Refleksi TA (1)


“..memang perkara skripsi itu seperti latihan untuk menguji sejauh mana kita percaya diri dan Allah.” (Heninggar, 2011)

Tepat satu pekan dari sidang kelulusan saya Rabu kemarin. Ya, sebenarnya hampir tidak ada bedanya, sesudah sidang dan sebelum sidang, atau bahkan ketika saya masih pertama kali menginjakkan kaki di UI dulu. Masing-masing punya ujiannya sendiri dan kaidah yang disampaikan senior saya diatas memang ada benarnya, dimana kepercayaan kita terutama pada Allah diuji. Satu dari sekian banyak pembuktian akan kaidah itu akan saya ceritakan disini.

Saya masih ingat betul beberapa hari yang lalu, ketika deadline skripsi dalam hitungan hari saya mencapai level putus asa yang kira-kira satu level sedikit dibawah ‘tidak ada harapan’. Betapa tidak, ketika load pengerjaan tugas akhir semakin banyak, ekspektasi dari dosen pembimbing yang sangat tinggi, namun tidak diimbangi dari hasil penelitian saya yang tidak kunjung menghasilkan hasil yang baik. Dalam kondisi seperti itu, dalam kurun waktu sekitar 30 menit saja, muncul tiga sms ‘mematikan’ yang makin menjatuhkan kondisi saya saat itu.

Sms pertama muncul dari ketua bidang saya di Kaderisasi Salam UI. Kebetulan di masa skripsi ini saya punya amanah besar menjadi seorang ketua pelaksana agenda dauroh SALAM di Sukabumi. Acara ini tidak main-main karena mengundang hampir seluruh kader SALAM di UI yang mencapai 200 hingga 300an orang. Ya, saat itu dengan mudahnya -layaknya, tidak tau kondisi saya yang lagi tertekan skripsi- sms,

“Assalamu’alaykum. Big, gimana kabarnya IYDP?”

MasyaaAllah ni bocah..kagak ngerti apa orang lagi puyeng. Tanpa pikir panjang, langsung saya jawab, “Wallahu a’lam!” *padahal setelah dipikir-pikir nih jawaban kejem juga yak..afwan ya Balyan.

Satu sms terlewati, namun tidak lama kemudian muncul sms yang kedua. Kali ini dari Supervisor Utama Asrama PPSDMS Nurul Fikri, Ka Tino, partner kerja saya di kantor. Dan lagi-lagi sms tagihan. Saya agak kurang ingat sms nya tapi kurang lebih,

“Akh Big, dimana antum? Disini sudah banyak yang harus dikerjakan, antum gak muncul-muncul..”

Allahu rabbi..kenapa orang-orang pada nagih-nagih pada saat seperti ini ya. Mau bales minta maaf juga ga enak, akhirnya saya putuskan tidak menjawab, nanti aja diselesaikan setelah semua skripsi selesai baru minta maaf dan siap bertanggungjawab atas semua kelalaian. Saya pikir itu lebih baik walau memang pahit karena saya terbiasa berusaha menjalankan amanah sebaik mungkin, namun kali ini sayangnya tidak bisa.

Kembali memandang monitor laptop dengan hasil akurasi percobaan yang masih buruk. Hati sempat gamang, merenung sebentar, kemudian mencoba tilawah untuk menenangkan diri. Namun, memang hari ini Allah bener-bener lagi menguji kualitas kepercayaan saya kepada-Nya.

Sms yang ketiga pun datang, namun kali ini berasal dari orang yang tidak bisa saya tolak dan tidak bisa saya abaikan begitu saja. Ya, beliau ibu saya.

“Big, mbak risa wes gak diolehi melbu kerjo karo bos’e, kantornya wes bangkrut, dadi mbak risa gak kerjo maneh. Awakmu iso ta Big ngirimi ibuk maneh? Gawe cicilan sepeda montor’e mbak risa pisan petang atus ewu sak ulan..” (baca : Big, mbak risa uda gak dibolehin masuk kerja lagi sama bosnya, kantornya uda bangkrut, jadi mbak risa uda gak kerja lagi. Kamu bisa gak Big ngirimi uang Ibu lagi? Buat cicilan sepeda motor mbak risa juga, 400ribu sebulan.

Allah, sekejap saya menitikkan air mata. Bisa dapat uang dari mana sebanyak itu? dalam kondisi seperti ini? Dunia terasa seketika runtuh di depan mata saya. Uang beasiswa gak mungkin cukup, ngajar uda cuti dua bulan karena skripsi yang sudah cukup mengkhawatirkan.. Kepada siapa ku harus berharap?

Tanpa pikir panjang saya lari dari lab ke mushola. Ya, entah hanya tempat itu yang terbayang, tempat paling tepat untuk mengadu. Dan ku dirikan sholat dua rakaat cukup panjang dan tak kuasa lagi untuk menahan derasnya air mata yang mengalir..

Allah, dimanakah Engkau? Mengapa Kau berikan cobaan seberat ini? Sanggupkah ku memikulnya?

Ku lanjutkan tilawahku. Entah kenapa perlahan tapi pasti rasa resah itu mulai mereda, beban itu sedikit demi sedikit terasa terangkat. Ya, yang tersisa tinggal ketenangan. Baru pada saat itu saya mulai bisa berfikir jernih.

“Yakin kan Big, Allah itu Maha Adil?”

