The Power of Morning


8 Agustus 2016 jam 6.31

Dulu saya pernah mendapat nasihat, kira-kira narasinya seperti ini : Orang yang dapat mewujudkan cita-cita, impian, target hidup sepanjang hidupnya, adalah orang yang berhasil mencapai target tahunannya pada tahun-tahun kehidupan mereka. Orang yang berhasil mencapai target tahunannya adalah orang-orang yang berhasil mendapatkan atau setidaknya berproses untuk mencapai target-target mereka di setiap bulannya. Tentu saja, orang-orang yang sukses mencapai target bulanannya, mereka adalah orang-orang yang berhasil mengelola hari-harinya dengan baik dan terencana. Dan klimaksnya, orang yang berhasil mengelola hari-harinya dengan baik adalah orang yang berhasil mengelola waktu paginya dengan baik. Hingga hari ini saya percaya, pagi hari itu adalah salah satu momentum yang paling menentukan apakah kita dapat menjalani hari kita 24 jam kedepan dengan baik atau tidak.

Pagi hari memang saat yang paling menyenangkan untuk menyusun aktivitas harian, ‘mencuri start‘ pekerjaan di hari tersebut, hingga berkontemplasi merenungi hakikat kehiidupan kita #ceilah . Poin terakhir ini yang paling sering saya lakukan, merefleksikan apa yang menjadi rutinitas harian kita dengan big picture sosok ideal yang kita harapkan atas diri kita. The ultimate-nya adalah, kita punya potensi keberkahan pada waktu kita dalam sehari kedepan.

“Allahumma baarik ummaty fii bukuuriha..Ya Allah berkahilah umat dengan segala aktivitas di waktu subuh (pagi)”

Ini salah satu warisan doa sepanjang zaman Rasulullah SAW yang selalu membuat saya takjub. Doa yang tulus dan ikhlas yang beliau pintakan untuk ummatnya. Singkat, padat, jelas, sangat spesifik, dan powerfull. Tidak perlu banyak deskripsi untuk menjelaskannya, tapi rasakan dan buktikan sendiri saja. Rasakah keberkahan waktunya, rasakan kenikmatan waktu yang panjang dan efektif untuk mengerjakan apapun yang kita inginkan. Trust me, it works!😀

Tips tambahan untuk mengelola waktu pagi, ada artikel bagus yang saya rekomendasikan untuk dibaca disini , tentang how to have a beter morning. Tiga yang menjadi favorit saya:

1. Planning the night before

Ini seriusan ngefek banget kalau bisa dilakukan konsisten. Kalau kita bisa merencanakan apa yang mau dikerjakan di hari sebelumnya, paginya kita bangun, abis QL dan ngaji bet bet bet..langsung deh garap kerjaan yang sudah dikerjakan. Kalau dulu yang pernah main game GBA-nya Pokemon, “Its super effective!”

pikachu

2. Manage your energy, not your time

Waktu pagi itu waktu dimana kita paling bertenaga (secara abis bobo, baru di-charge) dan paling bisa fokus. Jadi pastikan dalam membuat todolist, selalu utamakan pekerjaan yang paling berdampak di hari itu atau yang paling sulit di awal hari. Buat timeblocking aktivitas kita ketika membuat list pekerjaan harian kita, kalau saya biasanya menggunakan tools Workflowy dan membaginya seperti ini. Jangan malah dipakai buat aktivitas sosmed berlebihan ya🙂

focus

3. Hold phone/WA and email until noon

Agar waktu pagi kita bisa lebih optimal, kurangi distraksi seoptimal mungkin, salah satunya aktivitas cek-cek WA, email, apalagi sosial media. Buat saya ini agak berat terutama dengan role di kantor saat ini yang banyak berhubungan dengan klien Badr. Jadi mungkin cuma bisa sampai jam 6 atau jam 7, baru kalau weekend bisa lebih lama lagi.

***

Bangun pagi memang bukan pekerjaan mudah, apalagi tetap bertahan untuk tidak ber-‘teparan’ di muka bumi empuk alias kasur (red : kalo ini asli true story wkwk), tapi ia adalah checkpoint pertama yang paling kongkrit yang bisa kita lakukan, kalau kita ingin melakukan perubahan besar dalam kehidupan kita. Yosh!

battle of fajr

 

 

Kita Tidak Akan Selalu Bisa ‘Selamat’


mu vs west ham

29 Juli 2016 jam 20.34

Apa hubungannya antara judul diatas dengan screenshot hasil pertandingan Premier League diatas? Ya, bisa jadi berhubungan, bisa juga enggak, tergantung yang nulis :))

Buat yang sudah kenal saya agak lama, pasti tau kalau saya hobi bola. Dulu saya levelnya bisa dibilang maniak, tontonan tengah malempun dijabanin apalagi kalau yang main MU (ketauan dah fans MU hehe). Untungnya, sekarang sudah sangat berkurang, saya beralih dari suka nonton pertandingan full, jadi cuma baca berita-berita bola aja atau paling banter nonton highlight gol-golnya aja, biar efektif🙂 Selain karena memang masih belum bisa menghilangkan hobi ini sepenuhnya, saya juga masih bisa memanfaatkan hobi ini untuk ‘bahan obrolan’ dengan orang-orang yang ingin diajak ngobrol agak lama bahkan untuk nasehatin sesuatu.

