Sore itu di PPSDMS


Satu hal yang sering saya lakukan ketika mulai kehilangan semangat, ketika kering inspirasi, satu tempat yang akan selalu terbayang. Ya, PPSDMS. Gedung yang pernah saya tinggali selama 8 bulan itu memiliki makna tersendiri di hati ini. Walaupun hanya sebentar, tapi disana saya memahami mengapa saya harus hidup di dunia ini, dimana tidak lain tidak bukan adalah untuk umat.  Ya, bahwasanya setiap rupiah yang datang bukan tanpa titipan..

Selalu ada inspirasi baru sepulang dari berkunjung ke tempat ini, termasuk beberapa hari yang lalu ketika saya berkunjung kesana. Saya menemukan sebuah newsletter bulanan PPSDMS terserak di mushola. Iseng-iseng baca dan wow, menemukan sebuah tulisan yang cukup inspiring bagi saya.

Tulisan ini ditulis oleh salah satu santri PPSDMS yang paling tenar dan dinilai paling sukses saat ini. Ya, tepat ! Beliau adalah Shofwan Al Banna. Silahkan dinikmati.🙂

***

Sore itu di PPSDMS

oleh : Shofwan Al Banna

 

Sore itu saya baru saja menghadiri salah satu acara PKN PPSDMS di gedung asrama yang kini berwarna biru, menemani Pak Adhyaksa Dault membagi rumus DORAEMON-nya pada para peserta. Riuhnya semangat para peserta membuat saya agak sentimentil. Ingatan saya kembali ke masa-masa di asrama PPSDMS (kebetulan waktu itu masih belum di gedung kokoh yang sekarang).

Sambil mengenang suka duka di asrama dahulu, mata saya melihat foto-foto para alumni yang dipajang berurutan. Kebetulan, ada foto saya juga di situ. Tiba-tiba, Abah alias Bang Bachtiar Firdaus, mengeluarkan celetukannya yang khas: “Belum ada prestasi baru ya? Masih yang ditulis di situ-situ aja.” Khas beliau, persis saat mengevaluasi para peserta PPSDMS angkatan kedua setiap bulan. Pasti pedas, tapi anehnya selalu memotivasi. “Itu tahun 2009 lho,” lanjutnya lagi.

“Iya nih bang,” saya tersenyum kecil. Tersentil. Sudah lama juga tidak meninggalkan sesuatu yang bermanfaat. Rutinitas membuat beberapa naskah buku terbengkalai tidak tersentuh. Aktivitas sosial juga tidak ada yang spektakuler. Tulisan juga sudah jarang masuk media nasional, kecuali beberapa yang levelnya biasa-biasa saja. Duh, bukankah orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah orang yang celaka?

Pulang dari acara PKN itu, saya mulai berpikir, menyusun strategi untuk meninggalkan jejak yang bermanfaat di tahun 2010 yang hampir berakhir. Di rumah, saya mulai membongkar-bongkar folder di laptop, melihat kembali naskah-naskah tulisan yang lama tidak tersentuh. Mulai membuat target.

***

Beberapa hari kemudian, saya sedang berada dalam sebuah diskusi mengenai alumni aktivis mahasiswa yang sekarang sudah tersebar di mana-mana, mulai dari wirausahawan, wartawan, sampai PNS teladan. Banyak yang masih ingin berkontribusi untuk melakukan perbaikan masyarakat, namun bingung mencari wadahnya.

Diskusi larut malam itu berkembang sampai soal peningkatan kapasitas gerakan sosial yang berbasis anak muda. Untuk memperkaya diskusi, kami juga mulai melihat-lihat internet untuk mencari bahan-bahan diskusi. Mencari dalil dan dalih untuk membuat diskusi malam itu semakin seru. Kebetulan, saat mencari dengan kata kunci “youth empowerment”, kami diarahkan oleh Google untuk membuka sebuah laman dari Center for International Private Enterprise. Menurut keterangan di website-nya, lembaga ini memiliki afiliasi dengan Chambers of Commerce-nya Amerika Serikat. Yang membuat halaman itu terlacak dalam pencarian dengan kata kunci “youth empowerment” tersebut adalah sebuah pengumuman yang terpampang besar-besar di situ: “CIPE International Youth Essay Contest” yang tema besarnya adalah Youth Empowerment.

