Belajar Memaknai Kehidupan.. (1)


Semenjak dulu sebenarnya saya sudah bertekad gak pengen cerita-cerita tentang masa-masa awal di UI, terlalu suram. hehe. Ya, saya hanya tidak ingin dikenal sebagai anak yang terlunta-lunta, patut dikasihani, atau sejenisnya. Ujung-ujungnya jadi seperti di SD, SMP, SMA, jadi anak yang aman-aman saja, tampang melas, belum ngapa-ngapain pasti ujung-ujungnya dibelakang ada amplop, โ€œIni ya Big, buat sekolah..sekolah yang pinter ya biar kayak Bapak.โ€ Ya, selalu berakhir dengan ending seperti itu.

Tapi belakangan saya sadar, bukannya ini tergantung niatnya? Beberapa hari terakhir banyak diminta menjadi pembicara, yang ujung-ujungnya meminta saya cerita kehidupan awal di UI. Ya, walhasil karena saya gak punya cerita yang lebih bagus, jadilah keluar..Lucunya kata orang-orang inspiring lah, mengharukan, bahkan ada anak PPSDMS yang minta saya nulis. Nah, lho?

Anyway, saya mau buka saja lah ya sekalian. Kebetulan dulu pernah diminta wawancara untuk buletin TOOP (The Out of Ordinary People : Profil Anak Fasilkom yang Menginspirasi). Semoga ada anak nyasar dari mana, yang masih ragu kuliah karena mahal, ada kok saksi hidup semua pernyataan itu sama sekali tidak benar!

***

Menghadapi Masalah Finansial

Sebelumnya, kami ingin mengucapkan terima kasih atas kesediaan kamu untuk berbagi kisah hidup yang luar biasa๐Ÿ˜€ Semoga pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat membantu kamu untuk menuangkan cerita ya๐Ÿ˜€

Selamat bercerita!

Bagaimana kondisi finansial keluarga sebelum kamu masuk Fasilkom hingga saat ini? Apakah semenjak sekolah kamu sudah punya andil dalam membantu keuangan keluarga (misalnya mengajar, beasiswa)? Apa saja yang kamu lakukan?

Kondisi finansial keluarga ya ? Hmm, biasa-biasa aja sih. Mungkin memang faktor terberat karena Bapak sudah tidak ada, terus ibu tidak bekerja apa-apa, mbak pindah-pindah kerja terus dari bekerja menjadi karyawan di perusahaan garment, lalu menjadi administrasi sebuah kantor cabang surat kabar, namun pindah lagi menjadi penjaga warnet. Terakhir saya dengan beliau sekarang telah bekerja menjadi seorang shopkeeper di suatu toko.

Kalau kata Bapak saya, saya ini dibilang anak yang paling tidak ngerepoti, karena dari SD selalu dapat beasiswa, hingga sekarang kuliah. Makan pun gak macem-macem. Kalau dalam membantu orang tua, paling banter dulu hanya suka bantuin Bapak jaga warung pecel, mau jadi loper koran gak boleh sama ibu. Oia, sebelum saya SPMB saya juga sempat bekerja sebagai tukang bagi brosur di Bimbingan Belajar Nurul Fikri karena uangnya akan saya gunakan untuk membeli formulir SPMB.

Pada awalnya, apa membuat kamu terpikir untuk masuk Fasilkom? Setelah mengetahui biaya kuliah yang besar, apa yang membuatmu tetap bertekad untuk masuk Fasilkom?

Jangankan terpikir biaya yang besar, Fasilkom yang mana juga saya tidak tahu.๐Ÿ™‚

Cerita sedikit, dulu saya sebenarnya pengen masuk jurusan Elektro ITS. Tapi karena dahulu waktu tryout bosen lulus terus (hahay!), jadilah saya searching untuk pilihan kedua saya. Ada yang memberi saran FK UI. Buseeet..tinggi bener, lagian saya juga anti-Biologi, bisa tidak tentram hidup saya nanti. Akhirnya jatuh pada grade tertinggi kedua di UI, yaitu Ilmu Komputer UI. Iseng-iseng pun saya tulis Ilmu Komputer UI yang saya sama sekali tidak tau bentuknya seperti apa sebagai pilihan pertama dan Elektro ITS di pilihan kedua, dengan asumsi ya..saya kan tidak pinter jadi imposibble bisa masuk UI yang passing grade nya setinggi itu. Namun, salah perkiraan ternyata, saya kebablasan masuk UI !

