Rezeki…Semua Sudah Ditakar


screen-shot-2017-01-31-at-12-22-31-am

Sebuah gambar sederhana yang di-pos oleh salah seorang sahabat menjelang hari ini berganti, di San Fransisco sana, berarti banyak. Banyak sekali bagi saya.

Ada Pixel (semacam device ajib gitu dari Google) dan beberapa yang pernak-pernik lain dari agenda Google Launchpad yang dihadiri oleh beliau saat ini disana. Mengingatkan saya akan konsep rezeki yang begitu mudah Allah berikan kepada siapa yang dipilih-Nya, dan begitu mudah pula untuk ditahan kepada siapapun yang diinginkan-Nya. Kok bisa ngarahnya kesitu?

Yap, saya pernah panjang lebar bahas tentang sahabat yang satu ini disini. Kalau tulisan ini boleh dilanjutkan, mungkin bisa kayak film “Cinta Fitri” yang sekarang episodenya sudah…sudah….udah berapa ya? Mungkin ratusan. Lebih.

***

Banyak sekali momen dimana saya berada dalam kondisi yang sama dengan beliau, tapi rezekinya beda.

Masih cukup segar di ingatan saya di awal tahun lalu pernah dapat “harapan” untuk bisa berangkat ke Silicon Valley, US bersama beliau dalam rangka program Acceleration 500 Startup disana. Sudah urus paspor (yeah, baru pertama kali lho bikin paspor), udah donlot aplikasi dan belajar sana-sini ningkatin skill bahasa Inggris, persiapan ngurus VISA, de el el, udah ngebayangin gimana tinggal di LN pertama kalinya, ngecek-ngecek Google Maps jarak dari SF ke Bayyinah Institute (tempat mangkalnya Ustadz Nouman Ali Khan untuk kemungkinan ikut kajian disana), namun ternyata sodara-sodara….gak jadi berangkat karena satu dan lain hal 😀 Yap, akhirnya beliau dan salah seorang rekan lain yang berangkat :”)

Satu lagi yang agak “dalem” sekitar 3 tahun lalu, ketika ada project bareng sama beliau dengan seorang klien berkaitan dengan aplikasi manasik haji. Ceritanya dulu PM (Project Manager) pertamanya beliau, setelah disusun sedemikian rupa timeline project-nya dan yang cukup membahagiakan adalah diselipkannya agenda “Testing Live di Saudi”! Wow, seriusan ini bisa berangkat umroh dong dan tentu saja GRATIS karena dibayarin klien?

Jadilah sahabat saya ini dapet rezeki umroh gratis… #aselimupeeeng

Yaa, walaupun ceritanya testing aplikasi, pan tetep ke Mekkah gitu, bisa nongkrong di Masjidil Harom, bisa selonjoran di Masjid Nabawi..Ya Allaaah…

Singkat cerita, tiba-tiba amanah project ini dilimpahkan ke saya.

DEG! Batin saya, berarti next saya juga dapet rezeki ke Baitullah dong…Allaaah T.T

Fiuuh, langsung kerjain project-nya penuh semangat, ba bi bu tujuannya satu…biar bisa cepet-cepet testing di Mekkah…Tiba kemudian hari-hari mendekati masa testing, didaftarkan di sebuah biro umroh yang cukup terkenal, Arminar*ka. Udah dibayarin DP-nya, udah dapet kartu umroh-nya, udah dikasih baju koko persiapan disana dan segalanya..Udah kebayang2 banget itu sampe grogi gimana rasanya ke Baitullah..

Namun, qodarulloooh…project-nya somehow di-terminated. Yak, dan ending-nya bisa ditebak..gak jadi berangkat :”””)

***

Refleksi ini ditulis bukan dalam rangka curhat (insya Allah), tapi sekedar menampar lagi untuk saya pribadi bahwa,

“Rezeki itu sudah ditakar, pasti pas, tidak kurang tidak lebih. Pasti!”

Saya pribadi sangat yakin dengan konsep ini. Kalau temen-temen bisa menangkap konteks dari dua cerita saya diatas, adakah yang kebayang klo berakhir dengan ending tidak jadi? Lha wong saya sendiri sebagai aktor utama dulu aja gak kebayang :)) Simpel, caranya sama, mekanismenya sama, semua prosesnya sama, cuma orangnya aja yang beda..See? Masih ngeyel klo rezeki itu ada ditangan kita?

