Masuk UI, Siapa Takut ?

Sekitar dua setengah tahun yang lalu, seorang anak lulusan SMA ternama di sebuah kota memberanikan dirinya pergi ke sebuah kota besar yang sama sekali belum pernah dijamahnya, dimana ia tidak punya kerabat disana. Hanya karena suatu alasan, karena namanya dinyatakan lulus ujian seleksi perguruan tinggi oleh sebuah media massa terkenal di kotanya. Ya, berbekal uang seratus ribu rupiah saja, pemberian ibunya, dan seratus ribu lagi yang diberikan oleh teman-temannya di SMA yang mengantar keberangkatannya, ia pun berangkat menuju ibukota, Jakarta. Entah kenapa, ia punya keyakinan kuat dapat bertahan hidup disana, walaupun ia yakin ia tidak akan pernah mendapat kiriman sepeserpun setiap bulan dari rumah, karena ia hanya seorang anak yatim dan tidak mau membebani ibunya yang sudah renta dan sakit-sakitan. Dengan suatu keyakinan terhadap apa yang pernah didengarnya dari salah seorang seniornya, “UI adalah universitas dengan seleksi  intelektual bukan seleksi finansial..” Dan luarbiasa, dengan kesungguhan itu, ia dapat melenggang ke UI dengan uang semester dan uang pangkal nol rupiah, mendapatkan beasiswa, dan beberapa pekerjaan yang dapat menopang hidupnya hingga sekarang. Sekarang, ia pun kembali berjuang keras bersama rekan-rekan yang memiliki kepedulian yang sama untuk membantu adik-adik mahasiswa baru yang senasib dengan dirinya dahulu.

Itulah salah satu kisah nyata seorang anak yang memiliki tekad untuk mengubah hidupnya, bertaruh untuk mengubah nasib keluarganya. Ya, kisah – kisah seperti ini bukanlah salah satu atau salah dua saja di UI namun banyak ! Mulai dari yang bapaknya petani, tukang jahit, sopir, atau yatim piatu sekalipun. Kisah-kisah ini adalah suatu pembuktian bahwa menuntut ilmu di perguruan tinggi bukanlah mimpi bagi mahasiswa yang tidak berada ! Karena semua hanya berawal dari sebuah tekad dan konsistensi untuk terus berjuang hingga kita mendapatkan apa yang kita cita-citakan.

Untuk menjadi mahasiswa UI, tantangan yang harus dilewati tidak hanya sampai di fase ujian seleksinya saja, suatu saat nanti kalian pasti akan bertemu dengan ujian berikutnya, sebuah makhluk yang bernama BOP-B.

Banyak cerita simpang siur memang akan sistem pembayaran ini, dimana mahasiswa akan selalu membayar 5 juta untuk rumpun sosial dan 7,5 juta untuk rumpun IPA. Dan tidak hanya sampai disitu karena ada bonus hadiah bernama uang pangkal dengan total hingga 25 juta rupiah ! (Uda kayak kuis aja)  Kalau begitu apa bedanya UI dengan universitas swasta yang lain ?

Terlepas  dari segala macam perdebatannya, harus diakui Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan atau BOP-B memiliki niatan yang mulia untuk mencapai keseimbangan anggaran pendidikan dengan kondisi ekonomi di negara kita yang tidak ideal. BOP-B merupakan transformasi dari sebuah sistem yang sering kita dengar, sistem subsidi silang, dimana mahasiswa yang berada memberikan sebagian rezekinya kepada mahasiswa yang membutuhkannya dengan kompensasi jumlah nominal BOP-B yang lebih besar. Nominal ini ditentukan oleh sebuah matriks dengan variabel fakta yang kuantitatif seperti slip gaji orang tua, rekening listrik, bukti pajak, dan sebagainya, yang diharapkan dapat mendekati definisi adil untuk setiap mahasiswa.

Sampai disitu saja ? Tentu saja tidak, karena banyak fakta kualitatif yang harus dipertimbangkan untuk lebih precise dan mantab lagi bahwa inilah nominal yang adil untuk mahasiswa. Oleh karena itu setiap mahasiswa berhak menjelaskan fakta-fakta lain  melalui proses keberatan, diskusi dengan bagian kemahasiswaan, dan sebagainya. Nominal yang dihasilkan matriks dan proses penjelasan data kualitatif menghasilkan sebuah kebijakan yang tepat di mata mahasiswa dan di pihak universitas. Sebuah proses penentuan yang tentunya tidak bisa kita temui di beberapa univeritas ternama lain yang sudah barang tentu harus didukung dan dikawal ketat pelaksanaannya dengan bersama-sama.

Ya, tidak terasa kurang lebih seminggu lagi sejak tulisan ini ditulis, yakni tanggal 29 Januari, adik-adik kita dari PPKB akan mulai merasakan ujian bernama BOPB ini dan tentunya semua yang akan masuk UI baik melalui jalur SIMAK, UMB, maupun SNMPTN. Pada akhirnya, saya ingin mengatakan,

“Jangan takut masuk UI !”

Mengapa ? Satu, karena takut hanya boleh kepada Allah, tidak boleh kepada yang lain. :) Kedua, karena tidak ada yang perlu ditakutkan. Yakinlah, dengan niat yang baik dan usaha yang baik pasti akan menghasilkan hasil yang baik pula !