Kembali ke gambar diatas, apa hubungannya dengan pertandingan akhir musim lalu, West Ham lawan MU? Kalau ada yang ngikutin Liga Inggris dan concern dengan MU, pasti inget banget kalau di pertandingan inilah Louis Van Gaal dan anak asuhya jadi gak ada harapan lagi untuk bisa jadi empat besar alias dapat tiket Liga Champions. Naas sih, untuk ukuran klub sebesar dan semahal MU gak bisa masuk Liga Champions, apalagi tahun kemarin masih bisa ikut (walaupun cuma sampai babak penyisihan karena emang maennya payah :p)

Lalu kenapa ini ditulis dimari? Penting amat bahas-bahas MU. Karena ini kemarin jadi bahan obrolan menarik dengan mahasiswa saya di STT Nurul Fikri.

Singkat cerita, semester lalu saya dapat amanah ngajar mata kuliah Tugas Proyek dan ada satu kelompok yang memang agak ‘spesial’. Salah satu yang menarik, pada saat UAT alias ujian paling akhir berupa demo project-nya ke saya sebagai dosen, untuk sebuah project yang seharusnya sudah dikerjakan selama satu semester penuh, sudah ada progress meeting (presentasi ke dosen) tiap tiga pekan sekali, namun yang terjadi saat UAT cuma bisa mendemokan fitur-fitur dasar seperti login, logout, halaman depan, dll yang jauh dibawah standar baik secara tampilan maupun fungsional, diklik dimana-mana banyak yang error.

Udah dikasih kesempatan satu pekan memperbaiki dan UAT ulang pekan depan, ternyata hampir tidak ada effort signifikan mereka lakukan. Pada saat mau pulang, kami ngobrol-ngobrol singkat. Kebetulan mereka nge-fans bola juga kebanyakan.

“Ada yang fans MU disini?”, tanya saya.

“Ini pak, si A nih Pak. Wakaka..kesian klubnya menyedihkan bener musim ini.” jawab salah seorang dari mereka.

“Tau gak kenapa MU bisa gak lolos Liga Champions? Padahal musim sebelumnya bisa lolos?”

“Ya, memang mereka punya kiper jago salah yang terbaik di dunia saat ini, David De Gea, yang musim lalu banyak melakukan penyelamatan penting sehingga MU bisa lolos empat besar walau dengna tertatih-tatih. Tahun ini juga ada pemain muda jago namanya Martial yang sering jadi penyelamat MU dengan gol-golnya.”

“Tapi qodarullah, Allah memang Maha Adil. Biarpun saya fans MU juga tapi kalau performanya begitu-begitu aja setiap main, pegang bola terus sih tapi nyerangnya monoton, bertahannya payah, akan ada saatnya De Gea dan Martial sekalipun tidak bisa memberikan kemenangan yang dibutuhkan MU dari lawannya!”

Lanjut saya, “Mungkin selama ini temen-temen kuliah ngerasa apapun yang dilakukan, yang penting dateng ke kelas, yang penting ikut ujian, semua akan baik-baik saja (lulus), tapi dengan performa yang seperti ini dan terus menerus kalian begini, suatu saat kalian akan akan merasakan yg namanya ‘jatuh’ itu seperti apa. Suatu saat kita tidak akan selalu bisa selamat hinhga kita merubah kebiasaan buruk kita itu.

Saya dan beberapa tim di Badr termasuk yang masih punya kebiasaan buruk : terlambat. Biasanya sih kliennya selalu maklum atau mereka juga telat. Tapi suatu hari saya mendapat ‘tamparan’ yang cukup keras ketika jadwal presentasi proyek yang akan di-deal-kan ke klien yang berasal dari Jepang, saat itu kami terlambat sekitar 15 menit dan ending-nya sudah bisa ditebak, proyeknya tidak deal. Ketika saya follow up feedbacknya kenapa kami tidak terpilih, kata kliennya, “Sebenarnya di meeting pertama kami condong sama Badr, tapi akhir kemarin kita pilih yang satunya lagi karena pada saat presentasi akhir Badr malah kelihatan tidak prepare.” Alaihim jleb lah ini.

