Filosofi Mencuci Piring


11 Juli 2016 jam 06.00. Ya, diantara semua pekerjaan rumah tangga, bagi saya memiliki kesan masing-masing. Oh iya, tulisan ini tidak dibuat dalam rangka pencitraan bahwa saya banyak melakukan pekerjaan di rumah. Sepagi apapun saya bangun, sehebat apapun apa saya melakukannya, istri saya tetap tak terkalahkan dalam hal ini😀 Sebut saja mencuci piring, mencuci baju, menyuapi anak makan, menyapu, mengepel, sampai pekerjaan domain ‘bapak-bapak’ seperti naik-naik genteng, paku-paku sesuatu, dan sebagainya. Tapi buat saya, pekerjaan rumah yang lebih sedikit saya lakukan daripada pekerjaan di luar rumah ini, selalu memiliki nilai dan hikmah tersendiri dalam pengerjaannya.

Dulu, diantara semua hal diatas (kecuali turunan pekerjaan setelah menikah) awalnya saya merasa mencuci baju adalah pekerjaan terberat sepanjang hidup saya (halah), apalagi kalau sudah menggunung, strategi yang digunakan pun semakin pragmatis : rendem yang lama pakai air detergen dan kucek seadanya alias di-‘injek-injek’ :p

Alhamdulillah, berkat adanya teknologi bernama mesin cuci, painfulness mencuci baju sudah jauh lebih berkurang. Ya, walaupun pakaian bayi, bekas eek dan ompol memang tetep harus dikucek, tapi insya Allah sudah cukup diringankan. Justru hari ini, saya merasa ada satu buah pekerjaan menjadi lebih berkesan yaitu : cuci piring.

Berawal dari ba’da lebaran kemarin, saya menghadapi cucian piring yang ‘menggunung’. Dan seperti yang diketahui lebaran memang sejak dulu berteman akrab dengan opor ayam, sayur labu, sambal goreng hati dan kentang, pokoknya yang banyak minyak dan santannya. Jadi, dalam sesi mencuci kemarin tidak hanya piring dan gelas kotor saja, wajan dan panci berminyak dan bersantan pun tidak absen dari checklist item yang harus dicuci. Ba’da lebaran biasanya juga tempat sampah penuh-penuhnya, lubang saluran air di bak cuci piring juga kotor-kotornya, dan semua tampak……menarik untuk ditinggalkan😀

Ada beberapa filosofi hidup yang menarik (setidaknya bagi saya) dalam kegiatan cuci-mencuci piring ini yang ingin saya tulis disini agar saya tidak lupa, bahwa saya pernah memikirkan ini🙂

1. Memiliki Mentalitas Menyelesaikan Masalah
Ini memang selalu menjadi hal yang klise tapi pengalaman saya membuktikan inilah yang menjadi pembeda orang yang mau menyelesaikan masalah atau tidak. Setidaknya dalam masalah mencuci piring :p Saya pikir semua orang pasti tidak suka dengan cucian kotor, tapi tidak semua orang tergerak untuk menyelesaikannya. Sebagian besar memilih untuk berprasangka baik bahwa akan ada ‘orang baik’ selain dirinya yang akan menyelesaikannya. Atau seringkali kita merasa tidak cukup bisa mengerjakannya, dengan ribuan alasan takut gak bersih lah, takut piringnya jatoh, dan sebagainya. Orang yang selalu punya alasan, pasti tidak akan pernah bisa belajar dan memperbaiki dirinya.

2. Kejelian dalam Mengurai Masalah
Biasanya dalam menghadapi cucian piring segunung, penting untuk memiliki kemampuan mendekomposisi masalah. Tujuannya selain agar kita dapat menyelesaikan masalah tersebut, kita juga dapat menuntaskannya secara efektif. Dalam konteks mencuci piring biasanya saya mengklasifikasikan cucian menjadi : cucian sulit, cucian besar, dan cucian gampang. Cucian sulit biasanya yang butuh waktu nge-rendem lebih lama seperti tempatnya magicjar (karena nasi masih nempel), panci atau wajan yang berminyak / bersantan, dll biasanya dipisahkan dulu. Cucian besar biasanya sejenis baskom, panci tapi bekas rebusan air atau sayur non-santan, cucian gampang yaa sejenis piring, sendok, gelas, dan kerabatnya. Hikmah dari ‘mengurai’ cucian piring adalah kita bisa mendapatkan secercah harapan (halah), semangat positif bahwa kita bisa menyelesaikannya. Karena yang bikin cucian menggunung biasanya panci ditaro bawah, diatasnya dikasih wajan, diatasnnya lagi ditambah piring, gelas, dlsb. Padahal kalau diangkat panci dan wajannya, gak menggunung-menggunung banget cuciannya. Ya, karena seringkali akar permasalahan tidak selalu sebesar yang kita takutkan. Gak kebayang bisa nyicil rumah, padahal akar permasalahannya gak tau cara-caranya, udah jiper duluan sama harga rumahnya aja. Susah dan ngerasa gak mungkin bisa QL dan subuh berjamaah kalau gak Ramadhan, padahal pokok masalahnya adalah tidurnya selalu kemaleman diatas jam 11, gimana bisa QL bahkan subuh berjama’ah? Ya, kuncinya pada ketenangan, waktu untuk berpikir, dan kejelian dalam menguraikannya.