Banyak orang membayangkan pindah kerja, rezekinya akan makin banyak. Banyak orang melihat temen-temen satu angkatannya lulus dulu, iri dengan posisinya sekarang, iri dengan status jabatan di perusahaannya, iri dengan gelar S2 atau S3, lalu berandai-andai, “Kalau saja dulu ane apply kesana..”. “Kalau saja gua dulu langsung S2….” dan seterusnya, merasa yakin betul hidupnya akan berubah.

Gaji mungkin lebih tinggi tapi tidak dengan rezeki. Jabatan atau gelar mungkin bisa didapati, namun tentang rezeki itu beda lagi.

Kenapa bisa berbeda? Disinilah letak keberkahan yang harus kita cari…Keberkahan yang melahirkan kebaikan-kebaikan yang tak kunjung berhenti, keberkahan yang terus menjaga kita untuk tetap bersyukur dan mawas diri..Karena hanya keberkahan sejati lah yang dapat memberikan ketenangan hati..

Terimakasih sahabat, telah mengajarkan makna keberkahan yang harus terus kucari 😉


​Kejadian 1:

Ditinggal ‘cuti mendadak’ oleh seorang sahabat di kantor yang membutuhkan backup untuk handle project-project yang dipegangnya. Pada intinya ada sebuah mission yang ‘almost impossible’ untuk menyiapkan sebuah admin training project sebuah perusahaan nasional ternama, dalam waktu semalam!

Awalnya hampir berpikir ini tidak mungkin dan berpikir untuk excuse, mengundurkan lagi jadwalnya dengan klien dengan berbagai macam alasan yang bisa dicari-cari.

Tapi dengan sebuah keyakinan dan mental untuk MEMULAI, bismillah… Somehow, akhirnya dengan usaha semalaman, bantuan seorang rekan yang men-develop websitenya, bantuan sebungkus kwetiau yg dibelikan seorang rekan yg ikhlas, dan tentu karena izin Allah, akhirnya bisa menguasai sistem dan menyiapkan semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Alhamdulillah 😀

Kejadian 2:

Ketemuan dengan kliennya jam 9 pagi, baru caw dari kantor abis begadang jam 7.30. Perjalanan ke rumah, beres2 diri dan rumah, dan berangkat lagi ke stasiun Depok Baru tepat pukul 8.

Meanwhile, kereta arah Jakarta Kota datang. Agar tidak terlambat meeting harus naik kereta ini karena tujuannya ke stasiun Juanda. Posisi badan masih baru selesai banget naro motor di parkiran ‘tidak resmi’ diluar stasiun, sedangkan kereta yang ingin dinaiki ada didalam stasiun (yaiyalah) dan diseberang alias harus naik turun tanggal dulu lewati jalan bawah tanah untuk bisa naik.

Sampe gak ya kira2?” 

Baru saja berpikir tapi refleks badan langsung lari aja untuk ngejar kereta.

Udah mulai ngos2an masuk stasiun, muncul lagi pikiran,

Udah lama tuh kereta berhenti, bentar lagi pas jalan..udah jalan aja ga akan kekejar.

Masa bodo, badan ini terus berlari di stasiun Depok Baru, turun tangga, lari lagi.

Pas naik di seberang kaki udah mulai kram (maklum belum pemanasan udah sprint :p), muncul lagi pikiran,

Belagu amat sih dibilangin, nih udah lama banget keretanya berhenti, abis ini jalan nih liat aja. Udah berhenti, napas aja, ikhlasiiin..

Tiba-tiba orang ini teringat pengalaman sebelumnya, belum lama ini dia juga berusaha mengejar seperti ini dan ending-nya….pintu ditutup pas dia sudah sampai persis di depan pintu kereta.

HUUSSH…pokoknya maju terus! Dan orang ini terus berlari, beberapa meter lagi, pintu masih terbuka…sesudah sampaikan di depan kereta dan akhirnya…………pintu tertutup.

*Gak ding becanda pintunya masih tetap kebuka, harus happy ending kan? 😉

Akhirnya sampai kereta, napas udah gak tau ada dimana, kaki udah gemeteran…tapi ucapan tahmid, “alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah” terus membasahi bibir di sepanjang perjalanan. Alhamdulillah.

