Gagal (1)


“Kak, kakak pernah gak mengalami kegagalan? bisa dishare kak bagaimana kakak mengatasi perasaan tersebut?”

Sebuah pertanyaan yang muncul dari seorang adik kecil, ketika saya mengisi acara sharing motivasi untuk adik-adik Yayasan Bina ABG di daerah Condet. Sebenarnya ini bukan pertanyaan pertama yang saya dapatkan, ketika diundang di acara BEM, LDK, training motivasi untuk anak SMA, di Bedah Kampus, atau dimanapun, selalu ini adalah pertanyaan langganan yang selalu muncul. Dan, dengan ringan, selalu jawaban default saya untuk pertanyaan ini adalah

“Setiap manusia pasti pernah gagal, termasuk saya juga…yang penting bagaimana agar kita tidak menyerah. bla..bla..bla.”

Lalu diakhiri dengan salah satu quotes favorit saya,

“Everything will be okay in the end, if its not okay its not yet the end!” (Patrick Star)

Percayalah semua akan berakhir happy ending kok dibelakang, ketika belum berhasil maka percayalah itu bukan akhir! Maka coba lagi..coba lagi..dan coba lagi!” Dan alhamdulillah selama ini cukup ampuh membuat para penonton terpana dan tersenyum dengan penuh semangat. Alhamdulillah.πŸ™‚

Akhir-akhir ini saya kembali merenungi pertanyaan ini. Kapannya terakhir kali saya mengalami rasa gagal yang begitu sakit?

Gagal lulus dengan predikat cumlaude, ikut lomba tapi belum juara atau pernah dapet IP dibawah tiga atau mungkin gagal meng-handle dengan baik suatu acara. Sisanya mungkin, gagal masuk SMP 3 Surabaya (salah satu SMP favorit di Surabaya) tapi masuk SMP 4 yang juga ga kalah bagusnya, gagal jadi Mahasiswa Berprestasi Utama Fasilkom, tapi masih jadi Runner-up Mapres, tidak sampai juara PIMNAS tapi menjadi finalis di PIMNAS untuk dua kategori yang berbeda, atau beberapa kegagalan-kegagalan yang menurut saya hingga saat ini tidak terlalu spektakuler atau tidak sampai membuat nangis dan ‘berguling-guling’ sampe tujuh hari tujuh malam.πŸ™‚ Merasakan kesedihan yang begitu mendalam seperti yang dialami orang yang tidak lulus SPMB (sekarang namanya SNMPTN) misalnya, dan lain sebagainya. Hampir tidak ada kegagalan yang rasanya sakit sekali. Semua hampir selalu berakhir denganΒ happy ending..

Omong-omong tentang SPMB, sebenarnya saya punya sebuah cerita menarik yang mungkin ini jadi salah satu cerita ‘kegagalan singkat’ saya dulu saat SPMB.

Kalau untuk temen-temen Seksi Kerohanian Islam atau SKI SMA 5 Surabaya (kalo di Depok lebih populer dengan istilah Rohis), kami punya kebiasaan unik untuk mengetahui pengumuman SPMB kami. Jadi hari H pengumuman kami berkumpul bareng di sebuah tempat untuk mabit, lalu nanti nomer SPMB kita dan jurusan dimana kita mendaftar disetorkan ke mas-mas alumni dan mereka lah yang akan menyampaikannya ke kita.

Jam 10 malam-an kira-kira, ketika kami semua anak-anak kelas 3 SMA sudah pada berkumpul, sebuah kertas diedarkan untuk menuliskan nomor SPMB masing-masing. Pilihan SPMB saya saat itu ada dua yakni Fasilkom UI dan Teknik Elektro ITS. Sebenarnya juga ada juga sejarahnya dalam pemilihan dua jurusan ini, tapi karena takut kepanjangan, saya persingkat saja, intinya saya itu milih Fasilkom UI super ngasal dan cuma iseng aja.πŸ˜€ Pilihan utama saya adalah Elektro ITS, cuma karena passing grade UI itu lebih tinggi serta saya haqqul yakin kalo saya gak pinter-pinter amat jadi sangat gak mungkin saya bisa masuk UI pasti ujung-ujungnya ‘lari’ ke pilihan yang kedua. Demikian, akhirnya saya pilih dua jurusan tersebut. Akhirnya, saat menulis di kertas itu, akhirnya saya cuma menyertakan nomer SPMB beserta jurusan Teknik Elektro ITS aja, karena kalau Fasilkom ditulis juga malu kalau ketauan gak lulus di pilihan pertama. hehe.

