Gagal (2)


Sebenarnya agak mikir-mikir panjaang buat posting ini, takutnya terlalu curhat. hehe. Tapi karena udah terlanjur janji mau ngelanjutin tulisan yang ini. Ya, gak papa deh ya, saya bener-bener hanya ingin berbagi hikmah yang saya dapat ini. Banyak-banyak doa dan istighfar nulis ini, semoga bisa memahami ya maksud dibalik postingan yang cukup panjaaang kali ini.๐Ÿ™‚

****

Terpukul. Benar-benar sulit difahami. Berhari-hari lebih memilih ย mendekam, berdiam diri, sering melamun, dan berkali-kali menyalahkan diri sendiri. Sulit sekali menerima kenyataan tersebut bahwa aku..gagal.

Enam hari sudah berlalu, perasaan sedikit lebih baik, namun kekecewaan itu masih tersisa. Shalat, tilawah, zikir sekalipun masih tak mampu menghapus bersih bayang-bayang kegagalan tersebut. Sepertinya memang harus dicurahkan, namun pada siapa? Ibu? Membuat beliau sedih tentu bukan pilihan yang baik. Teman satu lab? Ah, mereka pun pasti sedang berjuang meneliti seperti biasa serta tentu ikhtiar mereka masing-masing mendapatkan beasiswa. Teman-teman terdekat pun sepertinya tidak tepat, aku tidak ingin kembali ‘dikasihani’ seperti dulu. Aku hanya butuh seorang yang bisa mendengarkan dan memahami. Itu saja.

Tiba-tiba terbesit beliau. Ya, beliau pasti bisa memahami dan seperti biasa pasti akan memberikan apa yang kubutuhkan. Kebetulan beliau juga baru saja berulang tahun beberapa hari yang lalu. Dan, tumpahlah semua rasa dalam sebuah pesan elektronik itu.

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ba’da tahmid dan shalawat.

Dear Ibu Kasiyah yang baik, apa kabar?

Semoga email ini tidak mengganggu ditengah-tengah segudang aktivitas ibu, membuat tugas dan ujian mendekati akhir semester, mempersiapkan setiap detil proses BOPB untuk kedatangan adik-adik mahasiswa baru, SK dan kawan-kawannya itu..terus menghimpun dan membantu mahasiswa-mahasiswa yang kurang beruntung sebagaimana saya dulu, dan selalu menjadi dosen yang menginspirasi, ibu yang hangat bagi setiap anak-anaknya. Sudah lama rasanya tidak mengobrol dengan ibu, kecuali sapaan-sapaan singkat di lorong lantai 2 gedung A ketika kita tak sengaja berpapasan bu, dan selalu, biarpun sejenak, senyum tipis khas ibu selalu dapat menentramkan hati yang sejatinya butuh tempat mengadu..

Ala kulli hal, mungkin ibu marah, kecewa, atau malah sebaliknya lupa, sebenarnya ada salah satu (mantan) mahasiswa ibu yang paling banyak merepotkan ibu, yang paling banyak ibu bantu, yang tahun lalu justru mengejutkan ibu dengan sebuah kue tart kecil dan karikatur mungil bersama rekannya di rumah ibu. Ya, dari tanggal sepuluh hingga tanggal dua puluh dua ini , anak ini belum pula mengirimkan doa baik langsung, sms, facebook, atau dengan media lainnya.. *walaupun sebenarnya doa itu terus selalu dilangitkannya kepadamu ibu, namun tak berani dilisankannya hingga hari ini karena suatu alasan tertentu..

Teringat tiba-tiba momen itu. Pagi hari dimana tiba-tiba ibu mengirimkan sebuah pesan singkat kepadaku, “Big, datang ya ke aula terapung perpus pusat hari ini. Kalau kamu dateng, ibu pasti akan senang sekali.” Tanpa pikir panjang, permintaan dari ibu tersayang kenapa tidak kupenuhi?๐Ÿ™‚ Ternyata saya datang ke sebuah acara pelatihan MHMMD untuk teman-teman Bidik Misi angkatan 2011. Ruangan tersebut tak terlalu membuat canggung karena ada beberapa adik-adik PPSDMS saya pula disana sebagai panitia dan kakak mentornya.