Untuk teman-teman yang berada, bersiaplah menjadi malaikat penolong bagi calon teman-teman anda nanti, janji akan pahala dan surga-Nya terbentang jelas dihadapan anda dan keluarga. Orang kaya pun bukan berarti tidak berhak mendapatkan biaya yang murah, bila anda sudah masuk UI, kalian akan melihat sendiri betapa berserakannya  yang bernama beasiswa karena begitu banyaknya, maka buktikanlah anda bisa mendapatkannya !

Untuk teman-teman yang kurang berada, siapkanlah tekad anda yang membaja dan menjulang tinggi !  Bersyukurlah dengan keadaan ini karena  ini akan menjadi pembeda antara anda dan teman-teman lainnya. Kalau anak orang kaya, sukses itu mah biasa tapi seorang yang biasa saja, tidak bermodal apa-apa, hanya tekad dan Allah di hatinya, itu baru mantap ! :)

Al Ikhwanul Muslimin berkata, “..bahwa yang memisahkan diri kita dengan kesuksesan adalah keputusasaan.” Maka, janganlah menjadi bagian dari kumpulan orang yang berputus asa dan yakinlah Allah telah mempersiapkan skenario yang paling indah untuk hidup kita..

See U at UI next semester My Brother and Sister! :)


Big Zaman
Fakultas Ilmu Komputer 2007
Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM Fasilkom 2010

Teruntuk: :
adik-adikku yang masih bimbang dan takut untuk masuk UI, tolong sebarkanlah ke adik-adik dan teman-teman kita sebanyak-banyaknya. Demi UI yang lebih baik !

Komentar (6)

Takut Pamer ?! Itu mah Biasa..

“Untuk orasi selanjutnya, kita sambut orasi dari perwakilan Fasilkom, akhina Saipul !” kata Bang Satriyo dari mobil sound ketika aksi untuk Palestina hari Jum’at 8 Januari kemarin.

“Ouwoo…ouwooo.. ouwoo..ouwouwo..”, begitulah massa aksi menyambut seruan dari Bang Satriyo.

Saipul yang kebetulan saat itu menjadi seorang bunker, terpana, dan bingung. “Lah..lah, apa-apaan ini ?” Padahal ia bukan siapa-siapa, bukan ketua BEM, bukan pula Ketua Lembaga apapun, namun.. ia tidak punya pilihan, mikrofon diatas mobil sound telah menunggunya, Bang  Satriyo pun memandangnya seraya meyakinkan semua akan baik-baik saja..

Ya, Saipul pun akhirnya memberanikan dirinya ke mobil sound. Ia mengambil mikrofon, dan berdiri diatas sound bersama orang-orang yang telah berorasi sebelumnya dari KAMMI, LPIA, Al Hikmah.

Saipul terhenyak sebentar. Ia memandangi massa aksi yang berkerumun di sekitarnya. Kecil sekali, sedangkan ia merasa yang paling besar. Ya, seketika ia mengingat masa mudanya, ketika SMP lebih tepatnya, ia merasakan atmosfer yang serupa. Namun bedanya saat itu ia berada diatas panggung dengan sebuah gitar listrik melodi melingkar di pundaknya dan mikrofon di depan wajahnya. Perasaan itu kembali muncul, rasa pamer, rasa ingin terlihat hebat di depan banyak orang, perasaan ingin memukau semua orang disana dengan kemampuannya. .

Ya, sama persis. Itulah perasaan yang muncul dihatinya ketika berada di mobil sound. Kakinya mulai bergetar, jantungnya berdegup kencang karena saking gugupnya dan takut tidak dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

“Astaghfirullah..apa bedanya saya dengan anak SMP ?“, kata Saipul dalam hati. Sambil terus beristighfar dan berusaha menenangkan dirinya, dan bismillah…

“Assalamu’alaykum Warahamatullahi Wabarakatuh !” pekik Saipul, dan dilanjut dengan teriakan yang heroik, “TAKBIIIIR…!!”

“Allaaahu akbaaaar !!” teriakan massa aksi yang sangat luar biasa. Mengingatkan Saipul bahwasanya kebesaran hanyalah milik Allah, kesombongan dan rasa pamer cuma pantas dilakukan oleh Allah, ya..buat apa dia pusing memikirkan hal itu ?

Dan cihui, si Saipul pun mulai tenang seperti biasanya.

“Ikhwah sekalian, apakah kalian lelah ? Apakah kalian menggigil berkat hujan yang membasahi kita ?”

“TIDAAAK !”, jawab massa aksi.

“Ah..yang bener ? Yakiiin ? Jujur sajalah…saya juga capek, saya juga dingin.”, ujar Saipul. Dan massa aksi pun bingung !

“Ya, namun inilah sedikit bentuk pengorbanan yang bisa kita lakukan untuk meneladani Rasulullah..Ya, karena sesungguhnya Rasulullah telah memberi contoh bentuk idiom cinta yang luar biasa kepada kita..”

“Di akhir hayatnya, Rasulullah sama sekali tidak bergeming ketika Malaikat Jibril berkata kepadanya bahwasanya semua malaikat di ‘Arsy telah bersiap menyambut kedatangan ruh paling agung se-jagat raya. Taukah ikhwah apa yang ditanyakan Rasulullah ?”

