Memaknai Perkataan ‘Lurus Benar’


 

“Bang Big, maaf..ane gak bisa mengumpulkan tugas tepat waktu, ane ada kerja sosial dan baru pulang hari Senin..gimana bang? boleh ya?”

 

Seketika timbul rasa yang berperang di hati, antara sebagai seorang saudara yang ingin meringankan urusan saudaranya plus tabiat khas orang Jawa dengan hati serapuh kaca yang sering gak enakan, bertarung dengan perasaan sebagai supervisor asrama PPSDMS, dimana peraturan, kesepakatan memang harus ditegakkan!

Dengan berat hatipun, tangan pun mengetik pesan singkat, “Ya, terus salah ane? temen-teman ente juga ada yang agenda yang sama tapi bisa ngerjain tepat waktu..” Dan smspun dikirim.

Tak lama kemudian muncul sms selanjutnya, “Tapi bang, ane uda usaha tapi tadi bla..bla..bla..insha Allah tanggal 2 ane kirim..boleh ya Bang?”  Dan kembali muncul rasa gak enakan itu lagi..Namun hati saya teguh, bismillah, walaupun berat saya pun membalas dengan tegas, “Ya, silahkan tapi afwan, saya tetap akan hitung keterlambatan.”

Dan banyak variasi pertanyaan lain, mulai alasan ketiduran, internet sulit, atau beberapa janji lain yang tiba-tiba dibatalkan secara tiba-tiba oleh yang bersangkutan. Ya, fakta-fakta ini sering kali mampir di ponsel saya sejak saya resmi menjadi Supervisor Asrama PPSDMS Nurul Fikri, sebuah asrama pembinaan yang notabene katanya bertekad besar mencetak pemimpin-pemimpin masa depan.

Bagi saya tentu lebih mudah untuk sms, “Silahkan akhi, tafadhal..” atau “Monggo mas, semoga dimudahkan..” Kalau divariasi dikit dengan sedikit nasihat, “Ya, gapapa..tapi bulan depan jangan diulangi lagi ya..” Jawaban-jawaban yang jauh lebih cocok untuk saya yang orang Jawa plus kepribadian plegmatis yang kuat. Lalu kemudian teriring sms balasan, “Syukran ya Bang, antum emang baik banget..”, terimakasih, atau malah puja puji lainnya. Namun, tiba-tiba saya teringat dengan kisah Isma’il dan Ibrahim yang pernah dituliskan oleh Ust. Salim A Fillah.

Kita tentu ingat betul sosok Isma’il ‘alaihissalam. Sosok shalih yang matang sejak dini, tidak mengenal istilah ‘labil’ atau ‘galau’ di masa remajanya, dan tentu tidak diragukan ketaatannya kepada Allah dan orang tuanya. Kita ingat betul kisah heroiknya bersama Ibrahim, yang ketika ditanyakan kesediaannya untuk direnggut nyawanya saat itu. Namun dengan lembut Isma’il berkata,

“Jika itu adalah perintah dari Allah, Tuhan Kita, maka lakukanlah wahai Ayahku. Dan saksikanlah bahwa Aku termasuk orang yang sabar.

Mencetak sosok teguh, tenang, nan berkarakter itu tentu menjadi tanya besar bagi kita. Pembinaan seperti apakah dibalik seorang Isma’il yang kokoh? Ya, agaknya Allah telah membukakan rahasia itu dalam firmanNya..

 

“Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan teturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri . Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar.” (QS : An Nisaa’ 9)

 

Ya, satu pinta Ibrahim yang senantiasa ia ulang setiap saat dalam doa-doanya adalah mohon agar dikaruniakan lisan yang shiddiq, perkataan yang lurus benar. Dan dari lisan shiddiq inilah Ibrahim berhasil membangun generasi rabbani yang tangguh, mulia, dan berkarakter yang selanjutnya menjadi pencetak sejarah besar di dunia.

Sejenak, mari kita renungkan sejauh mana lisan-lisan kita? Selurus benar apakah perkataan-perkataan yang keluar dari bibir kita? Lisan yang terdengar oleh anak (buat yang sudah berkeluarga), adik, saudara, muttarabbi, teman-teman kita, dan lainnya. Sejauh mana kita telah mengamalkan amanat surat An Nisa ayat 9 ini? Ataukah selama ini kita berinteraksi dengan mereka, kita hanya berprinsip, ‘asal tidak menangis’ ketika berbicara pada anak atau adik kita, ‘asal tidak ribut’ ketika berbicara dengan saudara atau teman-teman kita, dan perkataan-perkataan sederhana lainnya.

Sebuah contoh yang mengena yang disampaikan Ust. Salim, misalkan seorang anak yang tidak mau ditinggal pergi ayah atau ibunya, padahal sang orangtua harus menghadiri undangan yang tidak memungkinkan mengajak sang putera. Apa yang kita lakukan untuk membuat rencana keberangkatan kita berhasil tanpa mengecewakan buah hati kita?

Sayangnya kebanyakan orang berprinsip tadi, ‘asal tidak menangis’ dalam hal ini.  Kita biasa menyangka dengan tidak menangis berarti buah hati kita ‘tidak apa-apa’, ‘tidak keberatan’, atau ‘nanti juga lupa’. Betulkah demikian? Agar sang anak tidak menangis biasa dibuai atau dialihkan dengan diajak melihat -umpamanya- ayam, “Yuk, kita lihat ayam..Tuh ayamnya lagi makan!” Sang anak pun tertarik melihat si ayam dan perlahan kita diam-diam pergi meninggalkannya.