***

Ya, terkadang memang Allah ingin melihat kita berusaha di titik maksimal dan menginginkan kita lebih bersyukur atas apa nikmat telah yang diberikanNya 🙂

Selamat pagi untuk semuanya, untuk yang sedang ulang tahun, terutama untuk yang akan naik ke meja operasi hari ini, bismillah dan bersemangat! :”D
*meracau singkat di dalam kereta di grup WA temen-temen Badr, 24 Agustus 2016. Menyemangati seorang sahabat yang sedang diuji Allah saat ini untuk ‘naik level’ lebih tinggi lagi 🙂

Tentang KPR dan ‘Ngontrak’


16 Juli 2016 21.25

Disuatu hari, sebuah diskusi panjang lebar antara dua orang via WA tentang cara ambil KPR, tips-tips, dan sebagainya.

X : Gimana cara dapat DP-nya, gimana cara bayar cicilan yang sesuai dengan rumah inceran kita. Hehe..puyeng yak :”””)

Y : Hehe…ya begitulah. Terakhir kalau boleh saya mau nyampain sesuatu, boleh diterima atau tidak. Sebenarnya ada beberapa temen-temen saya (dan itu tidak sedikit) yang sering tanya-tanya dan konsultasi beratnya cicilan KPR, masih harus ngelunasi hutang DP, dsb.

Dulu saya memang termasuk org yang saklek ‘harus punya rumah’, tapi pada akhirnya saya menemukan realitas ternyata banyak juga keluarga temen-temen yang jadi kurang harmonis karena kesulitan finansial, dari uang belanja gak cukup karena cicilan atau punya hutang disana sini untuk nutup hutang DP karena terlalu dipaksakan KPR dengan harga rumah yang relatif tinggi. Banyak yang ambil KPR konven, di tahun ke-2, 3, dst pada ‘menjerit’ karena tidak hanya terjebak dalam transaksi riba tapi juga karena harga cicilannya yang semakin menjulang dan tidak terjangkau.

Saya cuma ingin menyampaikan, menurut saya sebenarnya nggak harus-harus banget kok kita punya rumah dalam waktu dekat. Klo ada rezeki ya alhamdulillah, klo belum dulu juga insya Allah tidak apa-apa. Saya pernah ngontrak 2 tahun dan rasanya bahagia-bahagia aja alhamdulillah, gak jauh berbeda dengan sekarang yang udah nyicil rumah ke bank. Serius. Kalau dihitung-hitung 1-2 tahun saja ada aja cost yang harus dikeluarkan kalau punya rumah sebelas duabelas dengan ngontrak, seperti benerin genteng bocor, tandon air rusak, saluran mampet, WC/sumur resapan penuh, dsb sekarang kan udah gak bisa minta tolong dibayarin ibu kontrakan 😀

Pun yang sudah ‘punya’ rumah juga bisa diambil sama Allah kapan saja dengan (naudzubillah) kebakaran, bencana alam seperti longsor di Purworejo kemarin misalkan yang meratakan rumah dan tanah sekian banyak desa. Rasanya SHM, IMB rumah yang kena musibah pun sudah tidak berarti lagi. Siapa yang menduga? Siapa yang bisa mencegah? Karena semua memang kembali sesuai konsep rezeki yang sama-sama kita ketahui. Semua sudah dijamin, akan muncul dengan konteks dan waktu yang tepat, dan akan ada ketika kita mengusahakannya.

Masalah ngontrak dan KPR biasanya ‘cuma’ masalah manajemen hati. Biasanya karena ga enakan sama camer / mertua, calon istri / istri, atau jiper sama temen-temen yang sudah dapat rezeki KPR bahkan beli cash keras duluan. Akhirnya, langsung deh berasa rumput tetangga selalu lebih hijau dr rumput sendiri 🙂

Maka bersyukur menjadi poin yang penting, mampu menakar diri, dan tidak berlebihan dalam memaksakan kehendak diri.

Filosofi Mencuci Piring


11 Juli 2016 jam 06.00. Ya, diantara semua pekerjaan rumah tangga, bagi saya memiliki kesan masing-masing. Oh iya, tulisan ini tidak dibuat dalam rangka pencitraan bahwa saya banyak melakukan pekerjaan di rumah. Sepagi apapun saya bangun, sehebat apapun apa saya melakukannya, istri saya tetap tak terkalahkan dalam hal ini 😀 Sebut saja mencuci piring, mencuci baju, menyuapi anak makan, menyapu, mengepel, sampai pekerjaan domain ‘bapak-bapak’ seperti naik-naik genteng, paku-paku sesuatu, dan sebagainya. Tapi buat saya, pekerjaan rumah yang lebih sedikit saya lakukan daripada pekerjaan di luar rumah ini, selalu memiliki nilai dan hikmah tersendiri dalam pengerjaannya.

