Kilas Balik Paska Kampus (1): Bersyukur


“Mari kita sambut perwakilan sambutan wisudawan, Saipul!”

Tepuk tangan dan suara wisudawan dan para undangan menggemuruh saat itu. Saipul yang awalnya duduk santai-santai saja dengan toganya, mendadak panik. Sejak awal dia memang tidak mengira mendapatkan kehormatan ini, karena banyak rekan satu angkatannya yang sebenarnya jauh lebih pantas dibanding dirinya. Dari Si A yang kemarin saat wisuda UI di Balairung didaulat menjadi IPK tertinggi se-UI. Atau Si B yang menjadi mahasiswa berprestasi Fasilkom UI tahun ini bahkan menduduki peringkat 4 di tingkat UI. Atau rasanya orang-orang lebih ingin mendengar orasi si C yang dulu menjadi ketua BEM Fasilkom UI di masanya. Atau si D yang Abang Jakarta, si E yang juara ini juara itu, atau rekan-rekan wisudawan lainnya yang jauh lebih prestatif darinya. Namun apa daya, nasi pun sudah menjadi bubur, mari kita buat sekalian bubur ayamnya. Begitu kata Aa Gym.

Saipul menghela nafas panjang, berdiri, dan dengan gontai melangkah menuju podium. Ia berhenti sebentar sembari menunduk memberi hormat pada para dosen di depan serta para wisudawan yang lain, dan ia pun melanjutkan langkahnya kembali menuju di podium.

Okeh..tenang…Ini tidak ada bedanya dengan sambutan lainnya. Jaga intonasi, jangan panik, dan yang terpenting jaga tahan kecepatan bicara. Fyuuh, bismillahirrahmanirrahim.” Katanya dalam hati.

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh!

Terdengar sayup-sayup namun lantang suara hadirin menjawab salamnya. Dilanjutkanlah dengan memberikan sapaaan kepada para undangan, terimakasih kepada para dosen serta rekan-rekan wisudawan yang telah bersedia untuk diwakilkan olehnya..bla..bla..bla. Selesai. Satu menit berjalan, tiba-tiba pikirannya buntu.

Mau ngomong apaan lagi ya?

Ia memang terbiasa berbicara spontan dan kali ini tidak biasanya dia buntu, tak sedikitpun kata-kata yang terbesit. Tetiba, ia menoleh kebelakang, melihat tulisan latar dari acara ini. “Syukuran dan Pelepasan Wisudawan Fakultas Ilmu Komputer UI 2011” Syukur..oh iya syukur!

Dan sebuah ide pun menjalar di otaknya.

Jadi hari ini kita menghadiri suatu acara yang berjudul ‘Syukuran dan Pelepasan Wisudawan Fakultas Ilmu Komputer UI 2011’. Ya, ternyata ada sebuah kata menarik disana. Syukur. Saya pikir kata ini memiliki makna yang mendalam dan dapat direfleksikan sejenak bersama.

Berbicara tentang syukur, dalam pikiran saya selalu tidak dapat lepas dari sesosok orang yang saya yakin kita kenal bersama. Salah seorang satpam Fasilkom UI, namun izinkan saya tidak menyebutkan namanya untuk menjaga keikhlasannya. Namun sungguh saya belajar makna syukur yang sebenar-benarnya dari beliau..

Saya yakin teman-teman akan sepakat dengan saya, Bapak yang satu ini adalah bapak yang sangat ceria, tampak tenang, tanpa beban, setidaknya itu terpancar dari senyumnya setiap kali saya menyapanya. Kebetulan tempat tinggal kami berdekatan dan kami selalu shalat di masjid yang sama, Masjid Mardotillah di Srengseng Sawah. Dan yang saya kagumi dari beliau, setiap kali saya ke masjid, selalu saya menemukan beliau dalam kondisi siap dan berada di rakaat pertama! Tak pernah saya melihat beliau tertinggal jama’ah rakaat pertama. Dan dahsyatnya lagi, selesai shalat beliau tidak pernah terlihat beranjak dari tempat duduknya sebelum imam selesai berdoa hingga selesai. Beda banget mah sama kita-kita yang abis salam, dzikir bentar, doa sekelebatan, dan langsung ngacir..hehe.

Saat itu saya sengaja nungguin beliau dibelakang, ceritanya ingin mampir ke rumah beliau buat nyicipin jajan lebaran. Dan ternyata beliau menyambut dengan hangat, singkat cerita kami berdua pun berjalan menuju rumahnya..