“Beliau hanya bertanya, ‘Bagaimana nasib umatku kelak Jibril..’ hingga di penghujung hayatnya beliau terus berteriak, ‘Ummati…ummati…ummati..’, suatu bentuk kecintaan yang luarbiasa dari beliau terhadap sebuah umatnya, yang patut kita teladani dalam menyikapi permasalahan Bangsa Palestina..”

“Bila Umar bib Khattab berjihad dengan pedangnya, bila Abdurrahman bin ‘Auf berjihad dengan hartanya, maka jangan sedikitpun ragu ikhwah, kita disini berjuang dengan orasi-orasi kita, berjihad dengan tegapnya kita berdiri disini, dengan kesetiaan kita untuk terus memperjuangkan hak-hak saudara kita di Palestina..ALLAHU AKBAR !”, ujar Saipul.

“ALLAHU AKBAAAAR !!”

Begitulah, beberapa taujih  yang dibaca Saipul di pagi hari tadi, dan diskusi dengan salah seorang saudaranya, setidaknya  membuatnya dapat menyampaikan sesuatu.

Ya, walaupun perasaan itu masih ada namun ia telah berhasil menekannya sebisa mungkin. Ia jadi teringat sebuah nasihat yang pernah didengar dari seorang ustadz dimana beliau ada muttarobbi (baca:murid binaan) dari Alm.  Ustadz Rahmat Abdullah.

Suatu ketika  muttarobbi ustadz tersebut mendatanginya, muttarobbi tersebut adalah seorang yang dikenal sebagai pembicara handal, trainer yang memotivasi, dan penuh percaya diri. Namun ketika itu si muttarobbi berkata, “Ustadz, saya tidak ingin menjadi pembicara atau trainer lagi..”

“Kenapa antum berbicara seperti itu ?”, Tanya si ustadz. “Saya tidak bisa menahan perasaan ingin pamer saya ustadz, saya takut tidak ikhlas dalam menyampaikan setiap materi dan taujih saya ustadz..”

Dan si ustadz pun tersenyum. Si muttarobbi tersebut pun kebingungan.

“Antum kira saya tidak seperti itu ? Dulu ketika saya sedang liqo bersama Ustadz Rahmat Abdullah, saya juga menanyakan hal yang serupa dan tahukah apa kata beliau ? ‘Ente kira ane gak kayak gitu ? Sama aja kali !’  Ya,Ternyata ustadz sekaliber beliau pun juga merasakan hal yang sama !”

“Intinya akhi, itu adalah hal yang lumrah, sah-sah saja bila dirasakan siapapun, itu manusiawi. Yang patut kita garis bawahi bahwasanya jangan sampai kita malah terhenti di titik ini, kita memilih untuk berdiam diri hanya karena perasaan ini sehingga mengorbankan dakwah kita, mengorbankan kebaikan-kebaikan yang dapat bisa antum munculkan ketika antum berbicara..

Alhamdulillah..Dan Saipul pun lebih yakin lagi untuk melanjutkan orasinya hingga selesai.

Ya, sebuah kisah dari Saipul lagi tentang pamer dan semua perasaan itu, namun jangan sampai mematahkan niatan kita untuk berbuat baik, iye gak Cing ? :)

Komentar (19)

Amanah

Ternyata benar kata seseorang, bahwa amanah itu seperti hukum kekekalan energi.

Amanah tidak bisa diciptakan karena memang sejatinya kita selalu punya amanah. Dari kita SD kita punya amanah untuk jadi anak yang baik, berprestasi di kelas, dapat membanggakan di sekolah, SMP, SMA, hingga kuliah sekarang pasti kita punya amanah masing-masing, di ranah kita masing-masing..

Amanah juga tidak bisa dimusnahkan, karena ia akan selalu ada.

Amanah hanya akan berubah bentuk, dari satu bentuk ke bentuk yang lain, seperti halnya kita, ketika menjalani sebuah amanah, habis satu periode kepengurusan akan datang lagi amanah selanjut.

Amanah pun bersifat entropi, dimana selalu memiliki kecenderungan untuk membesar. Ya, terkadang kita telah merasa cukup memberikan performa yang luar biasa terhadap suatu amanah, namun tunggulah hingga saat dimana sebuah kisah kita yang cukup heroik akan disambung lagi dengan amanah-amanah tragis lainnya..

Hayo2, uda pergantian semester pergantian periode, pada mau aktif dimana ? Yang uda pada mulai dilamar-lamar, atau malah yang
ngelamar-ngelamar orang ? Aseek.. :D

Ya, saya harap dimanapun kita berada, yakinlah selalu ada ladang amal yang bisa kita persembahkan, sebuah amalan kongkret kita untuk mensyukuri setiap nikmat-Nya..Cihui ! :)

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

Ternyata benar kata seseorang, bahwa amanah itu seperti hukum
kekekalan energi.

Amanah tidak bisa diciptakan karena memang sejatinya kita
selalu punya amanah. Dari kita SD kita punya amanah untuk jadi anak yang baik,
berprestasi di kelas, dapat membanggakan di sekolah, hingga kuliah sekarang
pasti kita punya amanah masing-masing, di ranah kita masing-masing..

Amanah juga tidak bisa dimusnahkan, karena ia akan selalu
ada.

Amanah hanya akan berubah bentuk, dari satu bentuk ke bentuk
yang lain, seperti halnya kita, ketika menjalani sebuah amanah, habis satu
periode kepengurusan akan datang lagi amanah selanjut.