Sepertinya menarik. Lagipula, temanya sama persis dengan diskusi yang sedang kami lakukan. Kalau ditulis dengan cukup baik, barangkali gagasan itu bisa menang dan menjangkau lebih banyak orang, termasuk anak-anak muda di Indonesia. Malam itu, saya memasukkan satu target lagi dalam rencana tahun 2010.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Siapa yang bersungguh-sungguh akan menemukan jalan.

***

Naskah esai untuk lomba itu sudah terkirim cukup lama dan saya mulai berfokus pada aktivitas-aktivitas lain saat email dari CIPE itu datang. Judulnya memberikan harapan: “Congratulations!”

Alhamdulillah. Email itu merupakan pemberitahuan dari panitia bahwa esai yang saya kumpulkan menjadi juara kedua dalam kategori tema “Democracy that Delivers.” Saat saya cek websitenya, http://www.cipe.org, pengumuman itu disertai link pdf esai para pemenang sudah dipajang. Agak sedikit kecewa sebenarnya, karena hanya menjadi nomor dua. Namun, menjadi nomor dua dari 650 naskah yang dikirim dari 150 negara bukankah juga sudah lumayan? Bukankah kesyukuran akan menambah nikmat dan ketidakmampuan bersyukur adalah awal dari bencana? Toh gagasan itu sudah tersampaikan.

Oya, esai tersebut menuangkan gagasan mengenai pemberdayaan anak muda sebagai kunci untuk menyehatkan sistem politik Indonesia. Meskipun banyak hal telah berubah melalui reformasi, banyak perbaikan yang harus dilakukan. Pintu partisipasi dan institusi untuk itu didirikan, namun ternyata hanya segelintir elit saja yang bisa berjalan mendekati pintu itu. Ada perbaikan di sisi “input”, namun sisi “proses” (pembuatan undang-undang, pembuatan kebijakan, penyusunan anggaran, dll) masih gelap dan sisi “output” (pelaksanaan kebijakan, profesionalitas, dll) masih bermasalah. Kuncinya adalah menguatkan partisipasi di tiga hal itu: input, proses, output. Lalu, kunci untuk partisipasi publik adalah pemberdayaan generasi mudanya –komponen paling dinamis dari masyarakat Indonesia. Sayang, praktek politik yang kotor membuat anak muda malas terlibat dalam politik. Esai ini membahas bagaimana strategi membuat potensi besar anak muda ini mewujud.

Sebenarnya, sebagian gagasan dalam esai tersebut juga ada dalam naskah buku “Negara Adalah Kita” yang sedang disusun tapi tidak selesai-selesai. Mohon doa supaya akhir tahun ini bisa kelar.

Sekarang, berkaitan dengan lomba tersebut, saya masih beremail-emailan dengan panitia terkait publikasi esai tersebut dan profil para pemenang untuk ditampilkan. Semoga hal ini bermanfaat bagi umat, rakyat, bangsa dan Negara –menjadi satu diantara jutaan cahaya yang dinyalakan oleh lentera PPSDMS.

Bagi saya, pelajaran penting dari keikutsertaan di lomba ini justru dimulai dari kejadian kecil di gedung PPSDMS: bangsa ini akan tumbuh menjadi lebih baik dan bermartabat jika kita terus merawat kebiasaan untuk saling memotivasi dalam kebaikan.

***

Ya, lagi-lagi cuma bisa tertohok. Orang seperti Bang Shofwan saja masih berfikir seperti itu, weleh..weleh..lalu ente, Big?

Well, tidak ada kata terlambat untuk berubah kan? Mari bersemangat menyongsong tahun ini rekan-rekan!🙂

6 thoughts on “Sore itu di PPSDMS

  1. subhanallah d(^.^)b
    btw, esainya boleh di-share ga kak?

    Bukankah kesyukuran akan menambah nikmat dan ketidakmampuan bersyukur adalah awal dari bencana?
    tulisan ini sepertinya akan saya pajang gede2 di kamar supaya saya gak lupa bersyukur atas hal SEKECIL APAPUN😀

    makasih ya kak big🙂

  2. @ Mbak Asri :
    Wa’alaykumussalam wr wb !
    Hehe, iya mbak..maklum uda mahasiswa tingkat akhir (lho maksudnya? :p)
    Jadi inget uda lama gak mampir di cahaya mata dan hatinya mbak asri..ok, ke tkp ya mbak🙂

  3. Jadi bertanya pada diri sendiri juga, lalu qm sendiri gimana Sarah?
    Uda berbuat apa saja?

    Jzk khoir Big, aq benar2 tertohok dg tulisan Shofwan Al Banna di atas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s