Dulu, diantara semua hal diatas (kecuali turunan pekerjaan setelah menikah) awalnya saya merasa mencuci baju adalah pekerjaan terberat sepanjang hidup saya (halah), apalagi kalau sudah menggunung, strategi yang digunakan pun semakin pragmatis : rendem yang lama pakai air detergen dan kucek seadanya alias di-‘injek-injek’ :p

Alhamdulillah, berkat adanya teknologi bernama mesin cuci, painfulness mencuci baju sudah jauh lebih berkurang. Ya, walaupun pakaian bayi, bekas eek dan ompol memang tetep harus dikucek, tapi insya Allah sudah cukup diringankan. Justru hari ini, saya merasa ada satu buah pekerjaan menjadi lebih berkesan yaitu : cuci piring.

Berawal dari ba’da lebaran kemarin, saya menghadapi cucian piring yang ‘menggunung’. Dan seperti yang diketahui lebaran memang sejak dulu berteman akrab dengan opor ayam, sayur labu, sambal goreng hati dan kentang, pokoknya yang banyak minyak dan santannya. Jadi, dalam sesi mencuci kemarin tidak hanya piring dan gelas kotor saja, wajan dan panci berminyak dan bersantan pun tidak absen dari checklist item yang harus dicuci. Ba’da lebaran biasanya juga tempat sampah penuh-penuhnya, lubang saluran air di bak cuci piring juga kotor-kotornya, dan semua tampak……menarik untuk ditinggalkan 😀

Ada beberapa filosofi hidup yang menarik (setidaknya bagi saya) dalam kegiatan cuci-mencuci piring ini yang ingin saya tulis disini agar saya tidak lupa, bahwa saya pernah memikirkan ini 🙂

1. Memiliki Mentalitas Menyelesaikan Masalah
Ini memang selalu menjadi hal yang klise tapi pengalaman saya membuktikan inilah yang menjadi pembeda orang yang mau menyelesaikan masalah atau tidak. Setidaknya dalam masalah mencuci piring :p Saya pikir semua orang pasti tidak suka dengan cucian kotor, tapi tidak semua orang tergerak untuk menyelesaikannya. Sebagian besar memilih untuk berprasangka baik bahwa akan ada ‘orang baik’ selain dirinya yang akan menyelesaikannya. Atau seringkali kita merasa tidak cukup bisa mengerjakannya, dengan ribuan alasan takut gak bersih lah, takut piringnya jatoh, dan sebagainya. Orang yang selalu punya alasan, pasti tidak akan pernah bisa belajar dan memperbaiki dirinya.

2. Kejelian dalam Mengurai Masalah
Biasanya dalam menghadapi cucian piring segunung, penting untuk memiliki kemampuan mendekomposisi masalah. Tujuannya selain agar kita dapat menyelesaikan masalah tersebut, kita juga dapat menuntaskannya secara efektif. Dalam konteks mencuci piring biasanya saya mengklasifikasikan cucian menjadi : cucian sulit, cucian besar, dan cucian gampang. Cucian sulit biasanya yang butuh waktu nge-rendem lebih lama seperti tempatnya magicjar (karena nasi masih nempel), panci atau wajan yang berminyak / bersantan, dll biasanya dipisahkan dulu. Cucian besar biasanya sejenis baskom, panci tapi bekas rebusan air atau sayur non-santan, cucian gampang yaa sejenis piring, sendok, gelas, dan kerabatnya. Hikmah dari ‘mengurai’ cucian piring adalah kita bisa mendapatkan secercah harapan (halah), semangat positif bahwa kita bisa menyelesaikannya. Karena yang bikin cucian menggunung biasanya panci ditaro bawah, diatasnya dikasih wajan, diatasnnya lagi ditambah piring, gelas, dlsb. Padahal kalau diangkat panci dan wajannya, gak menggunung-menggunung banget cuciannya. Ya, karena seringkali akar permasalahan tidak selalu sebesar yang kita takutkan. Gak kebayang bisa nyicil rumah, padahal akar permasalahannya gak tau cara-caranya, udah jiper duluan sama harga rumahnya aja. Susah dan ngerasa gak mungkin bisa QL dan subuh berjamaah kalau gak Ramadhan, padahal pokok masalahnya adalah tidurnya selalu kemaleman diatas jam 11, gimana bisa QL bahkan subuh berjama’ah? Ya, kuncinya pada ketenangan, waktu untuk berpikir, dan kejelian dalam menguraikannya.