Amanah pun bersifat entropi, dimana selalu memiliki
kecenderungan untuk membesar. Ya, terkadang kita telah merasa cukup memberikan
performa yang luar biasa terhadap suatu amanah, namun tunggulah hingga saat
dimana sebuah kisah kita yang cukup heroik akan disambung lagi dengan
amanah-amanah tragis lainnya..

Hayo2, uda pergantian semester pergantian periode, pada mau
aktif dimana ? Yang uda pada mulai dilamar-lamar, atau malah yang
ngelamar-ngelamar orang ? Aseek.. :D

Ya, saya harap dimanapun kita berada, yakinlah selalu ada ladang
amal yang bisa kita persembahkan, sebuah amalah kongkret kita untuk mensyukuri
setiap nikmat-Nya..

Komentar (10)

Takjub dengan Mesin Cuci !

Baru-baru ini saya baru ada ada sebuah teknologi yang sangat luarbiasa yang pernah diciptakan di dunia. Ya, itu adalah MESIN CUCI !

Kegiatan mencuci memang salah satu cobaan terberat dalam kehidupan para aktivis termasuk saya orang yang suka sok sibuk. Namun apa mau dikata,apalagi saya termasuk orang yang agak jual mahal gak mau nge-laundry walaupun ada duit. Pertama dan insya Allah terakhir kalinya saya nge-laundry itu pas di asrama, dimana uda putus asa dengan baju gak ada satu bijipun yang bersih. Dan taukah perasaan saya setelah me-laundry ? Ya, punya perasaan bersalah yang luar biasa ! Dan saya tidak mau mengulanginya.

Awalnya tentang mesin cuci, saya agak underestimate sama ni mesin, mana bisa mesin yang cuma bisa muter-muter doang bisa bersihin baju ? Masih kalah jauh lah dengan jurus ‘Kucekan Maut’ saya, dimana ditangan saya semua noda dan kotoran pasti hilang seketika ! Cling ! :)

Namun, Selasa kemarin saya baru merasakan mencuci pake mesin cuci. Biasanya ya..biasalah, menggunakan teknik ‘mengucek’ seperti biasa, namun berkat masuk PPSDMS saya akhirnya dapat menggunakannya. Yeah ! :)

Pertama kali menggunakan mesin cuci, saya langsung meng-interview 3 orang di PPSDMS, ada Kak Tb, Kadep Sosma BEM UI, Kak Faiz Kadep Hubansa SALAM UI, dan Giri Ketua FSI FE UI. Gak tanggung-tanggungkan yang ditanyain ? Orang-orang hebat semua, anak PPSDMS.. :)

Setelah mendapat ilmu yang cukup berangkatlah saya ke medan mesin cuci dengan kepercayaan diri penuh.

Mulailah saya mengisi mesin cuci dengan air. Saya ingat betul kata Giri,

“Isi mesin cucinya dengan air hingga setengah penuh, itu dulu, nanti tanya lagi.”

Detik demi detik pun berlalu, menit per menit pun ku jalani dan.. mesin cucinya gak keisi-isi !

Saya yakin teman-teman sudah pada tau kenapa itu terjadi, ya, karena tombol siklus airnya masih drain, sayangnya saya gak ngerti dan sukseslah saya mendapat diketawain banyak orang.

Tak apa, namanya juga belajar, iye gak Cing ? :)

Tapi saya tidak bisa memungkiri, mesin ini benar-benar menakjubkan ! Bayangkan, hanya lima menit, baju saya diputer-puter tapi waktu diangkat, masya Allah..BERSIH ! Kalah ternyata kucekan yangs selama ini saya bangga-bangga kan..

Lebih menakjubkan lagi yang bernama mesin pengering !

Bayangkan teman-teman, baju cuma ditaro didalam situ selama dua sampe tiga menit langsung kering ! Gak pake dijemur ternyata baju bisa kering..Subhanallah..

Subhanallah…Subhanallah…bagi yang menilai ini lebay, silahkan, namun saya hanya ingin bersyukur pada Allah, benar-benar ada mesin yang sangat menakjubkan bernama mesin cuci ini, memudahkan para aktivis. Saya benar-benar bahagia ! :mrgreen:

Omong-omong tentang bahagia, saya juga ingin mengucapkan selamat buat Kak Meri yang sudah hamil, padahal nikahnya baru dua bulan ya lalu ! Dasar bikin iri aja.

Sepertinya rezeki saya masih mesin cuci dulu, ntar awas aja ya Mbak Mer, nanti saya salip sampe saya uda ada yang nyuciin. :D

Komentar (21)

Ketika Jari Mulai Mengetik (lagi)

Sekitar jam 8 malam, handphone kesayangan saya bergetar, nomornya tidak saya kenal. Bismillah diangkat saja.

“Assalamu’alaykum..”

“Wa’alaykumsalam..”, ujar seseorang diseberang sana.

Suaranya cewek, pasti mbak saya, tidak ada wanita yang suka menelpon saya malam-malam kecuali ibu atau mbak saya.

“Iya, ada apa mbak ?”

“Kok mbak sih ? Eh, Asih minta alamat blog kamu ya, tolong disms ke nomer Asih.”

Asih ? Bentar sepertinya saya mengenal nama itu..Oh iya, saya teringat sebuah nama, seorang teman satu angkatan waktu pelatihan relawan di UI. Tapi dalam rangka apa minta-minta alamat blog ? Semakin aneh saja dunia ini.