Tergambar jelas bagaimana proses saya memilih Fasilkom, sama sekali tidak ada pemikiran biaya sebagai konsideran utama. Ya, ada suatu doktrin yang hingga sekarang masih menancap kuat di kepala saya, โ€œMasuk UI merupakan seleksi intelektual, bukan seleksi finansial..โ€

Dan uhuy, saya pun kembali bersemangat. Satu hal yang juga yang menjadi prinsip saya sehingga saya selalu kuat, โ€œSelama kita punya tekad yang kuat, pasti ada jalan..โ€

Bagaimana keadaan dan perasaanmu selama menghadapi situasi finansial yang kurang mendukung perkuliahan seperti itu?

Hmm, saya jadi ingat waktu pertama kali saya tau saya diterima di UI, ekspresi pertama saya memang sangat bahagia, bisa menembus passing grade yang luarbiasa tinggi, ibu juga pasti akan senang kalau tau masuk UI, namun itu tidak lama. Seketika saya sedih bahkan menangis !

Bingung bagaimana bisa saya bisa hidup di Jakarta, dimana saya tidak punya saudara yang kami kenal baik, membayar setiap biaya perkuliahan, bahkan untuk berangkat saja tidak bisa !

Seketika semua cita-cita, mimpi-mimpi itu serasa hilang perlahan dengan semua sinar kebahagiaannya tertutup oleh sebongkah tembok yang tinggi dan tebal.

Tidak mungkin, tidak mungkin saya bisa ke UI..

-cihuuy..uda mulai dangdut, makanya baca terusannnya !๐Ÿ˜‰ –

Bagaimana cara kamu mengatasi masalah finansial tadi? Apa saja yang kamu lakukan? Adakah yang membantu kamu? Berupa apa bantuan yang dia berikan?

Ya, Alhamdulillah..ternyata Allah memang selalu punya rencana yang istimewa pada setiap hambaNya. Betapa tidak ketika saya mulai hampir berputus asa, tiba-tiba handphone saya berbunyi. Tau gak siapa yang telpon ? Ya, itu Krisna, Krisna Setioaji alias Koji, teman satu angkatan di SMAN 5 Surabaya tapi beda kelas yang ternyata akan menjadi teman satu angkatan di Fasilkom. Agak aneh saya tiba-tiba mendapat telpon dari beliau karena sesungguhnya walaupun kami saling mengenal hanya sebatas tau nama dan muka saja, bisa dibilang tidak ada hubungan apapun dari kami selain dulu pernah dalam satu kepanitiaan saja.

Ya, saya pun bercerita tentang kondisi saya. Dan tanpa banyak cincong, Krisna yang sangat kongkret langsung menginstruksikan kepada saya untuk menyiapkan semua berkas yang akan dibawa dan bersiap-siap karena besok dia dan supirnya akan menjemput saya di sekolah.

Subhanallah, dan saya pun bisa berangkat ke UI dengan bantuan beliau dan keluarganya. Saya dinaikkan pesawat terbang oleh keluarganya Krisna. Ya, alhamdulillah..berkat saya kuliah di UI saya jadi merasakan naik pesawat pertama kali. Yeah !๐Ÿ˜€

Sampai di Depok pun banyak sekali yang membantu saya. Dengan hanya berbekal uang 200ribu dan 3 stel baju dan celana bahan plus ijazah, saya bisa hidup dari awal kuliah hingga libur lebaran, sekitar 3 bulan. Dari teman-teman Surabaya yang di UI, ada yang namanya Mbak Cici anak FE 2006 yang ketika saya datang, beliau langsung membawakan satu plastik besar yang berisi baju, sepatu, bahan-bahan makanan, subhanallah..saya benar-benar terharu saat itu.