Yap, NtMS banget sih ini. Anyway kalau boleh kembali ke topik bola, emang West Ham dan Dimitri Payet musim lalu emang jago banget. Salut! #lah

West Ham United v Manchester United - Barclays Premier League

Britain Soccer Football – West Ham United v Manchester United – Barclays Premier League – Upton Park – 10/5/16 Winston Reid celebrates after scoring the third goal for West Ham Reuters / Eddie Keogh/ Livepic

 

Tentang KPR dan ‘Ngontrak’


16 Juli 2016 21.25

Disuatu hari, sebuah diskusi panjang lebar antara dua orang via WA tentang cara ambil KPR, tips-tips, dan sebagainya.

X : Gimana cara dapat DP-nya, gimana cara bayar cicilan yang sesuai dengan rumah inceran kita. Hehe..puyeng yak :”””)

Y : Hehe…ya begitulah. Terakhir kalau boleh saya mau nyampain sesuatu, boleh diterima atau tidak. Sebenarnya ada beberapa temen-temen saya (dan itu tidak sedikit) yang sering tanya-tanya dan konsultasi beratnya cicilan KPR, masih harus ngelunasi hutang DP, dsb.

Dulu saya memang termasuk org yang saklek ‘harus punya rumah’, tapi pada akhirnya saya menemukan realitas ternyata banyak juga keluarga temen-temen yang jadi kurang harmonis karena kesulitan finansial, dari uang belanja gak cukup karena cicilan atau punya hutang disana sini untuk nutup hutang DP karena terlalu dipaksakan KPR dengan harga rumah yang relatif tinggi. Banyak yang ambil KPR konven, di tahun ke-2, 3, dst pada ‘menjerit’ karena tidak hanya terjebak dalam transaksi riba tapi juga karena harga cicilannya yang semakin menjulang dan tidak terjangkau.

Saya cuma ingin menyampaikan, menurut saya sebenarnya nggak harus-harus banget kok kita punya rumah dalam waktu dekat. Klo ada rezeki ya alhamdulillah, klo belum dulu juga insya Allah tidak apa-apa. Saya pernah ngontrak 2 tahun dan rasanya bahagia-bahagia aja alhamdulillah, gak jauh berbeda dengan sekarang yang udah nyicil rumah ke bank. Serius. Kalau dihitung-hitung 1-2 tahun saja ada aja cost yang harus dikeluarkan kalau punya rumah sebelas duabelas dengan ngontrak, seperti benerin genteng bocor, tandon air rusak, saluran mampet, WC/sumur resapan penuh, dsb sekarang kan udah gak bisa minta tolong dibayarin ibu kontrakan😀

Pun yang sudah ‘punya’ rumah juga bisa diambil sama Allah kapan saja dengan (naudzubillah) kebakaran, bencana alam seperti longsor di Purworejo kemarin misalkan yang meratakan rumah dan tanah sekian banyak desa. Rasanya SHM, IMB rumah yang kena musibah pun sudah tidak berarti lagi. Siapa yang menduga? Siapa yang bisa mencegah? Karena semua memang kembali sesuai konsep rezeki yang sama-sama kita ketahui. Semua sudah dijamin, akan muncul dengan konteks dan waktu yang tepat, dan akan ada ketika kita mengusahakannya.

Masalah ngontrak dan KPR biasanya ‘cuma’ masalah manajemen hati. Biasanya karena ga enakan sama camer / mertua, calon istri / istri, atau jiper sama temen-temen yang sudah dapat rezeki KPR bahkan beli cash keras duluan. Akhirnya, langsung deh berasa rumput tetangga selalu lebih hijau dr rumput sendiri🙂

Maka bersyukur menjadi poin yang penting, mampu menakar diri, dan tidak berlebihan dalam memaksakan kehendak diri.

Aplikasi Dakwah ‘Beriklan’


14 Juli 2016 jam 04.17

Screenshot_2016-07-14-04-27-29_com.bi.doainquran

Aplikasi dakwah beriklan dengan platform Admob

Disuatu hari di kantor,

X : Eh bro bro, ane nemu ada aplikasi Al Matsurat bagus akhirnya di PlayStore! UX-nya bagus, ga ada iklannya lagi kayaknya.
Y : Oh ya? Apaan emang keyword-nya? Coba-coba ane cari. *sambil ketik-ketik terus di Playstore*
Z : Ane nemu nih, bentaran di-install ya.