“Asih kemaren dapet rekomendasi buat baca blog kamu dari seseorang..” ujarnya

Gubrak ! Entah, semakin tidak logis saja di kepala saya, saya pun hanya bisa istighfar.. Kenapa istighfar ? Ya..karena bingung dan cuma  kepikiran istighfar aja saat itu. Dan tahukah, saya baru sadar kalo saya punya blog !

Masya Allah..uda berapa tahun ya saya gak ngisi beginian lagi ? Aneh, sangat aneh. Padahal sekarang sudah ada laptop, bahkan sejak di PPSDMS udah ada internet juga, tapi malah lupa ma hobi sendiri..

Dan ternyata memulai sesuatu yang sudah lama tidak dilakukan itu tidak mudah ! Beberapa menit setelah membuka laptop, laptop saya terus menunggu untuk “disentuh-sentuh” kembali.  Bingung apa yang mau ditulis..Ternyata cara menghilangkannya gampang ! Berikut tips untuk memulai ngeblog lagi.

  1. Mulai dulu dengan “Bismillah..”
  2. Lebih cakep lagi kalo ditambahin “Roditubillahi robba wabil islamidina, wa bi muhammadinnabiyyawwarosula..Robbi zidni ilma warzuqni fahma.” Jangan salah, ini termasuk belajar lho ! Belajar mengembangkan pikiran, belajar menyampaikan pendapat, belajar ngelawak juga. :)
  3. Buka Microsoft Word-nya, Open Office juga boleh :)
  4. Mikir apa yang mau ditulis, dari pengalaman kek, atau tiba-tiba ide yang muncul sekelebat, tulis ajah..
  5. Diketik apa yang uda dipikirin..
  6. Selesai.. :D

Ada yang gak ngerti ? Ya, ini namanya terapi berpikir positif ! Ilmunya dapet dari Fajar nih..Dan langsung deh sejak tips tersebut dipraktekkan, si laptop saya senyum-senyum kegelian karena saya pencet-pencet mulu. :P

Pada teman-temanku, Jay, Fajar, Ade, Yasmin, Puspa, semua-muanya yang uda mulai males nulis, janjian nulis lagi yuk ! :)

Komentar (12)

Kejadian Mantap Akhir-Akhir ini !

Setelah hampir dua bulan sok sibuk sehingga tidak menyapa teman-teman lagi, banyak banget cerita yang pengen dibagi. Banyak hal yang lagi-lagi bikin saya senyum-senyum sendiri -gak cuma karena benda-benda ini – dan serunya lagi ada yang bikin saya meneteskan air mata ! yeah ! Kalau tertarik, silahkan tetap stay tuned di postingan yang sama ! :)

1. Akhirnya sudah punya laptop baru !

477-422-hp compaq 510 [800x600]

Ya, sampai sekarang saya masih suka gak percaya kok bisa makhluk ini muncul di kamar saya. Padahal hasil ngajar tiap bulan cuma berapa dan selalu habis buat makan dan ngasih makan istri saya yang namanya D***** (amin!).

Siapa lagi nih kalau bukan kerjaannya Allah ? Semakin yakin atas kekuatan Nya yang luar biasa..

Namanya..mmm..karena item pol enaknya dinamain apa ya ? ‘Blacky’ uda jadi hak paten panggilan motor Grand ‘92 hitam kesayangan saya. Kalau ‘BlackBlack’ uda jadi hak milik kompie si Puspa.

Item..biar disayang banyak orang..Oiya, namanya sudah ditemukan ! Insya Allah namanya “Hajar Aswad” ! Yeah ! Oke Jar ?!? Ya, insya Allah kita akan menjadi sparring partner yang mantap sampe “sparring partner” yang beneran dateng. :D

2.Pengalaman bolos kuliah sekaligus gak ngumpulin tugas dan bolos kuis !

Untuk pertama kalinya saya bolos kuliah dengan alasan ada kepanitiaan. Kalau buat aksi sih uda lumayan sering tapi ini karena kepanitiaan, dahsyatnya lagi pas lagi ada deadline tugas dan ada kuis !

Siang itu ada acara Grand Launching Pemilihan Raya (PEMIRA) UI, ya semacam Pemilu-nya UI. Sebenarnya uda diukur-ukur gak bakal bolos karena acaranya di-design dari jam 13.00 sampai jam 15.30. Eh, ternyata baru dimulai sekitar jam 13.40 karena perwakilan dari rektorat baru bisa datang jam segitu. Walhasil, gak sempetlah ikut kuliah.

Selesai acara, evaluasi, saya baru sholat asar. Saya menangis. Entah kenapa, saya bingung.

Apakah ini yang namanya pengorbanan ? Pengorbanan yang harus mengorbankan amanah orang tua ?

Ini memang bukan sekedar kepanitiaan, ini adalah perjuangan, ini adalah amanah dari Allah.. Tidak, tapi saya masih bisa ikhtiar. Ikhtiar minta kuis susulan. Ya, usaha dulu, insya Allah semua ini adalah yang terbaik dari Allah. Dan besoknya tau gak apa yang terjadi setelah saya ketemu si ibu dosen ? Ya, dengan ajaibnya tugas susulan saya diterima dan beliau bilang akan ada kuis susulan! Padahal seumur-umur kuliah di Fasilkom gak ada ceritanya ada kuis susulan. Ya, walau dikurangi lima persen tapi tetep saja ini sangat keren ! Lagi hanya bisa mengucapkan syukur tiada tara kepadanya.. :)

3.Cerita mentee yang kocak !

