itu lah orang-orang yang gagal. Menyesal karena dulu suka bolos-bolos bimbelnya, menyesal karena dulu tidak serius menyimak penjelasan guru di kelas, menyesal karena tidak belajar dengan maksimal, menyesal dan terus menyesal.
Seperti itulah yang namanya gagal, walaupun saya tidak lama mengalaminya.
Namun ternyata, dalam beberapa hari ini, Allah akhirnya mengizinkan saya kembali merasakan kegagalan yang menyakitkan itu..
*bersambung



