MAPRES : One Step to Change !


Menjadi salah seorang dari barisan mahasiswa berprestasi Fakultas Ilmu Komputer bahkan sama sekali tidak pernah terbesit sedikitpun di pikiran saya. Termimpikan atau bahkan terbesit sekalipun sama sekali tidak pernah. Sadar diri saja, seorang Big Zaman yang biasa-biasa mana mungkin bisa mengejar gelar prestisius itu. Ya, siapa saya ? Hanya seorang anak daerah, yatim, yang dulu terlunta-lunta masuk ke UI, yang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih harus berjibaku siang dan malam serta masih mengandalkan beasiswa. Satu-satunya hal yang paling membanggakan –itupun bila bisa dianggap membanggakan- aktifnya saya di beberapa organisasi intrakampus dan ekstra kampus. Dari menjadi ketua angkatan di antara teman-teman 2007 Fasilkom, LDK SALAM UI, LDF FUKI Fasilkom, BEM Fasilkom, Forum Angkatan Asrama, BEM UI, dan beberapa organisasi lain Ya, hanya terhenti sampai di situ. Sisanya hanya seorang mahasiswa dengan IPK pas-pasan, minim prestasi, bahasa Inggris ‘medok’, dan patah-patah, sama sekali tidak ada bagus-bagusnya.

Menjadi mapres ? Ya, tentu saja itu bukan takdir saya. Sambil menghibur diri, cukuplah saya berjuang di ranah-ranah amanah saya di asrama, di Departemen Adkesma (red: Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa) BEM, memperjuangkan nasib calon mapres-mapres UI jauh lebih membutuhkan curahan energi dibandingkan memikirkan mimpi itu..

Niatan itu baru saja muncul ketika sparring partner abadi saya, Andreas Senjaya, mulai di asrama, Fasilkom, dan di PPSDMS tampak selalu sibuk didepan komputernya mengerjakan sesuatu.

“Lagi ngapain Jay?”

“Nyiapin karya tulis Big buat mapres..”, ujar Si Jay.

Besoknya lagi tanya lagi si Jay yang lagi lari-larian, “Oh..lagi ngurusin bukti buat CV Big..”

Besoknya lagi waktu si Jay pulang, “Abis dari perpus Big, nyari data buat karya tulis.”

Buset ni bocah..benar-benar serius. Saya baru menyadari ternyata Jay sudah mempersiapkan hampir semuanya. Mulai dari semester ini cuma mengambil 15 sks, terus dalam beberapa kurun waktu terakhir rajin sekali ikut lomba atau kompetisi. Tapi itulah satu hal yang paling melekat dalam dirinya, tipikal orang yang selalu menampilkan high performance.

Kenapa gak ikut nyoba juga Big?” ujar Jay suatu hari.

Haha..gak ada potongan lah Jay, masak orang kayak saya jadi mapres.” jawaban saya sambil nyengir. Jay yang uda mantap aja persiapannya luar biasa, lalu saya? Uda gak memenuhi requirement, gak ada persiapan lagi.

Beberapa hari menjelang deadline, perasaan itu kembali berkecamuk. Ya, tiba-tiba serasa ada yang berbisik, “Setidaknya lakukan untuk PPSDMS.” Tiba-tiba sesuatu yang disebut mapres ini dikaitkan dengan salah satu hal emosional bagi saya, PPSDMS, keluarga besar ku disini.

Setidaknya lakukan itu untuk para pemberi beasiswamu, lakukan itu untuk ibu mu, lakukan itu untuk membuat Ayah mu tersenyum diatas sana, lakukan itu untuk orang-orang di sekitarmu yang menyayangimu..” Hati kecil saya tergetar, haruskah? Dan, bisakah?

***

H-3 menjelang deadline, saya pikir belum terlalu terlambat. Bismillah..man jadda wajada!

Mulailah bergerilya mencari ide buat karya tulis, ‘ngejemberengin’ CV yang mana aja yang mau dikeluarin. Ya, minimal itulah CV dan karya tulis, dua syarat utama yang harus dikumpulkan tiga hari lagi.

Tentang CV, alhamdulillah tidak terlalu sulit bagi saya mengisi, walaupun ada banyak kolom prestasi yang harus dilompati, tapi saya cukup pede karena bisa mengisi penuh beberapa kolom organisasi, seminar, dan pelatihan. Satu hal yang ingin saya syukuri adalah ketika mengisi kolom CV ini, saya merasakan sebuah kenikmatan yang luarbiasa. Ya, betapa tidak, semua hal yang pernah saya berikan, saya korbankan, ternyata semua kembali pada saat yang dibutuhkan. Karena memang dulu gak pernah ngimpi jadi mapres, jadi ya dari setiap ikut seminar, kepanitiaan, organisasi gak terlalu aware dengan sertifikat-sertifikatnya, atau penghargaan lainnya, tapi saya ikut karena saya ingin mengikutinya. Dan subhanallah..semua sangat membantu dalam proses ini.

Berbeda dengan proses pengerjaan karya tulis yang sangat ngoyo, namun tetap saja tidak maksimal. Karya tulis saya saat itu tentang usulan akan adanya materi perkuliahan tentang entrepreneur kepada mahasiswa IT. Setelah begadang sedemikian rupa, membolos –jangan ditiru ya,hehe- beberapa mata kuliah, akhirnya satu jam menjelang deadline proses pengerjaan baru selesai. Tapi semua masih belum selesai karena belum beres dengan formatting untuk daftar isi serta judul. Ya, JUDUL ! Setelah bertapa beberapa saat, akhirnya saya memutuskan menggunakan judul yang kontroversial agar bisa menarik perhatian juri. Mau tahu judulnya ?