Seperti biasa bada Jum’at saya mengisi sebuah mentoring kecil. Alhamdulillah, dari empat orang, tiga orang hadir dan satu orang izin sudah ada janji main futsal.

Kali ini saya mengangkat tema tentang komitmen dalam beragama dan kebetulan tadi disinggung-singgung sama Pak Khotib. hehe, jadilah saya lempar pertanyaan begini. “Hmm..bagaimana menurut kalian tentang cewek yang baik banget, rajin sholatnya, tapi dia gak berjilbab ? Argumen dia sih katanya mendingan dia daripada berjilbab tapi begajulan kagak sholat, kagak ngaji, suka nyontek..Nah lo, gimana ?”

Satu orang bilang, “Gak setuju kak, karena berjilbab adalah perintah Allah !” Dalam hati saya, “Bagus-bagus, gak percuma ngaji setengah tahun sama saya..” hehe.

Satu lagi lebih mantap, “Kak, kita kalau menganut agama Islam harus kafaah atau menyeluruh ! Jadi tidak bisa dibenarkan alasan seperti itu, rajin sholat iya, baek iya, tapi jilbab juga iya !” Dalam hati pun saya menimpali, “Ini baru mentee gue..” :)

Tapi perhatikan jawaban mentee saya yang satu ini ! “Kalau saya sih kak gak setuju dengan cewek yang tidak berjilbab.. karena…karenaaaa saya SUKA CEWEK YANG BERJILBAB.”

Gubrak ! Bukan karena apa-apa, hanya karena dia suka cewek yang berjilbab. Kontan semua peserta mentoring tidak terkecuali mentornya terkekeh sampai mules. Subhanallah..terimakasih ya Allah telah mempertemukan saya dengan mentoring unik seperti ini ! Makanya buat yang belum punya binaan apalagi yang belum mentoring mah, gak gaul ! :P

Ya, semoga bermanfaat dan bisa memacu semangat buat ngeblog lagi ! Yeah ! :)

Komentar (16)

Hati-hati dengan Prasangka..

Capek cerita Saipul, cerita diri sendiri aja ya..

Kemarin, selesai saya ikut Kajian Belajar Bahasa Arab gratisan di masjid dekat rumah Fajar, saya pun bergegas pergi ke tempat parkir motor. Buat ngambil apa hayo ? Buat ngambil gentong. Ya nggak lah ! Ngambil motor atuh.. :D

Seperti biasa pasti ada acara bayar duit parkir. Ngerogoh saku di jaket muncul uang dua puluh ribuan, sepuluh ribuan, ma lima ribuan. Pikir saya, kalau pake uang dua puluh, takut orangnya gak ada kembalian. Akhirnya entah kenapa akhirnya saya milih uang sepuluh ribu, kalau gak salah inget sih pengen mecah uang gitu buat beli makan abis itu.

Sesampai di depan Pak Parkir, saya ngasih uang sepuluh ribu itu. “Ada kembalinya gak Pak kira-kira ?”

Bapak itu diam saja, dengan tangan sedang sibuk ngerogoh saku-sakunya. Melihat beliau agak kesulitan, saya langsung mengambil uang limaribuan saya. “Yaudah Pak, ini saya ada lima ribuan biar lebih gampang..” Si Bapak pun dengan ekspresi yang sama menukar uang sepuluh ribuan tadi dengan lima ribuan saya.

Eh, iseng-iseng tangan masuk ke saku, ketemu uang seribu ternyata. Langsung aja tanpa banyak cincong saya kasih ke si Bapak. “Oh maaf pak, ternyata ada seribuannya.”

Tak disangka tak dinyana si Bapak langsung nyemprot saya. “Dasar lo, lo mau coba-coba pake uang gedhe supaya gak ada kembalinya gitu ? SUPAYA GRATIS GITU ?!?” Dengan nada cukup tinggi. Sayapun terdiam, kaget. Si Bapak lalu ngacir dengan ngomel-ngomel.

Astaghfirullah.. Saya berusaha nahan emosi sambil terus beristighfar. Saya pun berusaha merunut kembali setiap niatan saya, apakah benar tuduhan Bapak tadi. Jantung saya berdegup kencang, niatan itu memang sempat muncul sekelebat diawal namun saya yakin disaat terakhir saya yakin sama sekali tidak ada niatan itu. Ampuni hambamu ini ya Allah bila hati ini lancang akan kuasa-Mu..

Mungkin hikmah yang dapat diambil, ternyata dapat prasangka buruk itu gak enak. Banget. Saya gak bayangin artis-artis di tipi yang uda bukan cuma prasangka lagi, gosip, bahkan fitnah pun sudah banyak mereka jabanin. Entah bagaimana perasaan mereka. Mengerikan pasti.

Omong-omong prasangka buruk, saya jadi inget kondisi di UI sekarang yang sudah cukup gawat. Hubungan rektorat dan teman-teman lembaga sudah sangat tidak akur. Diluar semua yang dilakukan rektorat, saya masih sangat yakin bahwasanya Bapak Ibu kita disana bukanlah seperti Mischa, tokoh paling antagonis dalam sinetron Cinta Fitri –ups, ketauan ! :) –  Terakhir ngelihat status Bu Kasiyah, dosen Fasilkom yang merangkap sebagai Mahalum UI di facebook.