Sesampai disana, saya menemukan pemandangan mengejutkan. Ada seorang anak perempuan, berumur sekitar 6 hingga 8 tahun mungkin. Ia berlari menuju saya kemudian jatuh. Berdiri kembali kemudian jatuh lagi. Begitu seterusnya. Saya yang tidak sampai hati pun menyambut tangannya yang ternyata ingin mencium tangan saya.

Wah iya Pul, mohon maap ya..ini anak saya yang paling kecil. Dia suka jatuh-jatuhan karena emang dia gak bisa ngelihat. Dia tuna netra. Hehe..tapi gapapa kok, ayo adek masuk rumah yaa..” Beliau tersenyum kembali sambil melakukan gerakan lembut membelai anaknya. Lalu mengajaknya masuk kedalam rumah.

Allah..Terpaku hati saya seketika. Rencana silaturrahim yang awalnya ingin happy-happy, ternyata tidak seceria yang dibayangkan. Satu fakta yang saya temukan saat itu, membuat saya makin mengagumi beliau..

Ayo Pul masuk aja, saya ke dapur dulu ya..” Beliau pun masuk menuju dapur. Perlahan saya masuk ke rumah beliau, saya melihat ada seorang wanita paruh baya yang sedang berbaring di ranjang di ruang tamu tersebut. Saya pikir beliau istri si Bapak. Sehingga saya layangkan salam lah kepadanya.

Assalamu’alaykum ibu..

Sepi, tidak ada jawaban sama sekali. Saya pun mengulangnya, dua kali, tiga kali dengan nada yang sedikit lebih tinggi, tak ada perubahan sama sekali, sang ibu sama sekali tidak bergeming.

Sang Bapak Satpam pun keluar lagi kemudian langsung menjawab, “Wa’alaykumsalaaam..aduh iya Pul, maaf ya tadi istri saya gak ngejawab, istri saya lagi sakit soalnya, sakit stroke, hampir semua syarafnya motorik mati, jadi ga bisa jalan, berdiri, bahkan untuk ngomong juga gak bisa..Hehe..Yaudah silahkan duduk Pul.” Dan beliau pun tersenyum kembali.

Allah..Tak terasa bulir-bulir air mata saya pun mulai menggenang. Betapa berat cobaan beliau ternyata, dibalik semua senyum cerianya selama ini.

Saya pun semua duduk, sang Bapak mempersilahkan saya untuk mencoba beberapa kue lebaran yang masih tersisa di mejanya. Sebenarnya sudah hampir tidak berselera kembali, namun untuk menghormati beliau saya pun mengambil satu dua kue yang terdekat.

Jadi gimana Pak ceritanya kok bisa istrinya sakit begitu?

Iya Pul jadi si Buyung kan sekolahnya gak bisa sekolah yang biasa tuh, jadi dia masuk SLB yang tempatnya jauh banget, Lebak Bulus masih sonooo lagi..Nah karena saya kudu jaga di fakultas, jadi yang sering nganter jemput istri..Sampai suatu ari, istri jatoh Pul, mungkin karena kecapekan, langsung muncul gejala stroke..Sempet dirawat di rumah sakit seminggu, pas uda agak baekan dibawa pulang lagi..Abis itu nganter-ngater si Buyung lagi..eh dua minggu kemudian apa ya jatoh lagi Pul, udah abis itu kayak gitu, gak bisa ngapa-ngapain lagi..

Teriris sejatinya hati saya mendengar penuturan beliau. Dengan profesinya saat ini, dengan kondisi keluarga yang demikian, pasti sangat berat sekali beban hidupnya.

Terus..Pak, gimana jadinya…?” Pertanyaan saya yang terakhir ini agak bergetar. Sang Bapak tampaknya menangkap maksud pertanyaan saya. Dia pun tersenyum.

Gimana..gimana yaa? Yaa..kalo kite mah Pul, bersyukur ajaa..apa yang Allah kasih ke kite, ya kita terima baek-baek kita syukuri, insya Allah ini yang terbaek dan pasti ada hikmah dibalik itu semua itu.” Dan senyumnya pun kembali merekah..

Ceees. Ada rasa sejuk yang tiba-tiba merasuk di hati saya saat itu. Nasihat terbaik tentang syukur yang pernah saya dengar! Nasihat syukur yang muncul bukan dari seorang motivator sekelas Mario Teguh atau trainertrainer lainnya, namun ini murni keluar dari mulut seorang yang diuji sedemikian hebatnya oleh Allah.