3. Keberanian untuk menghadapi bagian tersulit
Dalam menjalani sesuatu pasti ada bagian tersulitnya. Kalau dalam cuci mencuci, saya paling sebel kalau harus merogoh-rogoh kotoran dan bekas makanan yang ada di lubang cucian piring. Wujudnya biasanya sudah tak berbentuk, lembek-lembek geli dan berdenyut (lha?). Apalagi bagian lubang pembuangan bak di rumah saya bukan yang bisa dicopot, jadi literally harus diobok-obok dan dibersihkan dengan tangan! Pekerjaan yang mau ga mau harus dilakukan karena kalau tidak airnya ga bisa keluar ke saluran pembuangan.
Memang tidak ada kata lain selain, bismillah dan …… *rogoh-buang, rogoh-buang*. Jijik? Jelas. Geli? Pasti. Trauma? Bisa jadi. Tapi memang itulah bagian dari perjuangan. Akan ada masanya kita akan bertemu dengan titik itu dalam rentang kehidupan kita. Bisa saja kita lari, tapi kita tidak akan pernah bisa menyelesaikannya. Kayak mata kuliah ngulang aja deh, mungkin kita bisa ga mau ngulang di semester ini karena masih trauma atau gak mau ketemu pak dosennya, tapi kita pasti akan ketemu lagi di semester depannya. Gak diambil lagi, akan ketemu lagi di semester depannya. Sampai kita mengambil dan gently menyelesaikan mata kuliah tersebut dengan baik.

4. Terkadang Butuh Beberapa Kali Usaha Untuk Menyelesaikan
Panci berminyak dan bersantan mustahil bisa bersih dalam sekali bilas (kecuali pakai Sunlig*t, lha malah ngiklan xD). Pasti dalam gosokan pertama gak langsung hilang. Mungkin butuh gosokan kedua, ketiga, keempat, atau kelima baru bisa memudar nodanya. Jadi gak usah ngerasa lebay kalau baru coba sekali kompetisi gak menang mundung, baru pitching satu dua kali ke investor gak dapet investasi udah mundur teratur takut bikin startup. Persistence. Bahasa jawanya istiqamah. Istiqamah pasti berat, karena kalau ringan namanya istirahat.

5. Akan Semakin Mudah Bila Kita Sudah Menjalaninya
Satu dua piring tercuci, dua empat wajan terbilas, pasti meningkatkan adrenalin kita untuk terus melakukannya, untuk semangat menuntaskannya. Begitu memang kebaikan, akan selalu terasa lebih mudah ketika sudah dimulai. Makin mudah lagi kalau sudah setengah jalan. Ngafal Qur’an pasti gak akan pernah kebayang sama orang yang belum konsisten tilawah sehari minimal 5 lembar, pasti bawaannya udah gak mungkin aja. Tapi kalau sudah dimulai insya ALlah akan dimudahkan. Seperti hadist qudsi berikut,
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : Allah Azza wa Jalla berfirman : “Barang siapa berbuat kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan yang semisal dan terkadang Aku tambahkan lagi. Dan barang siapa yang berbuat keburukan, maka balasannya adalah keburukan yang serupa atau Aku mengampuninya. Barangsiapa mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari. Dan barang siapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula””.(Shahih Muslim, hadits no 4852).

6. Kebahagiaan Hakiki : Menuntaskan dengan Baik Apa yang Diamanahkan Kepada Kita
Finally, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada cucian piring yang sudah tersusun rapi di rak piring dalam keadaan bersih. Pasti menyenangkan ketika kita berhasil menyelesaikan sesuatu dan tidak hanya sekadar ‘selesai’ namun juga selesai dengan hasil yang baik bahkan sangat baik. Memunculkan kebaikan untuk diri sendiri dan memberikan dampak kebaikan pula untuk orang lain.