Hingga saat dimana ibu maju dan semua pun bertepuk tangan. Seperti biasa, khas ibu, suara kecilnya, senyum manisnya, dan kalimat spesial itu, “tugas kamu adalah untuk berbahagia!” Yap, inilah ibu saya, Bu Kasiyah.๐Ÿ™‚ Hingga suatu saat dimana, slide didepan memuncul foto ibu, saya, dan Jay. Momen di rumah itu kembali tergambar jelas. Lalu ibu melanjutkan,
“Saat ini ditengah-tengah kita telah hadir salah satu idola saya, Big Zaman. Dia adalah mahasiswa Fasilkom angkatan 2007. Tidak tanggung-tanggung dia adalah salah satu mahasiswa berprestasi Fasilkom, mendapatkan beasiswa prestasi PPSDMS Nurul Fikri, sekarang ini sedang menjadi asisten riset dan bersiap untuk melanjutkan S2 nya ke Jepang! Ayo Big maju kedepan sini..” “Hayo, siapa yang ingin seperti Big?”

Diiringin dengan banyaknya peserta yang riuh bertepuk tangan sambil mengangkat tangannya..

Allah, saya lemas sekali kala itu ibu..Antara tertampar namun juga tersemangatkan setinggi-tingginya. Dan semakin terkuatkan dalam hati, bahwa telah banyak doa yang terhaturkan, telah banyak harapannya yang terlangitkan, maka berjuanglah Big!

***

Hari demi hari pun berlalu, singkat cerita Allah punya kehendak lain, diskusi saya dengan Ibu (kandung saya yang di Surabaya), berakhir dengan keputusan bahwa saya harus membersamai Ibu karena Oktober tahun ini insya Allah mbak akan menikah dan tinggal bersama dengan suaminya, maka sayalah yang harus menjemput amanah ini sebagai anak yang berbakti..
Ternyata Allah memang tidak mengizinkan saya pergi jauh. Mungkin menurut Allah, membersamai ibu di usianya yang sudah senja kini, lebih mulia saat dibanding pergi jauh ke belahan bumi tersebut.

Ya, tidak ada perubahan. Cita-cita saya masih sama, menjadi akademisi, peneliti dan penemu berbagai macam teknologi informasi terbaru, dan tentu menjadi dosen yang menginspirasi dan bisa berbagi, seperti ibu..Entah, saya ingin sekali menjadi seperti ibu. I want to be like you, Bu Kasiyah..๐Ÿ™‚
Bismillah, saya putuskan untuk S2 MIK di Fasilkom dengan beasiswa IMHERE, satu setengah tahun kemudian kalau Allah berkenan bisa langsung membersamai ibu di kampus dengan status yang sama menjadi pengajar, atau S3 dulu (semoga benar-benar bisa) ke Jepang insya Allah, dan kembali lagi ke tujuan tersebut. Semoga Allah meridhai..

Pengumuman beasiswa datang, saya coba maksimalkan sebaik mungkin. Pengumpulan berkas dua hari sebelum deadline saya sudah submit dan sepertinya saya yang pertama kali daftar. Subject Exam, saya optimalkan kembali dan alhamdulillah ketika beberapa teman-teman merasa ragu dengan tesnya, justru saya begitu yakin dengan tes tersebut. Lolos ke tahap wawancara dan dihadapan Bu Mirna, Pak Ade, Pak Ruli, dan Pak Nizar, empat dosen yang sudah tidak asing lagi, rasanya tidak terlalu grogi dan cukup menyakinkan. Bismillah, Allah banyak memudahkan, semoga hasilnya pun sesuai dengan apa yang diharapkan. Pengumuman sekitar pekan kedua atau ketiga Mei, berharap ini menjadi hal baik yang ingin saya kabarkan kepada ibu nanti sembari mengucapkan selamat di hari berbahagia ibu.

