Bersyukur Dalam Beramal


Letih. Ya, itulah perasaan yang selalu dirasakan semua orang di tiap-tiap malamnya. Termasuk saya yang malam ini mengakhiri hari dengan menjadi pembawa acara sebuah acara cerdas cermat Ramadhan untuk adik-adik SD dan SMP di perkampungan belakang PPSDMS. Beruntung ini hari terakhir dari tiga hari rangkaian perlombaan imut nan menggemaskan ini. Namun, rasa lelah memang tidak dapat dibohongi. Apalagi dengan kesibukan paska kelulusan yang bukannya makin sedikit.

Full timer sebagai asisten riset di kampus, tim inti lembaga asisten, asisten dosen sebuah mata kuliah, plus amanah supervisor asrama PPSDMS cukup sukses membuat saya terengah-engah beberapa hari ini. Belum lagi aktivitas umat seperti mendatangi undangan bukber-bukber, ngisi-ngisi acara (ceila) yang juga lumayan banyak, ‘berlarian’ dari satu PSAF sebuah fakultas ke fakultas lain, bahkan dari satu kampus ke kampus lain. Belum lagi tiga kelompok mentoring yang harus terus diisi dengan semangat powerfull setiap pekannya, jadi juri esai sebuah kompetisi, amanah organisasi di kampus, dan beberapa permintaan-permintaan lain.

Ya, pertanyaan yang bagus..”Gimana kabar targetan Ramadhan?” Tentu jawabannya, tidak cukup baik.

Terkadang kesal, rasanya seperti sibuk ngurusin orang lain dan tidak waktu lagi untuk diri pribadi. Saat orang lain sibuk ibadah, kita sibuk sendiri. Iya sih, ada yang mengatakan nanti dapet pahalanya juga..Nah, iya kalo ikhlas, kalo gak ikhlas? Udah waktu abis, sibuk sendiri, eh, pahala ga dapet. Udah pahala amal pribadi ga dapet, pahala amal sosial juga mental karena ga ikhlas.

Dan saya menemukan jawabannya, tepat sekali lagi-lagi di blog Kang Agah. Karena inilah kuncinya..

“Bukan apa yang kita lakukan, tapi seikhlas apa kita melakukannya.”

Kata kuncinya adalah qona’ah, yakni menerima dan mensyukuri peran yang saat ini Allah sedang karuniakan. Dikasih lowong syukur karena bisa punya banyak waktu buat ke mesjid dan beribadah, dan dikasih sibuk pun juga syukur karena bisa punya kesempatan beramal banyak buat orang. Ya, karena saya yakin satu kondisi belum tentu lebih tinggi nilainya dibandingkan yang lain.

Seperti kata kang Agah, buat yang sibuk, maka mari berdo’a,

“Ya Allah semoga kesibukanku ini Engkau terima sebagai amal shalih di sisiMu. Kami belum setekun saudara-saudara kami yang berdiam di Masjid, namun bila kau nilai mereka sebagai hambaMu yang shalih, jadikanlah kami termasuk di dalamnya. Amien”

buat yang ga sibuk,

“Ya Allah, maaf bila kami belum bisa seperti saudara kami yang sibuk dalam urusan-urusan umat. Kami baru bisa berdiam di Masjid ini, mengurus diri kami sendiri yang penuh kekurangan. Moga engkau menerima apa yang kami lakukan di masjid ini. Bimbinglah saudara kami yang sibuk itu, agar makin dekat kepadaMu. Amien”

Seperti apa yang diriwayatkan salah satu group band, *hehe, uda kayak hadist aja.

“Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah..Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik.”

(Rowahul: The Massive)

Maka terus bersemangatlah kawan!๐Ÿ˜€

 

 

 

 

 

 

 

NB :

1. terinspirasi penuh oleh artikel ini :

http://thebloggah.blogspot.com/2007/10/ramadhan-episode-1-bukan-aktivitasnya.html

2. gambar diambil dari sini

4 thoughts on “Bersyukur Dalam Beramal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s