Panjang juga ya postingan tentang cucian piring begini aja. Postingan mah gak usah susah-susah, dulu juga saya pernah nulis tentang mesin cuci yang begitu doang :)) Note to my self, immediate-self improvement.

Immediate-Self Improvement


8 Juli 2016 jam 00.07. Bismillah, akhirnya saya memutuskan untuk mengaktifkan blog ini lagi insya Allah.

Dalam model perbaikan diri yang pernah saya pelajari dulu di PPSDMS Nurul Fikri, dalam memperbaiki diri setidaknya kita akan berhadapan dengan tiga proses berikut secara sekuensial. Self Awareness – Self Acceptance – Self Improvement. Kapan-kapan saya ingin menulis tiga prinsip ini agak panjang, tapi singkatnya saya mau cerita sedikit buat yang belum pernah denger.

Self Awareness berarti proses ‘tau diri’. Tidak ada cara lain untuk bisa ‘tau diri’ selain dengan cara melakukan komparasi diri kita saat ini dengan sesuatu. Setidaknya ada empat cara untuk melakukan komparasi diri.

  1. Komparasi diri dengan Standar Ideal
  2. Komparasi diri dengan Kita di Masa Lampau
  3. Komparasi diri dengan Orang-orang lain yang memiliki starting point yang tidak jauh berbeda (umur hampir sama, angkatan tidak jauh berbeda, dlsb), atau
  4. Komparasi diri dengan Visi Diri Kita Kedepan

Bagi saya keempatnya caranya tersendiri yang manjur untuk menampol diri saya. Sediakan waktu-waktu berfikir untuk men-defrag kembali otak kita, memetakan ulang aktivitas kita, menyadari apa saja hal yang penting namun selama ini luput kita kerjakan. Output terpenting dari proses refleksi ini tentu saja : tau diri. Tau diri kalau abis Ramadhan QL-nya ngos-ngosan lagi, tau diri kalau sedekahnya udah makin pelit lagi, tau diri kalau tilawah dan muroja’ah-nya mulai bolong-bolong lagi, dan seterusnya (itu mah saya ya)

Proses kedua adalah Self Acceptance. Menerima apa yang sudah sudah kita evaluasi sebelum dengan sebenar-benarnya adalah kesalahan diri kita seorang diri, tanpa excuse apapun! Seringkali banyak orang yang merasa sudah self acceptance tapi masih nyalahin faktor eksternal, cari excuse mulu kerjaannya.

Iya, saya ngerasa banget Ramadhan kemarin gak optimal..tapi ya gimana lagi kemarin jadwal di kantor unpredictable banget..

Mohon maaf ya Pak, Bu ndak bisa mudik…buyung jatah cutinya udah habis, uang beli tiket juga udah kepake buat bla bla bla..

Maaf ustadz, cuma bisa setoran tiga ayat aja…ini salah ana ustadz, kemarin ibu satu pekan minta diantar silaturrahim ke saudara-saudara terus…

Saya masih inget pesen Pak Arif Munandar dulu, kalau masih tetap mengakui kesalahan tapi masih bawa kata-kata ‘tapi’, ‘gimana lagi’, dan semua saudaranya tersebut..Jangan bermimpi akan ada perubahan!

Proses terakhir yang bernama self improvement, tentu adalah call to action dari perbaikan itu sendiri setelah menjalani proses self awareness dan self acceptance. Namun dalam praktiknya self improvement ini perlu ditambahkan satu kata didepannya : ‘immediate-self improvement‘. Karena kita manusia, maka self awareness dan self acceptance ada masa kadaluarsanya. Karena selalu ada hal-hal yang menjadi ‘penggoyah’ baru semangat perbaikan kita, belum lagi intervensi syaithan yang tentu punya kepentingan lebih untuk menggagalkan perbaikan diri kita.