Namun, ternyata Allah kembali punya kehendak lain.
Saya gagal. Gagal total. Saya tidak lulus, ibu..Maya dan Mega (2008) lah yang mendapatkan rezeki tersebut. Dan ternyata benar, menerima kegagalan tak semudah mengatakannya. Menelan kekalahan selalu terasa pahit dan menyesak dalam dada. Gagal. Malu. Kecewa. Goyah..Itulah kondisi saya beberapa hari ini.

Tepat malam kemarin saya tersadar. Tak ada waktu lagi untuk terus meratapi. Menampar keras-keras diri bahwa meragukan keindahan skenario Allah adalah kesombongan yang sangat! Merasa diri paling tau yang terbaik untuk dirinya..Padahal jelas, tak ada lagi yang menginginkan kebaikan dan keselamatan kita selain Dia, Allah yang Maha Baik..

Allah, ampunilah kepicikan hati ini yang seringkali tak mampu melihat rahasia-Mu..

Ya, saatnya bangkit! Meyakini takdir bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik.
Bercermin, saya bukan anak kecil yang butuh dituntun lagi, justru sudah saatnya untuk berani menuntun dan mengarahkan keluarga sendiri.
Bercermin, pun saya bukan anak lulusan SMA yang dulu bisa merengek ke ibu ketika menghadapi permasalahan finansial..

Saya sudah sarjana. Sudah terlalu banyak nikmat yang Allah berikan. Saatnya membuktikan investasi semua orang yang telah banyak membantu dan membesarkan diri ini.
Mungkin ada benarnya, menjadi pelaut tangguh harus berani menghadapi lautan yang membadai. Mungkin Allah ingin saya merasakannya benar-benar, setelah sekian lama masih berkutat di kampus. Saatnya menempa diri dengan tempaan yang lebih keras..

Yap, mungkin itu bu yang ingin saya sampaikan, kabar terakhir saya yang ternyata cukup panjang dan melelahkan untuk dibaca.๐Ÿ™‚
Alhamdulillah, rasanya lebih plong saja ba’da menulis email ini ke ibu..

Saya hanya ingin menyampaikan maaf sebesar-besarnya ibu, ke ibu-ibu POMDA, selama ini tidak pernah bisa menjadi anak kebanggaan ibu-ibu semua. IPK tidak bisa cumlaude. Prestasi yang nanggung, tak ada yang spektakuler. Tidak bisa menjawab harapan-harapan ibu..Dan ternyata bahkan tidak mampu bersaing mendapatkan beasiswa kuliah lagi padahal hampir genap satu tahun paska kelulusan sarjananya..

Ya, mohon doanya ibu agar Allah selalu kuatkan dan beri jalan yang terbaik.

Salam hangat selalu untuk ibu..
Selamat ulang tahun Ibu. Semoga Allah selalu menjaga ibu. kapanpun. dimanapun ibu berada.

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

-Big

Alhamdulillah, berbagi ternyata memang selalu lebih melegakan. Dan, ternyata tidak sampai satu hari, email itu pun berbalas.

Waalaikum salam Big
Ibu bangga padamu. Big faham ibu tidak nge fan pada mhs pintar tetapi mhs baik. Kamu salah satunya.

Kamu gagal ibu tdk kecewa, sebab ibu melihat kegagalan sbg keberuntungan: pelajaran dan penyelamatan dari sesuatu yg mungkin akan kita sesali.

Ibu sdh 51 tahun dan selama ini membuktikan bahwa hidup ini dari kemurahanNya ke kemurahanNya yg lain, termasuk kegagalan adalah kemurahanNya yg belum terungkap tabirnya…. Ada yg perlu sehari ada jg yg sepuluh tahun kemudian baru difahami hikmahnya.

I am proud of you Big. Terutama krn kamu menggunakan hati nuranimu. Turuti apa kehendak ibumu. Krn itu pasti baik. Ibumu memerlukanmu. Itu lebih mulia dari meneruskan kuliah sekarang. Kesempatan berbakti pd orangtua tak bs kamu tukar dgn rupiah dan gelar.