Sebuah kisah yang juga akan selalu saya ingat, hari ketika OKK dilakukan oleh semua mahasiswa 2007, tiba-tiba handphone saya berdering, ternyata sekretariat Fasilkom yang menelpon, saya disuruh untuk ke Fasilkom.

Ketika di Fasilkom ternyata saya diingatkan untuk melakukan pembayaran uang kuliah. Uang BOP dan UP saya memang alhamdulillah nol rupiah, namun kata si ibu sekretariat saya tetap harus membayar nominal sekitar 700 ribuan untuk DKFM dan itu tidak bisa dibeasiswakan. Saya pun mengutarakan kondisi saya dimana saya hanya berbekal uang 200ribu saja dari Surabaya, dan sekarang pun sudah banyak berkurang karena digunakan untuk makan. Namun, si ibu tidak peduli bahkan terkesan mengancam bila tidak dilunasi jam 2 siang ini maka pembayaran kuliah saya akan menjadi 25 juta lagi.

Astaghfirullah..benar-benar kejam. Saat itu juga saya keluar dari sekretariat dan duduk-duduk di sekre, saya menangis di situ. Saya bingung harus melakukan apa. Sekarang sudah sekitar jam 11, tiga jam lagi saya harus membawa uang 700 ribu yang entah bisa saya peroleh darimana. Hampir saja saya di DO sebelum kuliah, namun Allah memang selalu punya kejutan yang luarbiasa. Allah menurunkan seorang malaikat rahmatNya yang saat itu saya dapatkan dari seorang sosok dosen Fasilkom. Seorang dosen yang hingga sekarang selalu saya hormati dan sayangi teramat sangat, Bu Kasiyah. Beliau menyuruh saya ke ruangannya dan memberikan uang tersebut langsung dari kantong beliau sendiri.

Ya, dapat ditebak apa yang saya lakukan, lagi-lagi saya hanya bisa menitikkan air mata, betapa banyak orang yang menyayangiku disini..

Alhamdulillah sekarang saya dalam kondisi yang lebih baik, saya telah mendapatkan beasiswa Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDDMS) Nurul Fikri, saya sudah punya murid privat, plus ngerjain proyek dikit-dikit.

Ya, ini pasti kerjaanNya Allah, siapa lagi yang punya kekuatan sebesar Dia..๐Ÿ™‚

***

Yap, cukup sekian dulu, karena masih panjang besok kita sambung lagi ya.๐Ÿ™‚

8 thoughts on “Belajar Memaknai Kehidupan.. (1)

  1. yaaah gara2 pacar saya berhari2 nginep di mangga 2, jadi ketinggalan ceritanya kak big nih saya -.-
    alhamdulillah sekarang udah balik๐Ÿ˜€
    subhanallah kak big, ceritanya bener2 menginspirasi.. *dulu aja saya diomel2in gara2 buku kuning T.T*
    yeaah, jika kita suka menolong Allah, Allah pasti akan selalu menolong kita dari arah yang tak terduga-duga๐Ÿ˜‰

  2. Big ceritanya boleh saya share ga nih alias ijin copas? Siapa tau menginspirasi banyak batu-batu berlian di negeri ini yang terhalang tembok pesimis.

  3. @ ade : alhamdulillah, makanya diistirahatin atuh de laptopnya, jangan dikerja rodikan buat ngoding terus..๐Ÿ˜›

    @ fajar : tafadhol ustadz kalo ada hikmah yang bisa diambil.๐Ÿ™‚

  4. Subhanallah… Benar-benar terharu…
    Itu bukti kalo Allah bener2 sayang sama Big.. ^^

    Kisah ini memang menginspirasi kok, bahwa pertolongan Allah itu pasti akan datang, pada hamba-Nya yg benar-benar bertawakkal pada-Nya setelah ber-ikhtiar dg maksimal..

    Big, antum ini, selalu rendah hati, salut!!๐Ÿ™‚

  5. Subhanallah…
    Bermula dari blogwalking, jadi sering bertemu dengan kisah2 menginspirasi.^^
    Semoga bisa se semangat kak big dan kawan2nya yang juga luar biasa.. aamiin

    Terus menginspirasi kak Big. Semoga Alloh senantiasa memberikan pertolongan-Nya entah dari mana pun jalan-Nya…๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s