Beberapa saat kemudian,
Z : Yah, kok ada ads-nya sik, males banget ah.
Y : Hehe..orang kebanyakan gitu ya, suka kesel sama buat pembuat aplikasi Islami / dakwah yang ada ads-nya, padahal seringkali gak annoying sama sekali, cuma di-ujung dikit bagian bawah aplikasi.
Padahal install aplikasinya juga gak bayar, pakai aplikasinya juga cuma-cuma. Pengennya dapet manfaat aja tapi seringkali tidak terbesit sama sekali untuk men-‘support‘ tim developer-nya.
Padahal barangkali dari situ saja beberapa developer itu bisa ‘hidup’, dapetin dollar dikit-dikit dari iklan yang ditampilkan aplikasi atau tidak sengaja diklik..
Padahal seringkali dari sanalah para developer-developer itu jadi bisa me-maintain, meng-update, bahkan mengembangkan aplikasi selanjutnya untuk kepentingan umat..
X & Z : …………… *terdiam* *padahal developer aplikasi juga* *tetiba jadi semangat buat klik-klikin iklan-iklan di aplikasi dakwah wkwkwk*

Disclaimer:
Postingan ini tidak diniatkan secara sengaja untuk membuat para pembaca menginstall aplikasi B*dr, lalu klik beberapa ads yang dipasang ya (tapi klo dilakukan demikian ya alhamdulillah :p) Tapi beneran gak sama sekali. FYI, salah satu diantara pemeran diatas adalah saya sendiri, dimana saya mobile app developer juga tapi ironisnya juga suka ‘males’ kalau ketemu apps yang ada iklannya😀 Namun dari Si Y alias Topan (ketauan juga dah), akhirnya saya dapat perspektif baru.
Ya, penting dibiasakan untuk meniatkan diri men-support sebuah upaya kebaikan. Tentu ada kepentingan diri dan kenyamanan yang sedikit ‘dikorbankan’, tapi selama masih wajar dan untuk sebuah kebaikan, kenapa tidak?

Filosofi Mencuci Piring


11 Juli 2016 jam 06.00. Ya, diantara semua pekerjaan rumah tangga, bagi saya memiliki kesan masing-masing. Oh iya, tulisan ini tidak dibuat dalam rangka pencitraan bahwa saya banyak melakukan pekerjaan di rumah. Sepagi apapun saya bangun, sehebat apapun apa saya melakukannya, istri saya tetap tak terkalahkan dalam hal ini😀 Sebut saja mencuci piring, mencuci baju, menyuapi anak makan, menyapu, mengepel, sampai pekerjaan domain ‘bapak-bapak’ seperti naik-naik genteng, paku-paku sesuatu, dan sebagainya. Tapi buat saya, pekerjaan rumah yang lebih sedikit saya lakukan daripada pekerjaan di luar rumah ini, selalu memiliki nilai dan hikmah tersendiri dalam pengerjaannya.

Dulu, diantara semua hal diatas (kecuali turunan pekerjaan setelah menikah) awalnya saya merasa mencuci baju adalah pekerjaan terberat sepanjang hidup saya (halah), apalagi kalau sudah menggunung, strategi yang digunakan pun semakin pragmatis : rendem yang lama pakai air detergen dan kucek seadanya alias di-‘injek-injek’ :p

Alhamdulillah, berkat adanya teknologi bernama mesin cuci, painfulness mencuci baju sudah jauh lebih berkurang. Ya, walaupun pakaian bayi, bekas eek dan ompol memang tetep harus dikucek, tapi insya Allah sudah cukup diringankan. Justru hari ini, saya merasa ada satu buah pekerjaan menjadi lebih berkesan yaitu : cuci piring.

Berawal dari ba’da lebaran kemarin, saya menghadapi cucian piring yang ‘menggunung’. Dan seperti yang diketahui lebaran memang sejak dulu berteman akrab dengan opor ayam, sayur labu, sambal goreng hati dan kentang, pokoknya yang banyak minyak dan santannya. Jadi, dalam sesi mencuci kemarin tidak hanya piring dan gelas kotor saja, wajan dan panci berminyak dan bersantan pun tidak absen dari checklist item yang harus dicuci. Ba’da lebaran biasanya juga tempat sampah penuh-penuhnya, lubang saluran air di bak cuci piring juga kotor-kotornya, dan semua tampak……menarik untuk ditinggalkan😀

Ada beberapa filosofi hidup yang menarik (setidaknya bagi saya) dalam kegiatan cuci-mencuci piring ini yang ingin saya tulis disini agar saya tidak lupa, bahwa saya pernah memikirkan ini🙂

1. Memiliki Mentalitas Menyelesaikan Masalah
Ini memang selalu menjadi hal yang klise tapi pengalaman saya membuktikan inilah yang menjadi pembeda orang yang mau menyelesaikan masalah atau tidak. Setidaknya dalam masalah mencuci piring :p Saya pikir semua orang pasti tidak suka dengan cucian kotor, tapi tidak semua orang tergerak untuk menyelesaikannya. Sebagian besar memilih untuk berprasangka baik bahwa akan ada ‘orang baik’ selain dirinya yang akan menyelesaikannya. Atau seringkali kita merasa tidak cukup bisa mengerjakannya, dengan ribuan alasan takut gak bersih lah, takut piringnya jatoh, dan sebagainya. Orang yang selalu punya alasan, pasti tidak akan pernah bisa belajar dan memperbaiki dirinya.