Smg ibumu diberi kesehatan dan usia berkah menemanimu doa2nya. Menerangi jalanmu nasehatnya. Aamiin

Salam untuk ibumu yaa? Khabari ibu kalau kamu mau pulang yaa.

Salam
kmj

Hampir saja air mata saya tumpah saat itu, namun mengingat masih di lab dan tentu gengsi dong diliat anak-anak? hehe.๐Ÿ˜€ Ya, saya pun kembali mencoba menguasai diri, meresapi kembali setiap butir nasihat dalam pesan tersebut.

“..hidup ini dari kemurahanNya ke kemurahanNya yg lain, termasuk kegagalan adalah kemurahanNya yg belum terungkap tabirnya…. Ada yg perlu sehari ada jg yg sepuluh tahun kemudian baru difahami hikmahnya.”

Rasa sedih itu masih ada, namun kepercayaan itu kembali tumbuh, bahwa Allah tidak akan pernah..Ya, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kita..

*bersambung

19 thoughts on “Gagal (2)

  1. Kecewa dengan kegagalan itu ada karena ada sebuah harapan untuk mencapainya. Namun kala Tuhan memberi jawaban `tidak, tidak sekarang / bukan ini`, kita harus berusaha sekuat mungkin untuk berpikir positif terhadap kehendak-Nya.

    Dalam waktu 4 tahun ini saya memiliki banyak harapan dan tak sedikit harapan-harapan itu gagal dan membuat diri ini hanya bisa frustasi dan menyesali diri. Namun setelah itu saya harus berusaha sekuat hati untuk bangkit dan melakukan koreksi diri.

    Semangat Kak Big! Semoga Allah memberikan rahmat, barakah, dan hidayah terhadap hidup Kak Big di dunia ini. Amin ya Rabbal ‘Alamin. Anyway, saya setuju dengan pendapat Bu Kasiyah, `turuti kehendak ibumu`. Entahlah, bagi saya apa yang jadi perkataan Ibu, seperti sebuah mandat yang akan saya coba penuhi dengan prioritas setinggi-tingginya.

    By the way, nama kategorinya cukup membantu kak -_-”
    Hehe. peace ^_^v sekali lagi, semangat kak!๐Ÿ™‚

  2. Pas ini Big postingannya. Pastinya Allah memberikan yang terbaik. Cuma kita yang terkadang perlu banyak belajar menerima apa yang terbaik untuk diri kita.๐Ÿ™‚ ~sokBijak, sekalian self note.

  3. *terharu banget deh baca tulisan ini big, terlebih baca balesannya bu Kasiyah.

    Bener banget kata bu Kasiyah:
    “Turuti apa kehendak ibumu. Krn itu pasti baik. Ibumu memerlukanmu. Itu lebih mulia dari meneruskan kuliah sekarang. Kesempatan berbakti pd orangtua tak bs kamu tukar dgn rupiah dan gelar.”

    ~Allah tahu lah yang terbaik.

  4. hidup ini dari kemurahanNya ke kemurahanNya yg lain, termasuk kegagalan adalah kemurahanNya yg belum terungkap tabirnyaโ€ฆ. Ada yg perlu sehari ada jg yg sepuluh tahun kemudian baru difahami hikmahnya.

    ~entah mengapa pas baca ini fitri langsung jadi meleleh..๐Ÿ˜ฅ

    sesulit apapun, selalu ada yang tetap bisa disyukuri dari setiap situasi insyaAllah.. :’)

  5. @Yunus :
    yap, alhamdulillah..just want to share as usual.๐Ÿ™‚ aamiin, terimakasih yunus.