*ternyata panjang juga cerita beginian* 😀

Ya, pada intinya pada saat Ramadhan lalu saya menemukan sebuah momen sekaligus menjadi trigger yang cukup kuat untuk memperbaiki diri, kematian salah satu sahabat terbaik saya di Fasilkom UI angkatan 2007, Alm. Enrico Budianto. Kalau saya nulis tentang Enrico seperti saya duluuu banget pernah nulis tentang Jay di tulisan ini, mungkin bisa gak habis satu tulisan ini untuk menulis seberapa hebatnya beliau. Alumni SMAN 8 Jakarta, IPK tertinggi kedua se-UI di angkatan saya, kerja di salah satu perusahaan bonafid untuk anak Fasilkom UI, PHD Candidate di NUS Singapore di umur beliau yang masih belum sampai 27 tahun, bahkan terakhir sedang menjalani masa internship di Intel, USA. Enrico benar-benar punya semua syarat untuk jadi orang sukses. Beliau juga salah satu penggiat dakwah di Fasilkom dulu, salah satu yang memperjuangkan DAF (Dauroh Awal Fakultas) bisa dilakukan di luar kota lagi. Alhamdulillah, saya bisa ikut serta menshalatkan beliau dan memakamkannya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu…

Sepulang dari pemakaman beliau, saya sadar betul, Allah bisa saja memanggil saya kapanpun. Maka saya ber-azzam pada diri saya sendiri empat hal.

  1. Harus rekap semua hutang piutang yang teringat dan share catatan tersebut ke istri
  2. Belajar kaifiyat merawat jenazah (dari empat proses yang wajib, seluruh sunnah-sunnahnya, doa, dlsb) guna menyiapkan sebaik-baiknya untuk diri sendiri maupun keluarga
  3. Belajar dari alm. Enrico yang memiliki sifat kesungguhan dalam belajar dan bekerja keras dalam apapun. Maka saya bertekad untuk meneladani semangat beliau kembali.
  4. Menulis catatan, peristiwa, dan hikmah kehidupan, berharap menambah amal jariyah yang masih sangat jauh. Memang sepele, penting gak penting, tapi setelah dipikir-pikir, apalagi yang bisa ‘berbicara’ setelah kita wafat selain tulisan yang kita tinggalkan? Daripada gak nulis sama sekali?

Alhamdulillah satu dan dua sudah dilakukan, dan terus dilakukan. Tiga, insya Allah sedang dan terus diproses. Long live struggle. Empat, mudah-mudahan postingan ini menjadi immediate-self improvement yang bisa lakukan hari ini, dan berlanjut konsisten setelahnya.

Karena Kita Hidup untuk Berjuang!


Tantangan di setiap fase hidup memang beda-beda ya..

Dulu waktu jaman-jaman SMA, berjuangnya gimana caranya bisa masuk PTN. Semua carapun dijabanin dari belajar tiap malem, ikut bimbel, ikut tryout sana sini, jajal tes-tes PTN yang ada, semua-muanya deh dijajal untuk impian yang satu ini.

Masuk kuliah, let say, di terima di fakultas yang didamba. Seneng? Pasti. Sudahkah happy ending? Boro-boro..Welcome to the jungle! *ini serius lho, UI kan emg bener2 hutan :D*

Kini kita dihadapkan dengan dunia baru yang serba mandiri, menuntut keaktifan, keuletan, dan kesungguhan yang tinggi. Belum lagi yang bergelut dengan.dunia organisasi, jangan harap bisa hidup tentram..Tapi ingat saja kaidahnya, “High risk high return, low risk low return.” 🙂

Kuliah, organisasi, kuliah lagi, bantu2 orang, jatuh bangun mempertahankan finansial, tiba2 kejatohan amanah lagi, hingga skripsi..and finally wisuda! Menjadi raja dan ratu sehari, mendapati ratusan senyum kebahagiaan, puluhan bunga, ucapan selamat baik langsung atau via sosial media bak bidadari. Ya, hari yang sangat menyenangkan!

H plus satu wisuda, ketika kita membuka mata keesokan harinya, sudahkah selesai? Tentu saja, tidak. Perjuangan baru saja dimulai saudara, selamat datang di dunia paska kampus! Dunia paling galau seumur-umur. Begitu banyak pilihan: lanjut kuliah langsung atau masih ingin idealis membangun usaha bareng temen sekampus, atau membuang semua angan itu dan hunting-hunting kerjaan aja seperti alumni yang lain? Apapun pilihannya yang pasti harus mandiri, sebisa mungkin menabung untuk bahagiakan orangtua, investasi, dan tentu saja..menikah.

Dua bulan paska menikah. Ya, ahirnya punya istri, tinggal di sebuah kontrakan mungil bersama dengan ibu. Cukupkah sampai disini? Sekali lagi tentu belum sampai disini. Perjuangan baru pun dimulai untuk membahagiakan keduanya, menyiapkan kehidupan yang layak untuk keluarga kecil kami..