“IT Preneur, Tranformasi Mahasiswa TI, dari “Kuli Koding” menjadi Enterpreneur Cing !”

Hehe, saya kalo inget jadi pengen ketawa. Ya, sama sekali tidak ilmiah untuk sebuah kompetisi karya tulis yang sangat formal. Begitulah nasib deadliner, selalu tidak akan pernah maksimal dalam apapun yang ia kerjakan. Fakta nyata saat itu, karya tulis saya dikumpulkan dengan kondisi judul yang brutal dan banyak sekali kesalahan formatting.

Hingga sekarang pun saya masih terheran-heran bagaimana ceritanya saya bisa menjadi salah satu dari deretan orang-orang berprestasi itu. Karya tulis ancur-ancuran, CV gak maksimal dalam mencari buktinya, apalagi bahasa Inggris sama sekali tidak ada harapan. Tapi Allah punya rencana yang berbeda, saya mendapatkannya. Nomor dua, satu strip dibawah sparring partner saya, Jay, sebuah pencapaian yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dan semua keistimewaan itupun saya dapatkan, beberapa bulan diawal mendapatkan beasiswa satu juta perbulan, pelatihan kepemimpinan yang menginspirasi, kesempatan beasiswa dan exchange yang luar biasa, diundang disana sini menjadi pembicara, bahkan masuk televisi.

Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar Rahman : 15)

Nikmat pun akan selalu beriringan cobaannya. Ya, ujian itu bernama ekspektasi orang lain. Ekspektasi orang terhadap diri yang lemah ini tiba-tiba berbalik 180o! Saat itu, mulai muncul penyakit suka meributkan anggapan orang, takut pandangan orang tentang dirinya jadi turun. Padahal, anggapan orang lain itu sama sekali tidak menambah maupun mengurangi kemuliaan kita kan? Disitulah, kapasitas ini diuji.

Ya, ‘mapres’ ini bukanlah sebuah pemberian gratis, justru ini merupakan amanah baru. Sebuah batu loncatan awal, menjadi Big Zaman yang lebih kuat, lebih peduli, dan lebih berkontribusi nyata untuk umat, untuk negeri tercinta.

One step to change ! Satu langkah lebih dekat untuk merengkuh ridha-Nya..

11 thoughts on “MAPRES : One Step to Change !

  1. subhanallah… H-3 maaaan.. ckckckck mantep banget deh bisa jadi mapres no.2 di fasilkom, aseeeek…😆 *gak salah deh ane ninggalin tugas jarkom demi nonton performance presentasi mapres urutan pertama ini xD*
    doain saya ya kak untuk memantapkan diri ikut mapres ngikutin jejak kakak2 yg keren2.. *sekarang pikiran masih kesana kemari di kepala @.@*

    teruslah berprestasi kak supaya selalu banyak bermanfaat untuk ummat😉

  2. Assalamu ‘alaikum…

    Masih inget sama saya ‘kan Mas? Yang Senin kemarin ketemu di HMIF ITB itu lho..

    Subhanalllah.. Ternyata Anda jauh lebih sakti daripada yang saya kira..
    Afwan kemarin ga’ sempat pamitan, soalnya lagi sibuk ngurusin administrasi pencalonan..
    Sebenernya kemarin itu mau minta no. HP, tapi Anda udah ngilang duluan..

    Bisa tolong kirimin no. HP-nya ke email saya Mas?
    Syukron..

    Wassalamu ‘alaikum…

  3. @ ade :
    gak usah dipikir, diikuti aja. Semangat ade !🙂

    @ Zain :
    Wa’alaykumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Tentu saya ingat ustadz..Sampeyan jauh lebih dahsyat malahan🙂
    Sudah saya kirim ke email antum. Semoga kita bisa ketemu lagi ya..

  4. terharu bacanya…. yang saya tangkep, kerja keras mas Big (namanya beneran Big Zaman ya?) tu udah dari dulu, akumulasi kerja keras-ikhlas sang pahlawan seabrek organisasi… buahnya tinggal dipetik wat ditaruh di CV, deadliner yang sudah menyiapkan amunisi jauuuuuuh sebelumnya, tapi ga nyadar sudah “menumpuk” sebanyak itu….nice post & salam kenal ^_^

  5. Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…
    Subhanallah mantap tenan, temanku yang satu ini!!!
    Suatu saat kau akan menjadi orang yang besar, sebagaimana namamu.

  6. @ mbak Asri :
    Wa’alaykumussalam wr. wb. Butuh mbak butuh, tapi bayarannya klo uda ‘laku’ dan itupun klo diizinkan istri saya nanti, boleh?😀

    @ Lutfi :
    Salam kenal Lutfi.🙂
    Boleh2 aja, gak dosa kok jadi mapres..hehe

    @ faldo :
    begitu juga dengan cucu Paolo Maldini ini, Faldo Maldini.🙂

    @ Raafi :
    Wa’alaykumussalam wr.
    Aamiin fii..mohon doanya..

    @ Chrysanthee :
    Wa’alaykumussalam wr. wb.
    Alhamdulillah..salam kenal juga ya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s