2. Kejelian dalam Mengurai Masalah
Biasanya dalam menghadapi cucian piring segunung, penting untuk memiliki kemampuan mendekomposisi masalah. Tujuannya selain agar kita dapat menyelesaikan masalah tersebut, kita juga dapat menuntaskannya secara efektif. Dalam konteks mencuci piring biasanya saya mengklasifikasikan cucian menjadi : cucian sulit, cucian besar, dan cucian gampang. Cucian sulit biasanya yang butuh waktu nge-rendem lebih lama seperti tempatnya magicjar (karena nasi masih nempel), panci atau wajan yang berminyak / bersantan, dll biasanya dipisahkan dulu. Cucian besar biasanya sejenis baskom, panci tapi bekas rebusan air atau sayur non-santan, cucian gampang yaa sejenis piring, sendok, gelas, dan kerabatnya. Hikmah dari ‘mengurai’ cucian piring adalah kita bisa mendapatkan secercah harapan (halah), semangat positif bahwa kita bisa menyelesaikannya. Karena yang bikin cucian menggunung biasanya panci ditaro bawah, diatasnya dikasih wajan, diatasnnya lagi ditambah piring, gelas, dlsb. Padahal kalau diangkat panci dan wajannya, gak menggunung-menggunung banget cuciannya. Ya, karena seringkali akar permasalahan tidak selalu sebesar yang kita takutkan. Gak kebayang bisa nyicil rumah, padahal akar permasalahannya gak tau cara-caranya, udah jiper duluan sama harga rumahnya aja. Susah dan ngerasa gak mungkin bisa QL dan subuh berjamaah kalau gak Ramadhan, padahal pokok masalahnya adalah tidurnya selalu kemaleman diatas jam 11, gimana bisa QL bahkan subuh berjama’ah? Ya, kuncinya pada ketenangan, waktu untuk berpikir, dan kejelian dalam menguraikannya.

3. Keberanian untuk menghadapi bagian tersulit
Dalam menjalani sesuatu pasti ada bagian tersulitnya. Kalau dalam cuci mencuci, saya paling sebel kalau harus merogoh-rogoh kotoran dan bekas makanan yang ada di lubang cucian piring. Wujudnya biasanya sudah tak berbentuk, lembek-lembek geli dan berdenyut (lha?). Apalagi bagian lubang pembuangan bak di rumah saya bukan yang bisa dicopot, jadi literally harus diobok-obok dan dibersihkan dengan tangan! Pekerjaan yang mau ga mau harus dilakukan karena kalau tidak airnya ga bisa keluar ke saluran pembuangan.
Memang tidak ada kata lain selain, bismillah dan …… *rogoh-buang, rogoh-buang*. Jijik? Jelas. Geli? Pasti. Trauma? Bisa jadi. Tapi memang itulah bagian dari perjuangan. Akan ada masanya kita akan bertemu dengan titik itu dalam rentang kehidupan kita. Bisa saja kita lari, tapi kita tidak akan pernah bisa menyelesaikannya. Kayak mata kuliah ngulang aja deh, mungkin kita bisa ga mau ngulang di semester ini karena masih trauma atau gak mau ketemu pak dosennya, tapi kita pasti akan ketemu lagi di semester depannya. Gak diambil lagi, akan ketemu lagi di semester depannya. Sampai kita mengambil dan gently menyelesaikan mata kuliah tersebut dengan baik.

4. Terkadang Butuh Beberapa Kali Usaha Untuk Menyelesaikan
Panci berminyak dan bersantan mustahil bisa bersih dalam sekali bilas (kecuali pakai Sunlig*t, lha malah ngiklan xD). Pasti dalam gosokan pertama gak langsung hilang. Mungkin butuh gosokan kedua, ketiga, keempat, atau kelima baru bisa memudar nodanya. Jadi gak usah ngerasa lebay kalau baru coba sekali kompetisi gak menang mundung, baru pitching satu dua kali ke investor gak dapet investasi udah mundur teratur takut bikin startup. Persistence. Bahasa jawanya istiqamah. Istiqamah pasti berat, karena kalau ringan namanya istirahat.

