My Eternal Rival


“Alhamdulillah kado u/ papa mama tgl 18 feb ini: gelar sarjana, kursi VIP d balairung, dan sambutan perwakilan wisudawan fasilkom”

Itu adalah tweet salah satu sahabat sekaligus rival terbaik saya, Andreas Senjaya yang akrab dipanggil Jay beberapa hari yang lalu. Untuk kesekian kalinya, saya cuma bisa senyum dan geleng-geleng dengan makhluk yang satu ini karena lagi-lagi mimpinya menjadi kenyataan!

Saya masih ingat betul waktu wisuda tahun 2010, Jay yang saat itu sebagai mahasiswa berprestasi kedua di UI diundang di acara wisuda UI, cerita ke saya, dia ingin sekali bisa bisa membanggakan orangtuanya dengan duduk di deretan terdepan di Balairung saat acara wisuda. Dengan enteng saat itu dia bilang,

“Saya harus nyari cara nih Big, gimana caranya bisa duduk disana.” Sambil gerakan menunjuk ke arah depan.

“Tapi kalau kayak Tantia (red: Mapres pertama UI yang juga peraih IPK tertinggi se-UI) yang bisa jalan-jalan di Balairung, kayaknya IP saya gak mungkin bisa kekejar Big. hehe.” katanya terkekeh.

Saya pun tersenyum simpul walaupun saya yakin entah kenapa pasti Jay bisa berada disana ketika dia wisuda. Dan, well done, Sabtu ini tanggal 18 Februari 2012 dia akan berada disana dengan keren!🙂

Ya, kalau ingat Jay, saya makin merasa bukan siapa-siapa.

Kalau ingat Jay, rasanya masih sangat bodoh dan gak tau apa-apa.

Kalau ingat Jay, surga rasanya masih jauuuh betul.

Hehe, saya mah gak seberapa dibanding jempolnya Jay, eh..gak ding dibanding ujung kuku jempolnya kayaknya juga masih gak ada apa-apanya.😀

Jadi ingat dulu awal tahun 2008, waktu di asrama, ketika saya menjadi ketua FORKAT (red: Forum Angkatan Asrama), Jay yang awalnya ngekos sendirian di daerah Pondok Cina, saya ajakin ke asrama buat bantu-bantu di Forkat, lalu sama-sama berjuang di P3A, yeah..Saya sama Jay masih seimbang lah.🙂 Lalu tahun kedua, ketika kami sama-sama di FUKI, lembaga dakwah fakultas kami, Jay jadi Kadep Syi’ar, saya jadi Kadep PSDM. Sampai disinipun kami masih se-kufu’. hehe.

Jay mulai tancap gas sejak meninggalkan asrama (jadi kami tidak sekamar lagi) dan memasuki PPSDMS, saat itu beeet..Si Jay sudah mulai membuat saya terpana, ketika dia cerita dia menjadi dua kali National Leader of The Month, salah satu penghargaan prestisius peserta PPSDMS yang paling berprestasi tingkat nasional, menceritakan setiap pelatihan-pelatihan yang diterimanya. Dan membuat saya…super mupeng. T.T Beruntung Alhamdulillah, beberapa kemudian Allah memberikan saya nikmat yang sama dan jeng jeng…kami pun kembali bersama.😀

Entah kenapa walaupun kami sudah satu asrama di PPSDMS, tapi saya merasa Jay tetap masih beberapa langkah di depan saya. Dengan gaya mata-mata kelas satu, saya pun sering ke kamar Jay kalau Jay lagi gak ada, (hehe, ketauan) dengan alasan sederhana, mencari sesuatu, apa yang saya tidak punya. Dan betul, kalau teman-teman punya kesempatan ke kamar Jay, insya Allah pasti ada sebuah inspirasi, semangat, motivasi baru! Ya, setidaknya itu yang saya rasakan.

Dan pada akhirnya hingga sekarang kami sudah tidak berdiri di titik yang sama dan sampai sekarang pun saya tidak bisa mengalahkannya.😀 (dalam kebaikan ya)

Kompetisi pertama kami adalah ketika persaingan menjadi calon wakil ketua BEM Fasilkom. Seperti biasa dalam keyakinan kami para ‘anak mushola’ syuro adalah jalan terbaik untuk menentukan pemimpin termasuk ketua BEM dan wakilnya. Saat itu ketuanya sudah ketemu tapi wakilnya belum. Saya yang awalnya super pede karena uda punya pengalaman di BEM baik di tahun pertama dan kedua, baik di tingkat fakultas hingga universitas, sedang Jay hanya menjadi staf departemen Kastrat di tahun pertama. Namun ternyata, Jay lah yang terpilih!🙂

Persaingan kami tidak berhenti disana namun lagi-lagi kami yang kamarnya bersebelahan ini juga bertarung di kompetisi mahasiswa berprestasi Fasilkom UI. Walaupun memang saya start-nya tidak terlalu baik, tapi saya yakin sudah cukup maksimal menyiapkan semuanya. Namun lagi-lagi, Jay lah yang jadi mapres utama, sedang saya mapres kedua. Kegagalan yang terulang kembali.