“Fasilkom tempatku yang sesungguhnya, tunggulah aku akan kembali sepenuhnya. Aku rindu dengan sangka baik,ketulusan, sapaan mesra, dan segelas teh manis yang panasnya pas dan manisnya juga pas.(on Friday)

Lembut sekali perasaan beliau. Terharu. Saya yakin mereka sebenarnya punya itikad yang baik untuk mahasiswa, UI kedepan. Sering kali saya berfikir, kita di lembaga kemahasiswaan sering punya prasangka buruk walaupun juga memiliki tujuan yang sama baiknya.

Sangka baik, i’tikad baik. Andai itu dapat dilakukan semua orang di dunia ini, benar kata Pak Heru, dosen saya, pasti kejadian bom di JW Marriot atau Ritz Carlton tidak akan terjadi. Wallahu a’lam.

Komentar (15)

Pemimpin itu..

Lagi-lagi pengen cerita tentang Saipul, seorang mahasiswa Fasilkom yang masih belum dapat diidentifikasi asal usulnya -ikut-ikutan mbak Asri-, yang pasti gak ada hubungan darah dengan Om Noordin M Top. :)

Entah kenapa akhir-akhir ini Saipul sering gundah. Ia sering terganggu dengan beberapa perkataan temannya, “Denger-denger ente bakal nyalon jadi Ketua BEM Fasilkom ya Pul ?” Bukan hanya satu orang, tapi cukup banyak. Waktu ia pulang kampung pun, ia bertemu dengan temannya yang baru saja dapat amanah jadi ketua BEM. “Ntar kamu di UI juga, saya tunggu.”

Dan muncul chatting room di ruang otak Saipul.

“Emang gitu ya, kita harus jadi pemimpin ?” “Eh..bentar-bentar, bukannya kata Rasulullah kita tu gak boleh minta jabatan bukannya berarti kita kagak boleh ngarep ma yang namanya jabatan ya?” “Tapi..tapi..”

Beruntunglah sebelum Saipul mulai gila, dia ikut suatu kajian kemarin, yang ngisi Ustadz Anis Matta, anggota DPR yang merangkap juga jadi Sekjen Partai PPKA (Partai Pojok Kanan Atas) –red:nama partai sengaja disamarkan, karena sama sekali tidak ada tendensi politik disini-

Pada saat itu muncul pertanyaan yang mirip-mirip dengan hal yang dipikirkan Saipul. Pak Anis Matta pun terhenyak sejenak. Akhirnya beliau angkat bicara, kurang lebih seperti ini.

“Ikhwah(red:saudara), ada satu buah doktrin kepemimpinanan yang saya fahami. Terserah antum mau sepakat atau tidak. Kepemimpinan adalah kapasitas yang bertemu dengan peluang. Tidak lebih. Seorang yang berkapasitas ditemukan Allah dengan peluang itu, yang sering kita terjemahkan mendapat amanah untuk memanggul tugas itu.”

“Sesungguhnya, tugas kita sebagai seorang muslim hanyalah untuk terus meningkatkan kapasitas kita. Kapasitas ibadah kita, kapasitas keilmuan kita, untuk menjadi pemimpin, bila antum memang ditakdir kan untuk itu, niscaya peluang itu tidak akan lari kemana-mana. Bukan tugas kita untuk meminta termasuk mengharapkannya juga, namun bila kita diamanahkan maka laksanakanlah se-sempurna mungkin !”

“Adalah hal yang wajar bila kita menginginkan jabatan, kekuasaan tertentu, karena memang itu keniscayaan kita sebagai manusia. Namun bila kita berfikir kembali, untuk apa sih kita mau repot-repot, bersusah-susah jika kita bisa hidup lebih damai dan bahagia tanpa amanah itu ?”

“Saya sering bercanda dengan saudara-saudara saya di DPR, yang gara-gara kasus KPU salah hitung menyebabkan jumlah kursi mereka pun jadi simpang siur sehingga ada yang kebingungan bahkan cenderung resah akan hal itu. Dan saya pun berkata, ‘Ikhwah, kalem aja mah..Sebenernya list anggota DPR untuk tahun 2009-2014 itu sudah tertulis di kitab Lauful Mahfudz sejak ribuan tahun yang lalu, jadi antum gak perlu khawatir dan ribut karena emang sudah ditentukan ma Allah dari dulu..’”

Hati Saipul pun jadi adem..Ternyata emang yang dipikirkan selama ini sebenarnya tidak patut untuk difikirkan. Tugasnya, hanya untuk terus berkembang, meningkatkan kapasitasnya lagi.. Fasilkom mah uda berat kuliahnya ngapain mikir kemana-mana, emang tak gendong ? :D

Dan semua lamunannya pun terbuyar namun muncul seuntai kalimat lagi dari otaknya,

“Andai semua pemimpin di Indonesia seperti itu..Amin ya Allah..”

NB: Insya Allah semua sudah cukup dewasa untuk mengartikan tulisan diatas, bila ada unsur kesamaan tokoh, tempat, kejadian, apalagi partai tertentu, insya Allah semua dituliskan dengan niat agar semua yang membaca dapat mengambil manfaat..

Komentar (8)

Ngeributin anggapan orang ?! Cape deh..