    @Fajar :
    Fajaar, utang ane uda ane bayar ya, kalo cerita didepan ente, rasanya terlalu dangdut. haha. Jadi via blog aja ya, lagian ente kan suka stalking ane. :p
    Mari meresapi setiap hikmah ini Jar, sekali lagi, Allah has a plan for us.๐Ÿ™‚

    @Mila & Fitri:
    yap, begitulah Mil, Fit, emang super sekali beliau.๐Ÿ™‚
    *btw saya belum izin nih mem-publish email beliau, yaa, semoga beliau ga marah. hehe

    @Mufid:
    Hehe, iya dong, kan biar seru fid..kalo ga semua digeber mah, SInetron “Tersanjung” gak bisa sampe 7 session.๐Ÿ˜€

  6. big!! yang saya tahu big adalah orang yang tidak pernah menyerah. semua orang pernah gagal, pernah kecewa, tapi percaya aja, itu cara Allah untuk meningkatkan kualitas diri kita.. tidak selamanya hal yang hebat adalah kuliah setinggi langit di negeri seberang. mungkin memang ada hal yang lebih mulia yang Allah ingin Big lakukan.. ada seribu satu jalan menuju Roma… Semangat Big!๐Ÿ˜€

  7. bagus nih Big. terutama yang ini:

    “sebab ibu melihat kegagalan sbg keberuntungan: pelajaran dan penyelamatan dari sesuatu yg mungkin akan kita sesali.”

    selalu, berprasangka baik membuat kita menjadi lebih tangguh. seperti yang Bu Kasiyah ajarkan di atas.

    jfs akhi.

  8. ๐Ÿ™‚

    Alkisah, setelah ke-belumrezeki-an beasiswa Total, saya nyoba beasiswa Fulbright. Belum rezeki juga ternyata, dipanggil wawancara pun tidak. Tapi anehnya kali ini relatif ga pake acara sedihdangdutan. Haha.๐Ÿ˜€

  9. Tiba2 terdampar di blog ini (blogwalking) dan terharu membaca beberapa tulisan.. Subhanallah.. Semoga sukses ya mas dan bisa membahagiakan keluarga… btw teman Deady ya? saya temen sekampusnya hehe

  10. jadi intiya in this story, there’s always help you’ve got. tell me dong gimana caranya biar kaya gitu? biar selalu punya helper atau di datengin malaikat penolong di setiap masalah kaya lu gini, God has always helped his servant right? so why in some cases we felt just alone.. is there a problem which was created for just thinking? i mean there’s someone who gets inherent problem when she/he didn’t do anything until he gets it until he/she doesn’t mine with it as while that was all wrong. what do you think? is there helper created for him/her in this case? i mean not everybody got loved like you, some people has do out of the box and dissamble. only for getting that concern. you just writing based on your mind, never looked in other or thougt in a different concept. that’s why you luck, cause you always think in their zone, not because you did it but this is what you are, that’s what i called d-e-s-t-i-n-y.

  11. Terenyuh baca postingan ini. Saya kesasar ke blog ini, tapi lalu saya menyadari bahwa saya tidak kesasar..
    Baru sadar saat baca salah satu postingan kalau mas Big SMA 5 Surabaya angkatan 2007. Berarti temannya mas Nur Huda Teknik Mesin ITS sama mas Dalu Nuzlul Kirom T.Elektro juga ya mas?
    Subhanalloh.. Blog ini berisi jutaan inspirasi.
    Semangat mas Big Zaman, semoga bisa lebih menginspirasi lagi.

  12. Selama kita masih hidup, pasti ada rejeki buat kita.
    Sekalipun kadang rejeki itu turun sederas air terjun atau sesekali turun selambat tetesan air keran.
    Rejeki hanya bisa putus saat kita tak bernyawa lagi.

    Karena itu dek, selama kita diijinkan bangun tidur pagi hari dalam keadaan bernyawa, artinya masih ada rejeki buat kita dihari itu. Apapun bentuk rejeki itu, hidayah, ilmu, kesehatan, ukhuwah, nama baik, materi, keselamatan, pertolongan, hikmah, dkk. Semangat dek! Smg Allah menggantinya dengan yg lebih baik diwaktu yg lebih tepat.

    #Seneng liat adek di global TV beberapa waktu lalu terkait aplikasi qurban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s