Bersyukur Pul! Ya, bersyukur!

Luarbiasa rekan-rekan..sekarang saya tanya, kira-kira saat sang Bapak ini menikahi istrinya dulu, kira-kira beliau berharap gak, atau punya bayangan gak, punya anak yang tunanetra, istri yang lumpuh total, kira-kira berharap begitu gak?

Tentu, tidak..Semua pasti berharap semuanya baik-baik saja, semua punya istri yang sehat, anak yang baik dan normal..Namun harus kita sadari bahwa banyak hal yang kita harapkan, kita doakan, tapi tidak semua sesuai dengan ekspektasi awal kita.

Dan saya pikir mirip sekali dengan kondisi kita hari ini. Mungkin dulu ketika awal pertama kali kita masuk Fasilkom, sejuta mimpi telah kita canangkan, sejuta harapan telah layangkan, namun setelah memasukinya, ternyata semua tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan..Pada akhirnya kita menyesali diri kita sendiri, berlari dari kenyataan yang seharusnya kita hadapi, menyia-nyiakan apa-apa yang seharusnya kita syukuri..

Cihuuy, Saipul mulai tenang dan ia pun menutupnya dengan mantap.

Sekarang kita telah menjadi wisudawan teman-teman. Jalan panjang menanti kita di depan namun tidak ada kata terlambat untuk mensyukuri nikmat ini..Hidupkan kembali mimpi kita. Rancang kembali masa depan kita dan rencanakan kontribusi apa yang dapat kita lakukan untuk agama, bangsa, dan negara yang kita cintai ini.

Terimakasih atas kesempatan yang diberikan. See you on the top! Sampai jumpa di puncak kesuksesan rekan-rekan semua.

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

***

Tujuh belas september dua ribu sebelas, tepat satu tahun satu bulan yang lalu. Memori itu masih teringat jelas diingatan Saipul. Rasanya itu jawaban pertama atas semua kebimbangannya hari ini, paska satu tahun kelulusannya menjalani kehidupan paska kampus yang sebenarnya. Amanah yang dikerjakannya sekarang, kondisi finansial yang menghambatnya, serta semua pikiran-pikirannya selama ini..

Mensyukuri apa yang telah ia dapati, memaknai kembali setiap jengkal nikmat yang Allah berikan kepadanya selama ini..

Ya, Saipul aja uda sadar, lalu kamu Big?

12 thoughts on “Kilas Balik Paska Kampus (1): Bersyukur

  1. :’) -> ngerti kan maksudnya apa? huahaha

    jazakallah khairan, big.. jadi pengingat buat saya yg udah 3 tahun pascakampus.
    Allah menutup semua ketetapan utk kita sampai saatnya nanti terbuka, agaknya memang supaya kita bisa bebas berencana, berusaha, bercita2 ya.. dan itu yg membuat hidup jd seru..hehe. yg penting, selalu bersama Allah sepanjang jalan ini. nanti Dia yg menuntun, mengarahkan, memberi jawaban saat kita nggak tau harus kemana dan ngapain.

    وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًۭا
    وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مِنْ أَمْرِهِۦ يُسْرًۭا

  2. Indeeed! Beneer banget kak😀 *gak tau kudu ngomong apa lagi*
    Waiyyaki kak hening, semoga Allah tuntun selalu kita semua ya kak menuju jalan yang berkah, yang terbaik , yang selalu dipenuhi kebaikan🙂

  3. @Galih :
    Silahkan galih🙂

    @aiharabettychan & nur lasmini :
    Alhamdulillah..semoga ada yang bisa diambil manfaatnya walau sedikit. Salam kenal juga🙂

    @annisarizke :
    “Bukan bahagia yang menjadikan kita syukur tapi syukur yang menjadikan kita bahagia” –> quote yang keren mbak!😀

    @Fitri Aprianti :
    sama, saya juga malu Fitri T.T
    harus lebih banyak bersyukur lagi ya kita..

  4. Saya membaca ini ditemani Instrumen “My Memory”, merinding… terharu… berduka… namun bersyukur. Ternyata memang ada banyak hal yang bisa kita syukuri dari hidup ini.

    Syukur ketika suka itu biasa. Begitu juga sabar di kala duka. Itu juga biasa.
    Tapi syukur di kala duka jauuh luar biasa, syukur sebenar – benarnya syukur.

    Salam takjub saya untuk Pak Satpam yang luar biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s