Am I a Leader ?


Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh !

Lagi-lagi ni blog di dzalimin lagi..Sampe dashbor-nya uda berdebu gini, gak pernah di login-in..🙂

Kali ini beneran deh, gara-garanya kemarin di kirimin message ma teman kenalan di PIMNAS yang nemu ini blog, wah..jadi malu anak Fasilkom, sering online tapi blognya gak diapdet.

Untuk pertama saya mau share esai kepemimpinan saya kali ya.

Dalam tiga bulan terakhir ini, tiga besar mahasiswa berprestasi dari masing-masing fakultas pada dikumpulin untuk diberi pelatihan kepemimpinan, namanya ILDP. Truely inspiring ! Kapan-kapan bakal di share deh apa aja yang uda diajarin disana.

Ada tugas buat esai kepemimpinan dengan judul seperti postingan ini, “Am I a Leader ?”, jadilah deh tulisan dibawah ini.

Agak panjang dan membosankan memang, tapi gini-gini peringkat ke-2 terbaik lho, hehe. Walaupun baru dibuat pas lagi materi ILDP sesi paginya. Semoga bisa makin menguatkan dan jadi pengingat kalau punya cita-cita ini.

***

Am I a Leader ?

Leader atau pemimpin berasal dari kata “pimpin”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata “Pimpin” mempunyai pengertian bimbing atau tuntun, sedangkan pemimpin adalah orang yang memimpin. (Memimpin: memegang tangan seseorang sambil berjalan (untuk menuntun, menunjukkan jalan, dan sebagainya), mengetuai atau mengepalai (rapat, perkumpulan, dsb), memandu, memenangkan paling banyak, melatih (mendidik, mengajari, dan sebagainya), namun tentu ini tidak kita bahas, karena kita tidak sedang belajar bahasa Indonesia.

Sederhananya, seorang leader bagi saya adalah seorang Mahmoud Ahmadinejad, seorang doktor di bidang tatakota, yang mampu mengubah Teheran, sebuah kota yang terkenal dengan tata kota paling buruk di dunia, ketika beliau menjadi walikotanya Teheran sekarang menjelma menjadi salah satu kota yang memiliki tata kota paling baik di dunia. Sebuah pertunjukan jiwa kepahlawanan yang dikombinasikan dengan kompentensi teknis yang berdampak besar bagi masyarakat.

Seorang leader adalah seorang Umar bin Khattab, seorang khalifah umat Islam saat itu, ketika menyaksikan seorang janda miskin yang sedang memasak batu demi menenangkan anak-anaknya yang tengah kelaparan, tanpa banyak bicara ia langsung pergi ke Baitul Maal lalu memanggul sendiri sekarung gandum dan dibawanya langsung kehadapan si janda miskin tersebut. Kali ini sebuah bentuk kecintaan dan jiwa kepahlawanan yang merakyat, peduli, dan tidak malu untuk melakukan pekerjaan paling rendah sekalipun, jika memang itu yang dibutuhkan rakyatnya.

Seorang leader adalah seorang Jendral Sudirman yang selalu dielu-elukan karena setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, mampu menggelorakan semangat para pejuang kita hingga menang di Palagan Ambarawa walaupun di umurnya yang sudah senja bahkan di saat beliau tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya sendiri karena penyakit kelumpuhan yang dialaminya. Sebuah teladan yang selalu berkontribusi walaupun ia harus mengorbankan dirinya, jika memang itu yang diminta.

Seorang leader juga harus berani layaknya Daud muda yang tidak gentar sedikitpun melawan Jalut, representasi bentuk kemungkaran yang besar dan menakutkan. Leader pun tidak hanya bermodal berani saja, namun juga punya kemampuan analisis serta positioning yang tepat seperti Recep Tayyip Erdogan, perdana menteri Turki yang mampu membangun opini agama Islam dengan kemasan yang moderat ditengah-tengah negaranya yang sudah mulai jarang dan dipenuhi ideologi sekuler. Seorang leader juga harus memiliki endurance untuk menggapai mimpinya. Layaknya Rasulullah SAW yang tidak kenal lelah dan kecewa, walaupun dilempari batu, kotoran, dimusuhi, dicaci, karena Rasulullah yakin bahwa Allah akan membuat Islam berjaya di bumi Mekkah ini suatu saat nanti.