5. Akan Semakin Mudah Bila Kita Sudah Menjalaninya
Satu dua piring tercuci, dua empat wajan terbilas, pasti meningkatkan adrenalin kita untuk terus melakukannya, untuk semangat menuntaskannya. Begitu memang kebaikan, akan selalu terasa lebih mudah ketika sudah dimulai. Makin mudah lagi kalau sudah setengah jalan. Ngafal Qur’an pasti gak akan pernah kebayang sama orang yang belum konsisten tilawah sehari minimal 5 lembar, pasti bawaannya udah gak mungkin aja. Tapi kalau sudah dimulai insya ALlah akan dimudahkan. Seperti hadist qudsi berikut,
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : Allah Azza wa Jalla berfirman : “Barang siapa berbuat kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan yang semisal dan terkadang Aku tambahkan lagi. Dan barang siapa yang berbuat keburukan, maka balasannya adalah keburukan yang serupa atau Aku mengampuninya. Barangsiapa mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari. Dan barang siapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula””.(Shahih Muslim, hadits no 4852).

6. Kebahagiaan Hakiki : Menuntaskan dengan Baik Apa yang Diamanahkan Kepada Kita
Finally, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada cucian piring yang sudah tersusun rapi di rak piring dalam keadaan bersih. Pasti menyenangkan ketika kita berhasil menyelesaikan sesuatu dan tidak hanya sekadar ‘selesai’ namun juga selesai dengan hasil yang baik bahkan sangat baik. Memunculkan kebaikan untuk diri sendiri dan memberikan dampak kebaikan pula untuk orang lain.

Panjang juga ya postingan tentang cucian piring begini aja. Postingan mah gak usah susah-susah, dulu juga saya pernah nulis tentang mesin cuci yang begitu doang :)) Note to my self, immediate-self improvement.

Immediate-Self Improvement


8 Juli 2016 jam 00.07. Bismillah, akhirnya saya memutuskan untuk mengaktifkan blog ini lagi insya Allah.

Dalam model perbaikan diri yang pernah saya pelajari dulu di PPSDMS Nurul Fikri, dalam memperbaiki diri setidaknya kita akan berhadapan dengan tiga proses berikut secara sekuensial. Self Awareness – Self Acceptance – Self Improvement. Kapan-kapan saya ingin menulis tiga prinsip ini agak panjang, tapi singkatnya saya mau cerita sedikit buat yang belum pernah denger.

Self Awareness berarti proses ‘tau diri’. Tidak ada cara lain untuk bisa ‘tau diri’ selain dengan cara melakukan komparasi diri kita saat ini dengan sesuatu. Setidaknya ada empat cara untuk melakukan komparasi diri.

  1. Komparasi diri dengan Standar Ideal
  2. Komparasi diri dengan Kita di Masa Lampau
  3. Komparasi diri dengan Orang-orang lain yang memiliki starting point yang tidak jauh berbeda (umur hampir sama, angkatan tidak jauh berbeda, dlsb), atau
  4. Komparasi diri dengan Visi Diri Kita Kedepan

Bagi saya keempatnya caranya tersendiri yang manjur untuk menampol diri saya. Sediakan waktu-waktu berfikir untuk men-defrag kembali otak kita, memetakan ulang aktivitas kita, menyadari apa saja hal yang penting namun selama ini luput kita kerjakan. Output terpenting dari proses refleksi ini tentu saja : tau diri. Tau diri kalau abis Ramadhan QL-nya ngos-ngosan lagi, tau diri kalau sedekahnya udah makin pelit lagi, tau diri kalau tilawah dan muroja’ah-nya mulai bolong-bolong lagi, dan seterusnya (itu mah saya ya)

Proses kedua adalah Self Acceptance. Menerima apa yang sudah sudah kita evaluasi sebelum dengan sebenar-benarnya adalah kesalahan diri kita seorang diri, tanpa excuse apapun! Seringkali banyak orang yang merasa sudah self acceptance tapi masih nyalahin faktor eksternal, cari excuse mulu kerjaannya.

Iya, saya ngerasa banget Ramadhan kemarin gak optimal..tapi ya gimana lagi kemarin jadwal di kantor unpredictable banget..

Mohon maaf ya Pak, Bu ndak bisa mudik…buyung jatah cutinya udah habis, uang beli tiket juga udah kepake buat bla bla bla..

Maaf ustadz, cuma bisa setoran tiga ayat aja…ini salah ana ustadz, kemarin ibu satu pekan minta diantar silaturrahim ke saudara-saudara terus…

Saya masih inget pesen Pak Arif Munandar dulu, kalau masih tetap mengakui kesalahan tapi masih bawa kata-kata ‘tapi’, ‘gimana lagi’, dan semua saudaranya tersebut..Jangan bermimpi akan ada perubahan!