Sekarang tantangan KPR yang berada di depan mata. Pertama kali mengambil resiko berhutang ratusan juta ke bank, berbingung-bingung ria dengan bagaimana cara bayar DP nya, dan seterusnya dan seterusnya..

Dan beberapa hari ini pun dikejutkan dengan hadiah Allah pada kami berupa ‘si kecil’ yang sudah ada di perut ummi-nya..Artinya harus bersiap dengan segala biaya untuk USG janin, kontrol kandungan, segala nutrisi untuk ibu hamil, biaya persalinan, hingga membesarkannya hingga dewasa kelak..

Ya, karena kita hidup untuk berjuang bukan? 🙂

Gambar

Yap, berpikir dengan tenang saja.seperti biasa. Niatkan dan lakukan seperti biasa saja, sisanya serahkan pada Allah, mudah saja bukan? 🙂

Rabu, 6 Maret 2013
23.46 WIB

*akhirnya bisa nulis lagi setelah menunggu beliau terlelap..Sst, doakan kami ya 😉

Kilas Balik Paska Kampus (2): Bahagia!


“Kebahagiaan hakiki adalah ketika kita terkoneksi dengan Allah! Salah satu cirinya adalah apabila keinginan kita sejalan dengan takdir Allah..

“Ketika kita ingin masuk kampus ini, kita ditakdirkan Allah masuk ke kampus tersebut..Ketika kita ingin bekerja di perusahaan ini dengan gaji segini, Allah takdirkan kita bekerja disana..Ketika kita ingin berjodoh dengan ikhwan/akhwat ini, maka Allah jodohkan kita dengannya..”

“Dan orang-orang yang terkoneksi dengan Allah, bila apa yang ia citakan tidak baik dimata Allah, maka dengan sangat halus, Allah akan belokkan keinginan kita dengan indah, lahirkan rasa nyaman, bahagia itu, sesuai dengan apa yang ia takdirkan pada kita. Inception.”

Deg! Nasihat Pak Deddy Nordiawan saat kultum di kantor Badr Interactive Ramadhan lalu terasa telak sekali bagi saya saat itu. Nasihat tersebut secara refleks meletupkan memori-memori itu kembali.. Continue reading

Kilas Balik Paska Kampus (1): Bersyukur


“Mari kita sambut perwakilan sambutan wisudawan, Saipul!”

Tepuk tangan dan suara wisudawan dan para undangan menggemuruh saat itu. Saipul yang awalnya duduk santai-santai saja dengan toganya, mendadak panik. Sejak awal dia memang tidak mengira mendapatkan kehormatan ini, karena banyak rekan satu angkatannya yang sebenarnya jauh lebih pantas dibanding dirinya. Dari Si A yang kemarin saat wisuda UI di Balairung didaulat menjadi IPK tertinggi se-UI. Atau Si B yang menjadi mahasiswa berprestasi Fasilkom UI tahun ini bahkan menduduki peringkat 4 di tingkat UI. Atau rasanya orang-orang lebih ingin mendengar orasi si C yang dulu menjadi ketua BEM Fasilkom UI di masanya. Atau si D yang Abang Jakarta, si E yang juara ini juara itu, atau rekan-rekan wisudawan lainnya yang jauh lebih prestatif darinya. Namun apa daya, nasi pun sudah menjadi bubur, mari kita buat sekalian bubur ayamnya. Begitu kata Aa Gym. Continue reading

Maaf dan Terimakasih


Ya, hanya ingin mengucapkan maaf sebesar-besarnya untuk  semua yang pernah mampir di blog ‘meracau’ saya ini, karena sudah lamaaa sekali tak pernah diapdet lagi.

Untuk semua yang komentar, namun belum sempat terbalas..semua yang pertanyaan yang belum terjawab, untuk tampilan blog yang masih begitu-begitu saja, dan untuk yang (mungkin) menunggu postingan terbaru, namun masih terpapar tulisan-tulisan lama saja.. 😦

Dan terimakasih untuk semua apresiasi baik via email, sms, pertemanan di facebook dan twitter, bahkan langsung..Serta semua bentuk silaturrahim yang berawal dari blog ini..Semoga ada kebaikan dan manfaat dari tulisan-tulisan ala kadarnya ini, walaupun hanya sedikit.

Bersemangaaat! #gerakanMenulisLagi #pasangIkatKepala 😀