Itulah kata-kata kunci kepemimpinan bagi saya, seorang pemimpin yang punya kompentensi teknis di bidangnya, kepedulian dan kecintaan besar kepada apa yang dipimpinnya, dan mau berkorban apapun untuk umat. Ia juga seorang visioner yang pemberani namun juga cerdik dalam memposisikan diri serta memiliki semangat yang konsisten untuk terus memperjuangkan mimpi-mimpi republik ini. Inilah pemimpin yang sejatinya dibutuhkan oleh bangsa ini, yang dapat mengembalikan jati diri bangsa besar bernama Indonesia dari semua keterpurukan hari ini.

“Are you a leader ?”

Pertanyaan yang berat dan harus diakui itu masih jauh dari profil seorang Big Zaman.

Seorang pemimpin sebelum banyak meneriakkan tentang pendidikan di jalanan, tentu harusnya ia telah selesai dengan masalah akademis di kampusnya sendiri karena ini adalah bentuk investasi kompetensi teknis yang harus dimilikinya di dunia paska kampus nanti. Nilai kurang dari 3.5 tentu bukan angka yang dapat merepresentasikan sebuah kompetensi yang baik, namun kurang lebih itulah keadaan akademis saya sekarang.

Poin kepedulian dan kecintaan memang agak sulit diukur tapi memang itu dapat diukur dari output apa yang dipimpin. Ya, lagi-lagi saya harus mengakui Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM Fasilkom UI, Lembaga Dakwah Sahabat Asrama, Forum Angkatan Asrama, dan beberapa kepanitiaan yang saya bawahi masih jauh dari kata optimal.

Keberanian, positioning yang baik, endurance yang tinggi, terkadang juga belum selalu bisa dilakukan. Keberanian terkadang masih sering tergantung keberadaan pendukung yang satu pemikiran. Positioning pun masih sulit dilakukan karena keberadaan saya yang lebih suka di area “nyaman”. Di poin endurance menjadi pukulan yang paling telak bagi saya yang sering kali masih suka naik turun semangatnya.

Tapi saya punya mimpi ! Saya ingin dikenal sebagai orang yang telah melakukan perubahan. Sebagai seorang Kadep Adkesma, saya  selalu bercita-cita ingin mewujudkan UI yang berkualitas namun tetap terjangkau bagi semua elemen masyarakat. Dan jelas, untuk bisa mewujudkan itu, tidak mungkin hanya berhenti di posisi Kadep Adkesma saja, tapi mau tidak mau posisi rektor atau ketua MWA UI adalah harga mati untuk sebuah perubahan. Persiapan kompentensi diri menjadi konsideran utama dan bismillah, saya juga akan berusaha menerapkan kompetensi IT saya untuk  mengabdikannya kepada bangsa ini.

Segala kekurangan pun sedang saya usahakan perbaiki sebisa mungkin mumpung masih kampus, mencoba terjun di dalam permasalahan kemahasiswaan, berhadapan dengan birokrat, melatih diri untuk membaur dengan teman-teman yang lebih plural lagi, dan yang terpenting terus memperbaiki motivasi untuk menjaga konsistensi. Terus bersama dengan orang yang punya cita-cita besar seperti rekan-rekan di PPSDMS, sahabat-sahabat di ILDP, teman-teman aktivis kemahasiswaan, saudara-saudara di lembaga dakwah kampus, adalah harga mutlak untuk sebuah perubahan.

Sebuah tagline yang selalu menggema dibenak saya, bahwa seorang pemimpin tidak dapat dilahirkan, namun harus diciptakan. “Pemimpin” paling banter hanya akan menjadi “pimpinan” bila tidak dipersiapkan. Satu hal yang saya yakini, bahwa kepemimpinan adalah kapasitas yang bertemu dengan peluang. Tidak lebih. Sebagai seorang muslim, tugas kita hanya untuk terus meningkatkan kapasitas, kapasitas keilmuan kita, kapasitas keahlian kita, kapasitas ibadah kita dan bila kita ditakdirkan untuk amanah itu, maka ia tidak akan lari kemana-mana. Bukanlah tugas kita untuk meminta atau mengharapkannya, namun bila amanah itu datang maka laksanakanlah dengan sesempurna mungkin !

Bismillah, terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri hingga pada saatnya nanti, saat amanah itu memanggil, kita dapat optimal memberikan kontribusi untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

***

And now, what do you think about ‘A Leader’, laddies and gentleman ?🙂

8 thoughts on “Am I a Leader ?