Tepat tengah malam, di ruang tamu tempat kami berkumpul, jam 12 malam, doa kami makin banyak. Kami panjatkan dan langitkan doa sebanyak-banyaknya sambil berbagai nazar pun dikeluarkan bila lulus SPMB (maklum, anak muda, kalo pengen aja nazar-nya pada kenceng-kenceng..hehe) Sedangkan diseberang sana, mas-mas alumni sibuk memasukkan setiap nomor SPMB kami untuk mengetahui hasilnya.

Selesai, kami pun dipanggil satu persatu.
“Akh Dalu..selamat antum diterima di Teknik Elektro ITS!” Disambut dengan pelukan dari mas-mas alumni dan takbir sekencang-kencangnya.
“Akh Rio..selamat di Teknik Informatik ITS!”

Semua teman-teman pun dipanggil satu per satu, banyak lulus alhamdulillah, walaupun juga ada beberapa yang Allah takdirkan lain. Hingga memasuki nama-nama terakhir, semoga aku termasuk salah satunya.

“Akh Big…” Jantung saya pun berdegup kencang. Nasib saya akan ditentukan setelah ini..

Dan belum seutas kalimatpun terdengar, beliau langsung memeluk saya dengan erat. Saya pun bingung dan mendadak punya firasat yang tidak baik.
“Tabahkan hati antum ya Big..Allah belum takdirkan antum untuk kuliah tahun ini.”

Bagai disambar petir. Saya langsung lemas. Tak kuasa pula air mata berlinang dan langsung terbayang ibu dan almarhum Bapak,
“Aku gagal pak, bu..” ucapku lirih.

Malam itu saya tak bisa tidur. Memikirkan apa yang harus ku katakan besok ke ibu? Pada para guru? Pada pemberi beasiswa ku? Berfikir kesana saja sama sekali tidak terbayang, apalagi memikirkan apa yang akan ku lakukan tahun ini.

Keesokan hari harinya, saya masih pulang ke rumah dengan lesu. Sama sekali tak berucap apapun kepada ibu. Di tengah kesunyian itu, tiba-tiba ada seorang teman menelfon, “Zeeeet…zeeett…(red: panggilan saya di SMA adalah ‘Z’), selamet yo, selamet, melbu UI pek arek iki!

Saya yang masih setengah sadar, bingung, apa saya gak salah dengar, saya masuk UI?

“Aku lho gak lulus yar, kemaren uda dicek.”
“Katanya siapa, liat koran, liat koran, aku ngeliat ada namamu!”

Kebetulan di rumah ada yang membeli koran saat itu, langsung lah saya ambil, dan mencari nama saya. Dan, ternyata ada! Nama itu bersanding dengan sebuah kode jurusan Fasilkom UI. Saya masih tidak percaya, masak saya dibohongi sama mas-mas kemarin?

Ternyata usut punya usut, kemarin mas alumninya membuka di web yang berbeda. Karena waktu itu website resmi SPMB http://spmb.or.id/ sering lost connection karena traffic yang tinggi, bayangkan semua orang se-Indonesia membuka website yang sama dalam waktu yang sama. Sehingga beliau mengecek nomor kami di website ITS, karena memang semua yang disana pilihannya ITS semua, termasuk saya yang hanya menyertakan ITS saja!

Dan, #jreeeeng , ternyata saya lulus SPMB.πŸ˜€

Ya, bagi saya ini adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa yang Allah berikan. Cuma ikut satu kali SPMB, namun memiliki dua perasaan, lulus SPMB dan tidak lulus SPMB.πŸ™‚

Dan saya masih ingat betul kedua perasaan itu, terutama perasaan tidak lulus. Oleh karena itu, saya sangat memahami perasaan teman-teman yang tidak lulus SPMB, walaupun saya hanya merasakannya semalam saja, namun itu sakit. Sangat sakit. Menyesal dan hanya bisa menyesal, itu lah orang-orang yang gagal. Menyesal karena dulu suka bolos-bolos bimbelnya, menyesal karena dulu tidak serius menyimak penjelasan guru di kelas, menyesal karena tidak belajar dengan maksimal, menyesal dan terus menyesal.

Seperti itulah yang namanya gagal, walaupun saya tidak lama mengalaminya.
Namun ternyata, dalam beberapa hari ini, Allah akhirnya mengizinkan saya kembali merasakan kegagalan yang menyakitkan itu..