“Kalau yakin Allah itu Maha Adil, maka keputusan-keputusannnya pasti yang paling adil dan paling baik kan buat hambaNya?”

Ternyata benar, hanya dengan mengingat Allah, hati kita akan menjadi tenang. (QS 13:28). Satu persatupun akhirnya saya dapat mengurainya!

Buat ibu, setelah dipikir-pikir masih punya tabungan kok, paling tidak bisa lah untuk hidup dan ngirim uang satu atau dua bulan, setelah skripsi baru dipikirkan lagi. Tentang kerjaan PPSDMS, keesokan harinya pimpinan saya di bidang Program memberikan keluangan waktu hingga deadline skripsi, alhamdulillah..

Tinggal skripsi. TA. Ya, setelah dipikir-pikir, mungkin ini cara Allah ngingetin saya, dulu saya pun masuk UI dengan cara yang tidak mudah dan Allah ingin mengingatkannya lagi dengan kejadian-kejadian dan kesulitan-kesulitan ini. Ya, inget kata Patrick,

“Everything will be okay in the end, if its not okay its not yet the end..”

Alhamdulillah, hatipun makin tentram dan perlahan mata ini mulai dapat terpejam..

Kesokan hari, sambil mencoba mengais kembali semangat mengerjakan TA, tiba-tiba muncul sms. Dari salah seorang adik tingkat saya, minta ketemuan jam 8 di Fasilkom tapi yang bersangkutan tidak memberitahukan ada kepentingan apa. Jam 8 pun saya datang lagi di kampus bertemu dengan dua orang adik tingkat saya itu. Dan tanpa babibu, beliau langsung memberikan saya sebuah kado yang terbungkus rapi. Bingung juga, dalam rangka apa? Ulang tahun masih jauh, lagi ga ada momen-momen spesial juga.

Mau tau gak isinya? Hehe, ini dia.

Sebuah kemeja dan dasi yang sangat mahal. Bagaimana saya tahu sangat mahal? Karena si pemberi kado agak fail, karena bon-nya ketinggalan di kantong plastiknya.🙂 Didalamnya ada sebuah kartu ucapan, kurang lebih,

“Assalamu’alaykum. Maaf Mas Big, kita ngasih ini, takut mas Big keburu beli duluan. Semangat ya Mas Big TA nya, kita pengen banget lihat mas Big pake itu waktu sidang dan wisuda. :D”

Allah..hampir saja mata saya menitikkan air mata. Ya, inilah yang saya butuhkan, booster semangat baru untuk mengerjakan TA!  Sekejap memori semua kejadian semalam diputar ulang dan Allah memberikan kejutan luar biasa pagi itu. Allah memang selalu punya rencana yang luar biasa untuk hambaNya bukan?🙂

“Ya Allah, ampunilah kepicikan hati kami yang sering kali tak mampu melihat rahasiamu.”

8 thoughts on “Refleksi TA (1)

  1. beberapa anak2 UI tingkat akhir yg sy temui jg begini kondisinya..
    semoga kita semua dpt sama2 belajar utk prepare lagi buat segalanya..
    selamat ya Big..sdh berhasil menyelesaikannya..smg ilmunya berkah..

  2. Waaah saya ampe nangis nih bacanya di bandara Sultan Hasanuddin (2 bulan ga nemu hotspot langsung buru2 ngenet begitu ketemu xD), untung ga ada yg ngeliatin >,<
    Subhanallah banget perjuangan TA-nya kak, Alhamdulillah akhirnya Allah memberi hadiah yg indah buat kakak.🙂
    Congratz 4 kak Big Zaman, S.Kom \(^.^)/
    Sampe ketemu di wisuda nanti ya kak😀

  3. Inspirative, real life story !

    Meraih sesuatu tidak terbatas pada pekerjaan tangan . bila kita mau meraih dengan seluruh hal yang kita miiki , tidak ada hal yang tidak tercapai. ya, terkadang kita yang terlalu lemah untuk menyadari kalau kita KUAT, dan Allah selalu tau cara terbaik untuk membuat kita lebih kuat🙂
    Waktu masih maba, saya baca tulisan Ka Big di anak ui.com ,satu kalimat yang memotivasi saya waktu itu.. Jangan Takut Masuk UI karena hanya boleh takut sama Allah, maka kalau boleh di tambahkan, Jangan takut ngga bisa keluar dari UI, karena hanya boleh takut sama Allah😀
    Selamat Ka Big Zaman, S.Kom ..

  4. hikss hikss jadi iktn nangis kak bacanya,,,walaupun masih maba, jd mikir2 juga nih,,ke depannya aku seperti apa yaah,pasti banyak tantangan yg harus aku lalui. Makasih kak big kemarin dh jd pembicara di fik, menginspirasi sekali,,apalgi saya juga dr daerah kak. Selamat yaa krn akhirnya sudah wisuda kaan🙂

  5. “Tanpa pikir panjang saya lari dari lab ke mushola. Ya, entah hanya tempat itu yang terbayang, tempat paling tepat untuk mengadu. Dan ku dirikan sholat dua rakaat cukup panjang dan tak kuasa lagi untuk menahan derasnya air mata yang mengalir”

    Ane nangis baca bagian ini, malu, selama ini lebih sering mengeluh sama manusia daripada ke Allah langsung T.T

    nulis lagi dong Big😀 jangan cuman tumblr-an mulu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s