  1. Tulisan yang luar biasa, kak big =D

    Menurut saya, pemimpin itu manusia berkapasitas tinggi yang memiliki kesucian hati untuk mengabdi. Mereka ikhlas mewakafkan diri-nya sendiri untuk kebaikan umat. Berani bercita2 yang tinggi untuk kebesaran orang lain juga, bukan hanya untuk kebesaran diri sendiri. Pribadi2 yang memiliki sifat peduli, profesional, dan bermanfaat =D

    Saya yakin kak big benar2 berkapasitas utk menjadi seorang pemimpin. Tapi kalo nanti udah jadi rektor UI (aaamin), tetap istiqomah ya kak. Soalnya kekuasaan sangat berpotensi mengubah sifat, niat, dan pola pikir seorang. Hehehe

  2. Wedeeeeh, akhirnya diapdet juga ni bos blognya😆
    Subhanallah, keren dah postingannya. Kasih 2 jempoool d(^.^)b
    Walaupun saya bukan seorang laki2 yg biasa memimpin, tapi hal ttg kepemimpinan ini cukup menarik buat saya (gara2 waktu wawancara beasiswa AHPS banyak bgt ditanyain ttg leadership :P). Kan yang bisa jadi pemimpin kan bukan laki2 doank😛. Ditunggu ya kak share hasil pelatihan dari ILDP nya😀.
    Hmmm… buat saya, pemimpin sejati itu bukan hanya sekedar orang yang memimpin sesuatu, tapi ia bisa memposisikan dirinya sesuai sikon, gak cuma bisa ngomong doank tapi benar2 mengerti keadaan apa yang dipimpinnya, bukan hanya pintar saja tetapi juga cerdas, bisa diandalkan dan menjadi panutan yg baik, ikhlas dan rela berkorban demi kepentingan apa yang dipimpinnya, dan bisa mengevaluasi baik diri sendiri ataupun yg dipimpin untuk selalu menuju yang lebih baik dalam mencapai tujuan dari kepemimpinannya itu.🙂

  3. Subhanallah, tulisannya bagus, menginspirasi.
    mata saya berkaca2 membacanya, hehe lebay.
    tapi suer membuat mata saya berkaca-kaca. pas sekali dengan kondisi hati saya…

    Ahmadinejad tokoh favorit saya dalam rencana bku skripsi…
    Umar bin Khatab tohoh pemberani saya pas lagi sedih,
    makna leader yang sedang dipertanyakan…
    nilai yang kurang di atas 3,5 yang cukup menghambat proses pcapaian 3,5 tahun.
    semua potongan2 kata2 rumit dalam kepala ada dalam tulisan ini
    hehe,
    ente memang membuat saya tidak mau kalah dan tidak mau tidak bersemangat.

    2 be true leader…. Bismillah.

  4. Pemimpin adalah seorang yang dianggap/terlihat berkapasitas bertemu dengan zaman dimana ia harus memegang kendali terdepan.
    Pilihannya adalah hanya berusaha yang terbaik yang orang itu bisa lakukan.

    “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.”
    “Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku)”.
    “Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira”.
    (Ketiga hadist di atas HR. Al-Bukhari)

  5. Wah, masih ada yang suka komen. Asik..jadi semangat ngeblog lagi.🙂

    @ satria :
    wah, selamat datang satria, sepertinya ini komen pertama kamu. (hehe, sok beken)
    Sepakat penuh ! Kesucian hati emang salah satu kata kunci yang tepat untuk selalu menunjukkan keikhlasan.

    Oke, terimakasih untuk do’anya ! Insya Allah, makanya nih belajar ngajinya digenjot juga..🙂

    @ ade :
    iye dah, yang keterima beasiswa AHPS..tinggal dibuktiin aja de, sama2 belajar ma kita.
    Jadi inget masih banyak dosa, belum bisa jadi pemimpin yang baek di SITRUM..huhu

    @ puspa :
    bismillah..semangat calon bu ketua DPR !🙂

    @ fajar :
    amiiin.
    berusaha yang terbaik..ayeee ! Ayo jar, urusin PMB tuh…hehe

  6. “Bukan posisi yang membuat seseorang menjadi pemimpin, namun karena kepemimpinannyalah seseorang berada di posisi tersebut”

  7. Saya suka banget kata2 big yg ini:
    “Bukanlah tugas kita untuk meminta atau mengharapkannya, namun bila amanah itu datang maka laksanakanlah dengan sesempurna mungkin !”
    …. Astaghfirullah, akhir-akhir ini ada beberapa amanah yg terbengkalai krn kesibukan akademis dan bisnis.😦

    Btw menurut saya, pemimpin itu seseorang yg mau mendengar orang-orang yang dipimpinnya serta tidak bersikap otoriter🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s