Proses terakhir yang bernama self improvement, tentu adalah call to action dari perbaikan itu sendiri setelah menjalani proses self awareness dan self acceptance. Namun dalam praktiknya self improvement ini perlu ditambahkan satu kata didepannya : ‘immediate-self improvement‘. Karena kita manusia, maka self awareness dan self acceptance ada masa kadaluarsanya. Karena selalu ada hal-hal yang menjadi ‘penggoyah’ baru semangat perbaikan kita, belum lagi intervensi syaithan yang tentu punya kepentingan lebih untuk menggagalkan perbaikan diri kita.

*ternyata panjang juga cerita beginian*😀

Ya, pada intinya pada saat Ramadhan lalu saya menemukan sebuah momen sekaligus menjadi trigger yang cukup kuat untuk memperbaiki diri, kematian salah satu sahabat terbaik saya di Fasilkom UI angkatan 2007, Alm. Enrico Budianto. Kalau saya nulis tentang Enrico seperti saya duluuu banget pernah nulis tentang Jay di tulisan ini, mungkin bisa gak habis satu tulisan ini untuk menulis seberapa hebatnya beliau. Alumni SMAN 8 Jakarta, IPK tertinggi kedua se-UI di angkatan saya, kerja di salah satu perusahaan bonafid untuk anak Fasilkom UI, PHD Candidate di NUS Singapore di umur beliau yang masih belum sampai 27 tahun, bahkan terakhir sedang menjalani masa internship di Intel, USA. Enrico benar-benar punya semua syarat untuk jadi orang sukses. Beliau juga salah satu penggiat dakwah di Fasilkom dulu, salah satu yang memperjuangkan DAF (Dauroh Awal Fakultas) bisa dilakukan di luar kota lagi. Alhamdulillah, saya bisa ikut serta menshalatkan beliau dan memakamkannya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu…

Sepulang dari pemakaman beliau, saya sadar betul, Allah bisa saja memanggil saya kapanpun. Maka saya ber-azzam pada diri saya sendiri empat hal.

  1. Harus rekap semua hutang piutang yang teringat dan share catatan tersebut ke istri
  2. Belajar kaifiyat merawat jenazah (dari empat proses yang wajib, seluruh sunnah-sunnahnya, doa, dlsb) guna menyiapkan sebaik-baiknya untuk diri sendiri maupun keluarga
  3. Belajar dari alm. Enrico yang memiliki sifat kesungguhan dalam belajar dan bekerja keras dalam apapun. Maka saya bertekad untuk meneladani semangat beliau kembali.
  4. Menulis catatan, peristiwa, dan hikmah kehidupan, berharap menambah amal jariyah yang masih sangat jauh. Memang sepele, penting gak penting, tapi setelah dipikir-pikir, apalagi yang bisa ‘berbicara’ setelah kita wafat selain tulisan yang kita tinggalkan? Daripada gak nulis sama sekali?

Alhamdulillah satu dan dua sudah dilakukan, dan terus dilakukan. Tiga, insya Allah sedang dan terus diproses. Long live struggle. Empat, mudah-mudahan postingan ini menjadi immediate-self improvement yang bisa lakukan hari ini, dan berlanjut konsisten setelahnya.

The Afterlife


heningbanget

 

After we die from here, we are going to go to another state of life and it’s gonna go on for generations. Some people, that life in the grave that they are going through, they have been going through for thousands of years. And they have been in there. That’s another phase of life. We don’t see it as death. We see it as another stop in the journey of life. So when you compare all these stops in the journey of life, you will realize that this life, meaning from my birth to my worldly death is the shortest stop in this journey. The shortest span! And so when you realize that, you also realize this tiniest space, this tiniest lifetime that I have, the span that I have, this is the one that will determine all of my actions in the future.

My eternal life is…

View original post 164 more words

Karena Kita Hidup untuk Berjuang!


Tantangan di setiap fase hidup memang beda-beda ya..

Dulu waktu jaman-jaman SMA, berjuangnya gimana caranya bisa masuk PTN. Semua carapun dijabanin dari belajar tiap malem, ikut bimbel, ikut tryout sana sini, jajal tes-tes PTN yang ada, semua-muanya deh dijajal untuk impian yang satu ini.

Masuk kuliah, let say, di terima di fakultas yang didamba. Seneng? Pasti. Sudahkah happy ending? Boro-boro..Welcome to the jungle! *ini serius lho, UI kan emg bener2 hutan :D*

Kini kita dihadapkan dengan dunia baru yang serba mandiri, menuntut keaktifan, keuletan, dan kesungguhan yang tinggi. Belum lagi yang bergelut dengan.dunia organisasi, jangan harap bisa hidup tentram..Tapi ingat saja kaidahnya, “High risk high return, low risk low return.”🙂

Kuliah, organisasi, kuliah lagi, bantu2 orang, jatuh bangun mempertahankan finansial, tiba2 kejatohan amanah lagi, hingga skripsi..and finally wisuda! Menjadi raja dan ratu sehari, mendapati ratusan senyum kebahagiaan, puluhan bunga, ucapan selamat baik langsung atau via sosial media bak bidadari. Ya, hari yang sangat menyenangkan!

