Belum Saatnya Cinta..


Sepertinya banyak orang yang salah tafsir dengan apa yang saya tuliskan pada tulisan sebelumnya. Tenang saja teman-teman, saya tidak segalau itu.๐Ÿ™‚

Akhir-akhir ini merasa banyak orang yang muji-muji (ceila), padahal juga ada maunya sebenarnya. hehe. Terutama banyak orang yang mencoba menilai-nilai saya dari blog. Nah lho, tuh kan salah besar, saya juga bisa labil kan dengan postingan-postingan sebelumnya. Makanya..jangan menilai seseorang dari blognya kawan!๐Ÿ™‚

Tentang cinta, saya pun tidak cukup yakin memang saatnya. Bagi siapapun yang mengklaim telah merasakannya, apakah betul cinta itu sudah dilandaskan karenanya? Apakah betul energi cinta tersebut dikeluarkan sebagai bentuk rasa cinta kita kepada-Nya?

Karena benar, sejatinya cinta adalah fitrah. Agama ini pun menjelaskan bahwa cinta itu memang tidak untuk ditahan, untuk dipendam rapat-rapat, namun mengutip bahasa dari Ustadz Salim A. Fillah, yakni untuk disalurkan dalam pipa-pipa perjuangan, di jalan cinta para pejuang..

Ada sebuah kisah yang menyentuh saya dari buku Ustadz Anis Matta yang berjudul “Mencari Pahlawan Indonesia” yang ditulis ulang oleh sahabat saya, Kang Agah disini. Kisah cinta yang begitu mendalam oleh seorang mukjizat Islam saat itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Alkisah Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang sedang menapaki tangga puncak amanah ternyata mendapatkan tawaran yang mengejutkan. Ia ditawari oleh istrinya untuk menikah lagi! Tidak tanggung-tanggung, istrinya sendiri yang memilihkan gadis beruntung tersebut bagi suaminya.

Adalah wajar bila seorang pahlawan memiliki kebutuhan akan kasih sayang dan kelembutan lebih dari orang kebanyakan. Dan sang istri ternyata memahami fitrah kepahlawanan tersebut. Ironisnya, ternyata gadis yang ditawarkan merupakan romantisme masa lalu Umar.

Dahulu, ada sebuah momen dimana Umar mencintai sang gadis. Dan sang gadis pun memberikan respon positif. Namun, atas nama kecemburuan justru sang istrilah yang menghalangi benih ikatan itu. Kini, kondisinya berputar balik. Justru sang istrilah yang menawarkannya pada suami tercinta.

Dorongan itu begitu kuat, gairah cinta meletup-letup. Dan lagi, pintu kesempatan terbuka begitu lebar. Namun, sekelebat kesadaran membuka tabirnya dalam benak sang khalifah.

TIDAK, Saya belum sepenuhnya merubah diri jika masih kembali pada dunia perasaan semacam ini.

Begitulah Umar, maka diapun justru menikahkan gadis tersebut dengan seorang pemuda.ย Saat sang gadis bertanya

“Dulu kita pernah saling cinta, namun kemanakah cinta itu sekarang?”

Dengan penuh haru Umar bin Abdul Aziz menjawab

“Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam..”

Maka, cinta itu pun digunakan sang khalifah untuk menjemput takdir kepahlawanannya. Jalan perjuangan. Saya pun menyadari. Mau belum tentu berarti mampu. Belum saatnya cinta ini untuk dipetik karena terlalu banyak ranah yang membutuhkan energi ini. Maka lepaskanlah rasa cinta ini, di jalan cinta para pejuang..

Ya, belum saatnya cinta.

 

NB : terinspirasi oleh sebuah momen merah jambu, tulisan ‘Belum Saatnya Cinta’ oleh Kang Agah, buku “Mencari Pahlawan Indonesia” (Anis Matta) , dan buku “Jalan Cinta Para Pejuang” (Salim A Fillah)

*nah lho, ketauan akhir-akhir ini bacaannya apaan.๐Ÿ™‚

*sumber gambar dari sini

20 thoughts on “Belum Saatnya Cinta..

  1. semoga cinta datang dengan segeraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…

    hahahhahah…………….. bercanda neeeeeeeeeeeeeeeeeeh….
    ternyata kak Big tidak pernah galau………………

  2. @ Asop :
    Alhamdulillah, semoga bermanfaat sraf..๐Ÿ™‚

    @ Fanani :
    wah2, yang labil fanani ternyata. hehe.

    @ Sani dan Fajar :
    Nt pada nih ngurusin orangnya ya, segera dipersiapkan juga lah untuk misi menjemput si do’i..hehe.๐Ÿ˜‰

  3. aku juga mau undangannya kak…..
    ke Surabaya…
    sekalian pulang kampunggggggggggggg
    wakakaka…..wakaka….

    pake gedung graha pena tau graha pensil aja kak….

  4. emm bingung mo komen apaan, agak sensitip sih kalo ngomongin beginian >,<

    โ€œDulu kita pernah saling cinta, namun kemanakah cinta itu sekarang?โ€
    โ€œCinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam..โ€

    kayaknya to twit banget ini dialog -> bagus nih kalo dijadiin scene dalam pilm *efek blogwalking sambil dengerin lagu2 cinta weslaip*๐Ÿ˜†

  5. Wah2, uda mulai ‘ganas’ nih komentar-komentarnya.

    @ Ka Meri :
    Well, awalnya saya butuh waktu mencerna komentar kakak, dan akhirnya cuma bisa ketawa-ketawa aja.๐Ÿ˜€
    Kayaknya ka Meri jago dan sudah berpengalaman nih, boleh dibagi kak tips2nya, ditulis di blog ya, ntar saya nomer satu yang mau baca deh. hehe. :p

  6. kenapa kalo ngomongin cinta itu selalu dikait2kan dengan kata2 ‘galau’ dan ‘labil’?
    ~sangat sangat ga suka dengan 2 kosakata itu

    baca ini jadi keinget postingan fitri yang dulu tentang “jodoh untuk si cinta”
    ya.. yakin aja kalo jodoh itu Allah yang sudah siapkan.. dan yakin aja kalo emang udah jodoh nanti kita akan jatuh cinta sama jodoh kita.. dan akhirnya segala pengalaman cinta2 yang dulu akan sirna dengan sendirinya..
    ~kayak dah pengalaman aja ngomongnya๐Ÿ˜€

  7. bagus, bagus… bagian yang dikutip bagus.
    sepakat, jangan menilai orang cuma dari postingannya ya. tapi dari situ juga bisa lho. eaaaa…
    gimana dengan pernyataan, ‘tapi kalo ngecek isi kepala orang bisa tuh dari bacaannya.’ bisa tak?
    ahahahahaa….

    tenang, itu nggak lengkap kok. lebih lengkapnya, ‘isi kepala orang adalah hasil interpretasi dari apa yang di ‘baca’nya pada lembar2 dunia.’ jadi tetep tergantung sama apa yang nyangkut kok,๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s