*bersambung

8 thoughts on “Gagal (1)

  1. Alhamdulillah aku tidak pernah merasa gagal *songong* (walaupun secara absolut itu adalah kegagalan yang berlaku umum, misalnya: ga lolos SPMB) karena menurutku tugas kita sebagai manusia hanyalah memastikan bahwa apapun yang kita lakukan, kita melakukan itu up to our fullest. Ketika percaya bahwa kita sudah lakukan yang terbaik (kita taulah yaaa itu udah yang terbaik atau belum), maka kalaupun hasilnya ga sesuai harapan kita, maka berarti itu emang udah ketetapan Allah dari sananya. Jadi, ngapain juga aku menangis sedih dan merasa gagal? Term “gagal” bagiku hanya cocok buat orang yang #gagalyakin bahwa Tuhannya telah mempersiapkan yang terbaik untuknya. *ditampar kak BIG*

    Temanku Chiro di bukunya pernah bilang: kita selalu merasa gagal ketika ga bisa dapat apa yang kita inginkan, dan berandai-andai, “seandainya aku dapat pasti aku akan bahagia”. Kita selalu bertanya ke Tuhan, “Tuhan kenapa aku pilih jalan yang ini, kenapa tidak pilih jalan yang itu saja? Sekarang aku gagal dan menderita.” Padahal kalau saja tabir langit dibuka, bisa saja kita malah bersyukur karena kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan itu karena ternyata Tuhan sudah merencanakan yang lebih baik. Padahal kalau saja rahasia langit bisa dibuka, bisa saja pada akhirnya kita tetap pilih jalan yang telah kita pilih sekarang ini karena ternyata jalan ini yang terbaik bagi kita.

    hahahhaa, yaampun komentarnya ga nyambung sama postingannya seolah-olah aku tau term gagal yang dimaksud kak BIG di postingan ini, tapi walaupun gitu aku tetep pengen bilang begituuuu saja pokoknya, hahaha. Makanya kita harus selalu do our best biar ga pernah merasa fail. Kalau kita ga do our best, itu baru namanya salah sendiri, siapa suruh ga do your best. Itu artinya you choose to fail. You fail by default.

    Alhamdulillah ‘ala kulli hal always! :”)
    BerSEMANGAT!!

  2. @isni :
    waah, isni #superterharu2012πŸ˜€
    yap, isni pasti tau sih, kan telinganya tersebar diseluruh penjuru dunia..hehe.
    tapi nanti ya, ceritanya mau dramatisi gitu, biar hikmahnya bisa lebih kerasaπŸ˜‰

  3. YAH, ga seru!! kak BIG tau kalau aku tau apa maksud kegagalan di tulisannya ini. *gagal berpura-pura polos* .___________.
    Eh, tapi aku ga terima kalau dibilang telinganya tersebar. Jangan salahkan aku >.< Karena aku anak baik, jadi aku punya banyak teman, jadi banyak yang share info ke aku tanpa aku minta, hahahaha, :p :p
    BerSEMANGAT!!

  4. huaa.. big.. keren ceritanya!
    bener kata @isnidalimunthe. anyway, saya jg pernah “gagal”, dalam arti, ga mendapatkan apa yg saya mau. dan sesuatu ini sangat besar artinya. meskipun dulu sempat sedih, tp sekarang saya bersyukur bangetttt karena dulu “gagal”. karena memang baru terlihat hikmahnya sekarang. jadi bener, krn kita ga bs melihat melampaui tabir langit aja, kadang merasa sedih, kecewa, dll saat kenyataan ga sesuai keinginan, padahal semua ketetapan Allah baik bagi kita. semangat!πŸ™‚

  5. Yang paling penting jangan sampai gagal untuk Mr. Ari’s Super Duper Secret Top Mission Rank-S #apacoba :p

    Toh klo yang dicari ridho Allah, mungkin adanya di tempat lain Big, bukan di situ. Makanya nte gak nyangkut di situ.

    Ane pribadi sih tidak tahu yang terjadi selama ini itu musibah atau rejeki, yang jelas ane cuma berprasangka baik saja sama Allah. Pasti yang terbaik yang menunggu di depan! Mari kita sambut dengan sabar (klo gak enak) dan syukur (klo enak).πŸ˜€

  6. Saya juga pernah! Waktu proses beasiswa Total kemarin, lagi nunggu panggilan wawancara terakhir yg dijadwalkan pada bulan Februrari. Hingga tggl 28 Februari tiba, tak kunjung muncul panggilan. Dan sedihlah saya pada tanggal 1 Maret-nya.

    Dan pada tanggal 4 Maret ternyata saya dipanggil wawancara pada. Luar biasa bahagianya.πŸ˜€

    Tapi akhirnya belum rezeki juga sih di wawancara terakhir itu. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s