H plus satu wisuda, ketika kita membuka mata keesokan harinya, sudahkah selesai? Tentu saja, tidak. Perjuangan baru saja dimulai saudara, selamat datang di dunia paska kampus! Dunia paling galau seumur-umur. Begitu banyak pilihan: lanjut kuliah langsung atau masih ingin idealis membangun usaha bareng temen sekampus, atau membuang semua angan itu dan hunting-hunting kerjaan aja seperti alumni yang lain? Apapun pilihannya yang pasti harus mandiri, sebisa mungkin menabung untuk bahagiakan orangtua, investasi, dan tentu saja..menikah.

Dua bulan paska menikah. Ya, ahirnya punya istri, tinggal di sebuah kontrakan mungil bersama dengan ibu. Cukupkah sampai disini? Sekali lagi tentu belum sampai disini. Perjuangan baru pun dimulai untuk membahagiakan keduanya, menyiapkan kehidupan yang layak untuk keluarga kecil kami..

Sekarang tantangan KPR yang berada di depan mata. Pertama kali mengambil resiko berhutang ratusan juta ke bank, berbingung-bingung ria dengan bagaimana cara bayar DP nya, dan seterusnya dan seterusnya..

Dan beberapa hari ini pun dikejutkan dengan hadiah Allah pada kami berupa ‘si kecil’ yang sudah ada di perut ummi-nya..Artinya harus bersiap dengan segala biaya untuk USG janin, kontrol kandungan, segala nutrisi untuk ibu hamil, biaya persalinan, hingga membesarkannya hingga dewasa kelak..

Ya, karena kita hidup untuk berjuang bukan?🙂

Gambar

Yap, berpikir dengan tenang saja.seperti biasa. Niatkan dan lakukan seperti biasa saja, sisanya serahkan pada Allah, mudah saja bukan?🙂

Rabu, 6 Maret 2013
23.46 WIB

*akhirnya bisa nulis lagi setelah menunggu beliau terlelap..Sst, doakan kami ya😉

Kilas Balik Paska Kampus (2): Bahagia!


“Kebahagiaan hakiki adalah ketika kita terkoneksi dengan Allah! Salah satu cirinya adalah apabila keinginan kita sejalan dengan takdir Allah..

“Ketika kita ingin masuk kampus ini, kita ditakdirkan Allah masuk ke kampus tersebut..Ketika kita ingin bekerja di perusahaan ini dengan gaji segini, Allah takdirkan kita bekerja disana..Ketika kita ingin berjodoh dengan ikhwan/akhwat ini, maka Allah jodohkan kita dengannya..”

“Dan orang-orang yang terkoneksi dengan Allah, bila apa yang ia citakan tidak baik dimata Allah, maka dengan sangat halus, Allah akan belokkan keinginan kita dengan indah, lahirkan rasa nyaman, bahagia itu, sesuai dengan apa yang ia takdirkan pada kita. Inception.”

Deg! Nasihat Pak Deddy Nordiawan saat kultum di kantor Badr Interactive Ramadhan lalu terasa telak sekali bagi saya saat itu. Nasihat tersebut secara refleks meletupkan memori-memori itu kembali.. Continue reading

Kilas Balik Paska Kampus (1): Bersyukur


“Mari kita sambut perwakilan sambutan wisudawan, Saipul!”

Tepuk tangan dan suara wisudawan dan para undangan menggemuruh saat itu. Saipul yang awalnya duduk santai-santai saja dengan toganya, mendadak panik. Sejak awal dia memang tidak mengira mendapatkan kehormatan ini, karena banyak rekan satu angkatannya yang sebenarnya jauh lebih pantas dibanding dirinya. Dari Si A yang kemarin saat wisuda UI di Balairung didaulat menjadi IPK tertinggi se-UI. Atau Si B yang menjadi mahasiswa berprestasi Fasilkom UI tahun ini bahkan menduduki peringkat 4 di tingkat UI. Atau rasanya orang-orang lebih ingin mendengar orasi si C yang dulu menjadi ketua BEM Fasilkom UI di masanya. Atau si D yang Abang Jakarta, si E yang juara ini juara itu, atau rekan-rekan wisudawan lainnya yang jauh lebih prestatif darinya. Namun apa daya, nasi pun sudah menjadi bubur, mari kita buat sekalian bubur ayamnya. Begitu kata Aa Gym. Continue reading