Ya, si kecil memang tidak menangis , namun didalam hatinya, ia menyimpan sebuah pelajaran,‘Ooh..aku ditipu. Dikhianati. Aku ingin ikut abi malah disuruh lihat ayam supaya bisa ditinggal diam-diam. Kalau begitu, menipu dan mengkhianati itu tidak apa-apa, nanti kalau aku sudah besar aku akan melakukannya!

Betapapun, walaupun ia menangis tiada henti ketika kita meninggalkannya, alangkah baik kita berpamitan baik padanya. Kita gendong dan cium keningnya seraya berkata,

“Nak, ayah pergi dulu ya, ayah pengen banget ngajak kamu, tapi gak bisa kali ini. Tapi ayah janji cepet pulang insha Allah kalau semua sudah selesai ya.”

Dengan sebuah kecupan manis dikeningnya kembali sembari mendoakan keberkahan ditelinganya. Ya, meski anak kita menangis, anak kita akan belajar bahwa kita pamit dengan baik-baik, mendoakan, dan tetap menyayanginya, dan akan segera pulang. Meski ia menangis, ia telah mendengar seuntai qaulan sadiida, sebuah lisan yang lurus, yang kelak semoga menjadi pilar pengokoh akhlaknya..

* Eit, ingat, ini bukan masalah penulisnya kebelet punya anak ya! 😉

Ah, qaulan sadiida..ternyata tidak mudah, mengatakan yang seharusnya dikatakan, berlisan selurus dan semestinya diucapkan. Teramat sulit terutama bagi saya yang plegmatis, yang sungkanan, dan ingin menyenangkan hati semua orang. Teringat kembali bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam, sosok yang paling mulia itupun, masih banyak dirudung ketidaksukaan oleh kaumnya, dikelilingi dendam dan kebencian. Namun Rasulullah faham betul, mengapa ia diutus bukan untuk disukai. Ya, karena ia bukan artis, namun Rasulullah datang dengan kebenaran yang senantiasa terpancarkan melalui lisan dan akhlaknya..

“Ya Allah, karuniakan pada kami lisan yang shidiq, seperti lisan Ibrahim. Karuniakan pada kami anak-anak, adik-adik, saudara-saudara shalih yang kokoh imannya nan mulia akhlaqnya, seperti Isma’il. Meski kami jauh dari mereka, tapi izinkan kami belajar untuk mengucapkan qaulan sadiida, huruf demi huruf, kata demi kata..” 

 

*Maka bantulah saya, saudara-saudaraku, seakidah, sebangsa dan setanah air, untuk berkata benar, untuk berkata tegas ketika memang diperlukan, untuk bersikap lantang ketika memang itu yang harus dihadirkan..karena perkataan dan sikap benar ini adalah wujud sayang sosok lemah ini kepada antum semua..🙂

 

Depok, 17 Oktober 2011

Pukul 20.01

 

 

Big Zaman

Supervisor Pendamping PPSDMS Regional 1 Jakarta Putra

 

 

NB :

1. Notes spesial untuk para ksatria UI PPSDMS Nurul Fikri angkatan V Jakarta Putra, ya tapi tolong jangan dimaknai terlalu ‘dangdut’ ya..😀

2. Terinspirasi penuh tulisan Ust. Salim A Fillah berjudul “Qaulan Sadiida untuk Anak-anak Kita”

11 thoughts on “Memaknai Perkataan ‘Lurus Benar’

  1. @ mishbah : yap mbah…makasih uda ngingetin. ente juga ya uda ngingetin ane, jadi juga harus kayak gitu, biar ente juga ga kaburo maqtan😀

    @ noti : kenapa ti? dari kemaren komen2nya pendek2 nan pelit gitu..🙂

  2. ‘Ooh..aku ditipu. Dikhianati. Aku ingin ikut abi malah disuruh lihat ayam supaya bisa ditinggal diam-diam. Kalau begitu, menipu dan mengkhianati itu tidak apa-apa, nanti kalau aku sudah besar aku akan melakukannya!‘

    Yang di atas itu sinetron banget bang, sy ketawa bacanya 😀
    Bagus bang, jadi kesentil dan tulisannya mencerahkan😀

    -Komen versi boros-

  3. @inasa kamila: he-eh, sulit banget..tapi sayangnya berkata benar kapanpun, dimanapun, memang selalu tidak mudah kan? ya, semoga kita bisa belajar..

  4. “Ya, terus salah ane? temen-teman ente juga ada yang agenda yang sama tapi bisa ngerjain tepat waktu..”

    ngebayangin big sms begitu.. seram.. galak bener.. kalo fitri dah kabur de😀

    yang pasti tetap diingat firman Allah yang ini ya big..🙂

    “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, dengan nasihat yang baik dan berdebatlah dengan cara yang baik” (QS. An-Nahl: 125)

  5. @fitri:
    eh, jadi ga percaya nih ceritanya? Fitri belum tau aja saya kalo galak mode ON, mau coba?😉

    Nasihat yang baik untuk ‘bernasihat dan berdebat yang baik’, terimakasih Fit.🙂

  6. waaah ane telat baca gan >,<
    sama ky k'fitri, gak kebayang kalo k'big bisa ngmg begini “Ya, terus salah ane? temen-teman ente juga ada yang agenda yang sama tapi bisa ngerjain tepat waktu..”😛.
    itu yg sms k’big si nopri ya? *ngasal xD

    anyway, makasih kak, wlpun postingannya ga ngena2 banget buat sy skrg, tp smg sy bs belajar dr sini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s