3. Keberanian untuk menghadapi bagian tersulit
Dalam menjalani sesuatu pasti ada bagian tersulitnya. Kalau dalam cuci mencuci, saya paling sebel kalau harus merogoh-rogoh kotoran dan bekas makanan yang ada di lubang cucian piring. Wujudnya biasanya sudah tak berbentuk, lembek-lembek geli dan berdenyut (lha?). Apalagi bagian lubang pembuangan bak di rumah saya bukan yang bisa dicopot, jadi literally harus diobok-obok dan dibersihkan dengan tangan! Pekerjaan yang mau ga mau harus dilakukan karena kalau tidak airnya ga bisa keluar ke saluran pembuangan.
Memang tidak ada kata lain selain, bismillah dan …… *rogoh-buang, rogoh-buang*. Jijik? Jelas. Geli? Pasti. Trauma? Bisa jadi. Tapi memang itulah bagian dari perjuangan. Akan ada masanya kita akan bertemu dengan titik itu dalam rentang kehidupan kita. Bisa saja kita lari, tapi kita tidak akan pernah bisa menyelesaikannya. Kayak mata kuliah ngulang aja deh, mungkin kita bisa ga mau ngulang di semester ini karena masih trauma atau gak mau ketemu pak dosennya, tapi kita pasti akan ketemu lagi di semester depannya. Gak diambil lagi, akan ketemu lagi di semester depannya. Sampai kita mengambil dan gently menyelesaikan mata kuliah tersebut dengan baik.

4. Terkadang Butuh Beberapa Kali Usaha Untuk Menyelesaikan
Panci berminyak dan bersantan mustahil bisa bersih dalam sekali bilas (kecuali pakai Sunlig*t, lha malah ngiklan xD). Pasti dalam gosokan pertama gak langsung hilang. Mungkin butuh gosokan kedua, ketiga, keempat, atau kelima baru bisa memudar nodanya. Jadi gak usah ngerasa lebay kalau baru coba sekali kompetisi gak menang mundung, baru pitching satu dua kali ke investor gak dapet investasi udah mundur teratur takut bikin startup. Persistence. Bahasa jawanya istiqamah. Istiqamah pasti berat, karena kalau ringan namanya istirahat.

5. Akan Semakin Mudah Bila Kita Sudah Menjalaninya
Satu dua piring tercuci, dua empat wajan terbilas, pasti meningkatkan adrenalin kita untuk terus melakukannya, untuk semangat menuntaskannya. Begitu memang kebaikan, akan selalu terasa lebih mudah ketika sudah dimulai. Makin mudah lagi kalau sudah setengah jalan. Ngafal Qur’an pasti gak akan pernah kebayang sama orang yang belum konsisten tilawah sehari minimal 5 lembar, pasti bawaannya udah gak mungkin aja. Tapi kalau sudah dimulai insya ALlah akan dimudahkan. Seperti hadist qudsi berikut,
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : Allah Azza wa Jalla berfirman : “Barang siapa berbuat kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan yang semisal dan terkadang Aku tambahkan lagi. Dan barang siapa yang berbuat keburukan, maka balasannya adalah keburukan yang serupa atau Aku mengampuninya. Barangsiapa mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari. Dan barang siapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula””.(Shahih Muslim, hadits no 4852).

6. Kebahagiaan Hakiki : Menuntaskan dengan Baik Apa yang Diamanahkan Kepada Kita
Finally, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada cucian piring yang sudah tersusun rapi di rak piring dalam keadaan bersih. Pasti menyenangkan ketika kita berhasil menyelesaikan sesuatu dan tidak hanya sekadar ‘selesai’ namun juga selesai dengan hasil yang baik bahkan sangat baik. Memunculkan kebaikan untuk diri sendiri dan memberikan dampak kebaikan pula untuk orang lain.

Panjang juga ya postingan tentang cucian piring begini aja. Postingan mah gak usah susah-susah, dulu juga saya pernah nulis tentang mesin cuci yang begitu doang :)) Note to my self, immediate-self improvement.