“Jadi siapakah yang memindahkan singgasana Nabi Sulaiman tidak lebih dari sekedipan mata, dewan juri ?” tanya MC lomba cerdas tangkas agama Islam di asrama suatu perguruan tinggi ternama di Depok.

“Ya, jawabannya belum ada yang tepat, yang benar adalah orang yang berilmu.” Begitu kurang lebih jawaban Saipul ketika menjadi dewan juri di acara tersebut.

Ternyata, salah seorang peserta ikhwan tidak terima.

“Maaf kakak dewan juri, kalau jawaban seperti itu kami tidak dapat menerima. Kami butuh namanya, karena saya pernah membaca pada tafsir lalala disebutkan lalala…”, jawaban salah seorang peserta ikhwan dengan lantang. Jantung Saipul saat itu berdegup dan kembali melihat pada kunci jawaban yang diberikan panitia dan jawabannya memang itu, hanya orang yang berilmu. Titik.

Itu hanya satu dari sekian banyak pertanyaan yang sempat membuat Saipul dan seorang juri lainnya hanya bisa mengangkat alis alias kebingungan. Ya, mau bagaimana lagi yang ditanya sama sekali tidak lebih tahu dari yang bertanya. Saipul merasa malu, karena dengan kapasitas ia sebagai juri seharusnya ia bisa memberikan penjelasan, tapi ya apa mau dikata ia memang tidak tahu, dari pada mati gaya karena sotoy, ia memilih diam. Seketika ia merasa harga dirinya jatuh, image seorang ikhwan yang selama ini melekat pada dirinya serasa runtuh seketika. Ia takut pandangan orang tentang dirinya jadi turun..

Beruntung ia segera sadar. Ia ingat pernah membaca suatu tausiyah singkat Aa’ Gym dari sebuah blog,

ANGGAPAN ORANG LAIN ITU SAMA SEKALI TIDAK MENAMBAH MAUPUN MENGURANGI KEMULIAAN KITA

Kalo orang nganggep kita alim, emang kita tambah alim gitu ? belum tentu juga amalan kita diterima..

Kalo orang nganggep kita pinter, emang kepinteran kita nambah yak ?

Pun kalo kita dianggep bodoh, IQ kite tetep segitu-gitu aja kan kagak berkurang ?

Kalo kita dianggep kaya, miskin, ganteng, bodong, mantap, apapun lah ya..kagak ada ngaruh-ngaruhnya kan ma kite ?

Cihui ! Dan akhirnya dia lebih tenang dan melanjutkan tugasnya kembali. Setidaknya untuk beberapa hal yang memang dia benar-benar tidak tahu dia dengan lantang menjawab, “Tidak tahu namun dalam kunci jawaban dari panitia…” Dia sudah tidak malu lagi mengungkapkan hal itu karena dia yakin anggapan Allah terhadap dia pas dihisab jauh lebih pantes dipikirin daripada cuma kelihatan sok ganteng atau sok alim bentar doang..

Alhamdulillah…Saipul pun sadar. Lalu kamu Big ? :D

Komentar (17)

Just remember what your simply favourite things !

Terlalu banyak alasan yang bisa membuat kita bersedih, bête, nangis sampai berguling-guling, iya gak sih ? Termasuk saya. Tapi ternyata juga banyak lho hal yang bias membuat kita tersenyum, ya, setidaknya saat kita sedang ngerasa tidak begitu baiik, itu sangat membantu ! :)

Ya, kapan hari saya nemu postingan salah satu senior mantap di UI, Mbak Heggy. Beliau anak Psikologi. Satu tips praktis kata beliau, Just remember what your simply favourite things ! Langsung saya berfikir, apa yang bisa membuat saya bergairah, senyum-senyum sendiri, jadi lincah gak karuan ?

Hmm..saya suka bubur ayam, walaupun saya ga demen karena uda tau rasanya begitu-begitu aja tapi masih suka beli –bukannya itu yang namanya demen ya ? :) – , suka liat Jupiter-nya Topan apalagi kalo lagi jejer ma Mio-nya Maya (piss..pan no offense, tapi ane bener2 seneng ngeliatnya, lucu ! :) ) , komputer lab dan belom ada yang login, lontong balap Peneleh yang pedes, seperangkat alat syuro siap pakai, jaket dua delapannya Apid, keluarga ikhwah yang lagi jalan-jalan ma anaknya yang minta ditampol, laptop sejuta umat dengan password mataharipagi, karcis kereta ekonomi dengan jatah tempat duduk, jaket forkat, gazebo asrama, kornet dan selada yang ‘dikempit’ roti tawar yang dulu jadi kado ulang tahun saya kelas 4 SD pas pengen banget burger, denger arif atau rully tilawah,  sekretariat OSIS Smala (minus ruangan MPK yang berhantu), Uswah, slayer PERISAI, bola voli, sekre, orang jual mainan bocah, blog saya(lho!), hijau, tas butut hitam kesayangan, dan tidur di kelas. (ups!)

Yah, maaf bila banyak ‘bahasa lokal’  disana yang banyak tidak difahami, itu contohnya kalau saya yang membuat list barang fave kita. Setidaknya, when I feeling sad, I simply remember my fave things. And then I don’t feel so bad. :)

Selamat mencoba ! :mrgreen:

Komentar (12)

Tulisan yang Lebih Tua »