Pertarungan berlanjut di Indonesian Leadership Camp, sebuah konferensi nasional yang dihadiri oleh mahasiswa berprestasi se-Indonesia, mapres terpilih dari UI adalah dari tiga besar mapres dari setiap fakultas. Dan lagi-lagi saya hanya bisa duduk manis karena Jay lah yang lolos..

Banyak sekali momen-momen kami saling ber-fastabiqul khairat, hingga persaingan terakhir yang saya ingat kemarin saat pemilihan anggota MWA sebagai perwakilan teman-teman SALAM lagi. Saya yang lagi-lagi cukup pede karena MWA adalah jabatan yang sangat dekat dengan ranah advokasi dan itu karir yang saya bangun selama tiga tahun di kampus. Sebagai mahasiswa yang punya latar belakang yang cukup ‘dramatis’, tahun pertama aktif di ranah advokasi di asrama, tahun kedua dan ketiga menjadi penggiat Kesma. Jay sendiri yang baru masuk ranah sospol di tahun ketiga, tapi hasilnya pun bisa tebak. Untuk kesekian kalinya, ternyata amanah itu jatuh ke Jay. Yeah!🙂

Sekarang, di masa paska kampus pun, di tengah saya yang masih ‘tidak jelas’ sebagai asisten riset dan supervisor PPSDMS, Jay sudah mendirikan start up yang sudah beranggotakan belasan karyawan dan kabarnya untuk karyawan full time-nya setidak sudah bisa menggaji lima juta! Hoho, gaji saya di riset plus di PPSDMS aja masih gak nyampe ke angka itu..pyuuh. Hehe, ya, pada akhirnya saya hanya bisa berharap semoga kami tidak ‘mengincar’ akhwat yang sama, karena beresiko kandas kembali untuk kesekian kalinya.😉 *ini poin yang paling ngaco.😀

Yap, Jay, Jay, Jay…hari ini dia pun diwisuda. Andreas Senjaya, S.Kom.

Ya, semakin keren saja namanya dan insya Allah makin melejit pula capaiannya.

Semoga Allah berkahi Jay ilmu nya, saya haqqul yakin ente pasti jadi orang sukses!

 

Walaupun mungkin tidak seseimbang antara Naruto dan Sasuke, semoga saya terus bisa menjadi sparing partner fastabiqul khairat ente ya Jay!🙂


Big Zaman

Your eternal rival🙂


NB :

  1. Tulisan spesial untuk saudara saya Andreas Senjaya yang hari ini syukuran ganti nama menjadi Andreas Senjaya, S.Kom
  2. Tulisan ini dibuat tanpa mengurangi kehormatan terhadap saudara-saudara saya S.Kom yang lain yang wisuda hari ini seperti A. Fakhrul Arrozi, S.Kom, Topan Bayu Kusuma, S.Kom, serta rekan-rekan yang non-S.Kom yang lain, semoga tersempat dan terluang membuat tulisan spesial juga untuk yang lain.🙂

7 thoughts on “My Eternal Rival

  1. Kak BIG ini berlebihan sekali merendahnya *ngebelain kak BIG*. Saya doakan semoga akhwat incerannya kak BIG sama kak jay beda yaaa, hahahha, *diantara banyaknya yang ditulis, malah bagian itu yang gw komenin* -____-‘
    BerSEMANGAT!!

  2. jadi pengen kasih judul tulisan ini “the secret”. Hahaha
    jadi pengen loncat terjun payung dari helikopter setinggi gunung Fuji deh bacanya T________________T
    AAAAAAA *lempar Big Nuklir*

  3. @Isni:
    Eh, seriusan..bingung deh kalo suka muji2 sendiri2, bilang ganteng, dsb..dibilang kepedean,
    kalo nunjukin fakta kayaknya gini, dibilang merendah..serba salah. >,<

    hehe, itu..ituu..hanya saya dan Allah yang tau.😉
    *malah bikin gosip.😀

    @puspa:
    kenapa pus? bener2 gak paham..

  4. Bang, an juga jadi pengen punya pengalaman macam ni juga…
    seru gitu kayanya kalo punya Eternal Rival macam Naruto vs Sasuke Gitu..
    ngomong-ngomong siapa yang Sasuke dan siapa yang Naruto bang?
    trus Sakuranya siapa?? *Ups

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s